Trik Mengumpulkan DP Rumah untuk Pengajuan KPR

Punya rumah adalah prestasi, yang menunjukkan kemapanan dan kemandirian. Karena itu banyak yang dibelain untuk ambil KPR demi mewujudkan impian ini. Salah satu syarat agar KPR disetujui oleh bank adalah lunasnya DP rumah. Nah, ini biasanya juga jadi perjuangan tersendiri.

Mengumpulkan DP rumah bukan perkara gampang. Rumahnya sendiri juga bukan barang murah. Harga rumah sekarang di perkotaan sudah sampai ke angka miliar. Tapi, demand selalu meningkat juga dari tahun ke tahun. Bukti bahwa yang butuh juga semakin banyak, nggak peduli harga juga menanjak.

Semakin banyak yang sadar juga sih, bahwa properti merupakan aset yang sangat tinggi nilainya; nilai ekonominya stabil dengan harga yang cenderung naik dari tahun ke tahun. Begitulah adanya, hingga banyak yang memiliki rumah sebagai instrumen investasi, selain menjadi tempat tinggal.

KPR menjadi solusi buat kamu yang pengin memiliki rumah tetapi dana terbatas. Dengan fasilitas KPR ini, kamu bisa mengajukan dan kemudian menerima dana dari lembaga pembiayaan terpercaya yang kemudian bisa dipakai untuk membeli rumah impianmu. Dulu, prosedur pengajuan KPR lumayan ribet. Sekarang, via online saja bisa.

Tapi, tetap ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Kalau enggak, ya pengajuan KPR rumah bisa saja ditolak. Salah satu syarat yang mutlak dipenuhi untuk bisa mendapatkan KPR adalah beresnya DP rumah atau uang mukanya.

Berapa Besaran DP Rumah?

Pada dasarnya, berapa besaran DP rumah untuk bisa menjadi syarat pengajuan KPR diserahkan pada kebijakan masing-masing lembaga keuangan--dalam hal ini, bank--untuk menentukan, tetapi ada aturan dasar dari Bank Indonesia yang harus dipatuhi.

Nah, aturan Bank Indonesia ini sebenarnya bisa dilihat di sini. Tapi kalau mau diresume biar lebih gampang dibaca, poin dari aturan Bank Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Untuk rumah tapak di bawah 70 m2, BI tidak menentukan batas minimum besaran DP rumah. Bahkan kalau bank hendak membebaskan syarat DP rumah pun, boleh saja.
  • Untuk rumah tapak dengan luas 70 m2 ke atas, syarat minimal DP rumah adalah 20%.
  • Untuk rumah susun atau apartemen, di bawah 21 m2 tidak ada syarat minimal DP rumah.
  • Untuk rumah susun atau apartemen dengan luas 22 - 70 m2, syarat minimal DP rumah sebesar 10%.
  • Untuk rumah susun atau apartemen dengan luas lebih dari 70 m2, syarat minimal DP rumah sebesar 20%.

Aturan ini berlaku untuk pembelian properti pertama. Untuk rumah atau apartemen kedua, akan beda sedikit. Sila cek saja ke tautan yang sudah dilink di atas.

So, misalnya, kamu hendak membeli rumah tipe 70, dengan harga Rp500 juta. Ini artinya kamu harus menyediakan dana sebesar Rp100 juta.

Hmmm, Rp100 juta itu kan ya lumayan ya? Iya, buat yang sehari-hari cukup ngepas dengan berbagai kebutuhan lain yang juga perlu diprioritaskan.

Tapi DP rumah itu syarat wajib KPR, jadi mau enggak mau ya harus diusahakan. Terus, apa yang bisa kita lakukan?

Trik Mengumpulkan DP Rumah

1. Hidup superhemat

Yang pertama, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi pos pengeluaran yang kurang penting, dan mengusahakan hidup superhemat. Hanya membeli barang-barang yang esensial, yang memang benar-benar kita butuhkan sehari-hari, menghindari stockpiling, dan melakukan perhitungan cermat jika ingin menggunakan uang untuk kebutuhan tersier.

Sekarang saatnya hidup prihatin, demi cita-cita besar. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Kamu pasti bisa melakukannya.

  • Telusuri catatan pengeluaran, kenali pos-pos yang bisa dipangkas.
  • Buat anggaran dengan cermat, and stick to it.
  • Ingat pada asas “kebutuhan versus keinginan”.

Kalau memang pengin cita-cita ini segera terwujud, maka kita harus benar-benar fokus memprioritaskannya.

