5 Fakta Pinjaman Online yang Seharusnya Disadari Sebelum Berutang

Apakah kita tidak boleh berutang? Oh, tentu saja boleh. Utang bisa membawa manfaat besar dalam hidup kita. Hanya saja, kita perlu punya bekal pemahaman yang cukup mengenai utang, kalau ingin bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Apalagi kalau mau utang di pinjaman online. Karenanya, penting bagi kita untuk paham cara kerja dan beberapa fakta pinjaman online, agar kita tidak ‘dengan sengaja’ melilitkan diri pada cara ini.

Kok melilitkan diri sih?

Yah, namanya manusia. Seberapa pun uang yang dimiliki, akan selalu kurang adanya. Hal ini dialami dan dirasakan oleh kita semua. Hanya saja, ada yang sudah bisa mengendalikan diri dengan baik--dengan mengelola keuangan pribadinya secara bijak. Tapi, banyak juga yang belum terampil.

Sebagian besar orang memang mengharamkan berutang dari pinjaman online. Sebagian lagi yang lain terpaksa (dengan sukarela) membelitkan diri pada pinjaman online, bahkan yang ilegal karena terdesak oleh berbagai kebutuhan. Sebagian lagi yang lain, tergiur oleh iming-iming kemudahan dan kepraktisannya dalam pencairan dana, yang tidak bisa diakomodasi oleh lembaga keuangan konvensional.

Apa pun tentang pinjaman online, ada baiknya kita tahu beberapa fakta yang ada di baliknya agar tahu bagaimana menyikapinya dengan bijak.

Fakta-fakta Pinjaman Online

1. Nggak semua ilegal dan 'jahat'

Perlu kamu ketahui ya, bahwa tak semua pinjaman online itu ‘jahat’. Ada kok yang memang semata-mata berbisnis di bidang keuangan. Karenanya, mereka juga memiliki etika bisnis yang bagus juga.
Fakta pinjaman online satu ini harusnya kamu sadari sejak awal, sejak kamu memiliki niat untuk mengambil pinjaman pada fintech-fintech yang ada; mana yang ‘nakal’ dan mana yang enggak.

Karena faktanya memang banyak yang berdiri untuk memberikan solusi pada kebutuhan orang-orang pada umumnya, dan memang bisa diambil manfaatnya--ketika kita paham bagaimana cara kerjanya dan bijak mengelolanya.

So, kenali mana yang ilegal dan sebaiknya jauhi. Ada beberapa ciri yang dengan mudah dilihat dari pinjaman online ilegal ini, di antaranya:

  • Tidak terdaftar atau tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan
  • Syarat dan ketentuan yang rumit dan enggak jelas, terutama terkait cara kerja, bunga, tenor, dan sebagainya.
  • Identitas yang juga kurang meyakinkan.
  • Bunga tinggi--lebih dari 1%--dan terakumulasi harian, dengan penerapan bunga berbunga dan denda berbunga.
  • Aplikasi mencurigakan, enggak hanya meminta akses ke kamera, mikrofon, dan lokasi, tetapi juga meminta akses ke daftar kontak bahkan aplikasi pesan instan.
  • Aplikasinya enggak ada di PlayStore atau AppStore, malahan dikasih sama perusahaan fintech-nya dalam bentuk file .apk yang dikirim via email atau SMS.

Jika kamu menemui fintech yang memiliki ciri seperti di atas, ada baiknya kamu mulai waspada deh. Pertimbangkan ulang niat utangmu. Kalau mungkin cari yang lain atau malah solusi yang lain selain utang pada mereka.

2. Ada aturannya

Saat fintech-fintech pinjaman online ini mulai muncul, memang tidak ada aturan khusus untuk menjadi pedoman operasional kegiatan “bisnis” mereka ini. Karenanya, banyak yang “seenak udel” dalam menjalankan bisnis dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari ketidaktahuan orang-orang yang membutuhkan solusi atas masalah mereka.

Fakta pinjaman online yang harus kamu ketahui adalah sejak tahun 2016, sudah ada aturan yang dibuat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang khusus berisi tentang aturan mengenai pendaftaran izin resmi fintech, mekanisme pengawasannya, hingga ada juga aturan perlindungan konsumen. Semuanya tertuang dalam POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Tak hanya para founder fintech yang harus mempelajari aturan-aturan ini, tetapi ada baiknya juga bagi kita--para (calon) pelanggan dan pengguna fintech--untuk tahu, agar mengerti cara kerja mereka. Supaya apa? Supaya tahu mana hal yang boleh dan tidak diperbolehkan dilakukan dalam operasional bisnis keuangan ini.

Dan, kalau tahu ada yang tidak diperbolehkan tetapi dilakukan ... nah, mari kita ke poin berikutnya.

3. Laporkan jika ada pelanggaran

Dengan paham aturan, kita akan tahu jika ada pelanggaran yang dilakukan. Kita bisa melaporkan adanya pelanggaran tersebut langsung pada yang berwajib berbekal pengetahuan kita akan peraturan yang sudah ada.

Fakta pinjaman online yang harus kamu ketahui adalah ke mana harus melaporkan ketika terjadi pelanggaran aturan atau hukum. Nah, ada beberapa jalan sehubungan dengan status fintech itu sendiri.

Jika yang melanggar aturan adalah fintech legal, maka kita bisa melaporkannya ke OJK supaya ditindaklanjuti sesuai peraturan yang berlaku. Namun, jika kamu mengalami teror oleh fintech ilegal, bukan OJK yang memiliki wewenang untuk menindak mereka, melainkan kepolisian. So, kalau misalnya kamu diteror oleh debt collector, merasa terancam, dan sebagainya, kamu bisa membuat melaporkannya pada polisi ya, bukan ke OJK.

Nah, jika dalam prosesnya kemudian muncul tindakan penyalahgunaan dan penyebaran data pribadi, bahkan hingga terjadi fitnah, maka ini termasuk dalam ranah Kemenkominfo. Kamu bisa melaporkannya melalui aduankonten.id.

4. Kemudahan dan kecepatan selalu berharga mahal

Suatu ‘privilege’--keistimewaan, keunggulan, kelebihan, solusi, atau apa pun namanya itu--selalu ada harganya. Dan biasanya juga enggak murah, karena enggak akan pernah ada yang namanya makan siang gratis.

Fintech menawarkan solusi cepat untuk kamu yang butuh dana cair kilat. Memang menggiurkan, bukan? Sayangnya banyak yang enggak sadar bahwa fakta pinjaman online satu ini juga ada ‘harga’-nya.

Apa ‘harga’ yang harus dibayar demi mendapatkan kemudahan dan kecepatan cairnya dana pinjaman online dari fintech? Bunga yang tinggi, tenor yang sempit, dan plafon pinjaman rendah.

OJK sebenarnya tidak pernah menyebutkan angka yang pasti sebagai pedoman suku bunga, tetapi mewajibkan pada fintech untuk mencantumkannya secara jelas dalam syarat dan ketentuan peminjaman dana. Dengan demikian, seharusnya sih, kita sudah aware akan angka suku bunga yang tinggi ini sejak awal ketika kita hendak meminjam.

Betul?

5. Keamanan privasi adalah tanggung jawab kita sendiri

Meski ada pasal-pasal yang mengatur mengenai perlindungan konsumen, tetapi sesungguhnya keamanan data pribadi kita tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Kita sendirilah yang bisa mengatur, kapan data diri perlu diberikan, untuk keperluan apa, sampai sebatas mana pemanfaatannya. Ketika aplikasi pinjaman online pertama kali kita unduh ke smartphone, saat itu mereka sudah ‘meminta izin’ untuk mengakses data diri kita. Saat itulah, seharusnya kita serius mempertimbangkannya.

Karena, memang begitulah cara kerja berbagai hal di dunia maya. Data diri kita menjadi komoditi yang sangat berharga. Aplikasi apa pun akan dapat mengakses data diri untuk berbagai keperluan, sesuai dengan apa yang kita izinkan begitu kita mengunduhnya. Semua aplikasi begitu; mulai dari Facebook, Instagram, WhatsApp, games, ojek online, aplikasi hiburan, dan tak ketinggalan, fintech pinjol, baik yang legal maupun yang ilegal.

Sadari akan fakta ini, dan jadilah manusia yang aware akan “harga” dari data diri pribadi kita masing-masing, sehingga tidak dengan mudah memberikannya pada pihak lain yang berpeluang untuk menyalahgunakannya. Jika memang terjadi penyalahgunaan, yang pertama kali disalahkan seharusnya memang diri kita sendiri. Bukan aplikasinya, bukan pula orang lain.

Ini bukan hanya sekadar fakta pinjaman online, tetapi fakta yang berlaku di dunia maya untuk aplikasi apa pun.

Jadi, bagaimana? Semoga beberapa fakta pinjaman online yang sudah dijabarkan di atas bisa menjadi tambahan pertimbangan untukmu ketika kamu berniat untuk meminjam dana dari fintech pinjol. Dengan sadar betul akan konsekuensinya, kita lantas bisa mengelola utang tersebut dengan lebih baik, dan mengambil manfaatnya untuk kebaikan hidup kita sendiri.