2. Manfaatkan cicilan DP rumah ke developer

DP rumah memang biasanya cukup berat, dan bisa menjadi kendala buat siapa saja yang berniat beli rumah. Dan developer--yang pengin bisnisnya terus jalan--biasanya juga punya taktik untuk mengatasi hal ini, demi lancarnya penjualan rumah.

Ada developer yang menawarkan fasilitas cicilan DP rumah, dan ini bisa kita manfaatkan.

Mekanismenya sebenarnya sederhana sih. Kita membayar DP rumah pada developer dengan cara mencicil selama jangka waktu dan jumlah tertentu, sesuai kesepakatan. Misalnya, 2 tahun. Selama itu, kita hanya berhubungan dengan developer. Baru ketika DP rumah sudah lunas, pihak bank tempat kita akan mengambil KPR akan berkomunikasi dengan developer terkait pelunasan DPnya.

Lumayan meringankan memang, tetapi ingat. Sistem pembelian rumah dengan cicilan DP dan kemudian dilanjut dengan KPR ini sudah pasti akan membuat harga beli rumah menjadi lebih mahal jatuhnya. Ya, enggak masalah kan, sepanjang kita memang sudah aware dan tahu bagaimana mengelolanya dengan baik.

Toh, pada akhirnya, rumah akan jadi aset pribadi kita juga.

3. Manfaatkan pinjaman lunak kantor, jika ada

Beberapa perusahaan memberikan benefit pada karyawan yang ingin memiliki rumah sendiri berupa pinjaman lunak untuk DP rumah. Kalau kamu kebetulan bekerja di perusahaan yang menawarkan benefit seperti ini, enggak ada salahnya juga untuk dimanfaatkan loh. Nggak semua perusahaan mempunyai benefit seperti ini untuk karyawan, sehingga jangan sampai disia-siakan.

Cermati dan pahami betul semua syarat dan ketentuannya. Berapa besar plafon pinjamannya, apa saja syarat pengajuannya, bagaimana sistem cicilan pengembaliannya, dan seterusnya, harus jelas di awal. Setiap perusahaan berbeda kebijakannya, so, take your time untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya.

4. Cari penghasilan tambahan

Persoalannya adalah bagaimana bisa menambah dana untuk DP rumah, dan sebisa mungkin enggak mengganggu arus kas rutin. Betul?

Kalau begitu, coba deh cari penghasilan tambahan. Be creative. Apa nih yang bisa dikerjakan di waktu-waktu luang? Apa hal yang menjadi minatmu atau keahlianmu? Cari peluang untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan darinya.

Enggak hanya tidak menambah beban keuangan rutin, dengan mencari penghasilan tambahan, kita barangkali juga bisa mempercepat dana terkumpul.

5. Sisihkan dari penghasilan tidak rutin atau tahunan

Buat karyawan, kadang menerima berbagai bentuk insentif atau bonus setiap tahunnya dari kantor, kan? Mulai dari THR, bonus penjualan dan bonus-bonus lainnya. Nominalnya bisa beberapa kali gaji rutin.

Sisihkanlah sebagian besar untuk dana DP rumah. Miliki rekening khusus untuk menampung tujuan keuangan satu ini, dan segera sisihkan dana ke rekening tersebut kapan saja ada rezeki tambahan.

6. Investasi

Menabung saja kadang tak cukup, apalagi untuk DP rumah yang nominalnya besar. Bisa bertahun-tahun, itu pun sudah kalah duluan dari inflasi.

Kita juga harus berinvestasi. Coba cermati instrumen mana yang cocok, karena ini ada kaitannya dengan horizon waktu, kapan kamu hendak membayarkan DP rumah sesuai target.

Kalau jangka pendek, maka kamu harus memilih instrumen yang relatif risiko kecil tetapi ini berarti imbalnya juga kecil. Kamu harus mulai dari nominal besar, agar target bisa tercapai. Contohnya deposito atau reksa dana pasar uang.

Jika masih cukup lama, misalnya 5 tahun, maka kamu bisa memilih instrumen investasi yang cocok untuk jangka menengah, seperti saham atau obligasi. Kamu juga bisa memanfaatkan reksa dana saham, reksa dana campuran ataupun reksa dana pendapatan tetap. Tapi, perhatikan bahwa instrumen investasi agresif akan sangat sensitif terhadap pergerakan pasar, sehingga risikonya lebih tinggi. Kamu harus aware akan hal ini juga.

7. Kurangi utang lainnya

Adalah bijak untuk mengelola utang dengan sebaik-baiknya, ketika kita punya tujuan besar untuk dicapai. Cicilan DP rumah, misalnya, dan kemudian KPR akan menyedot sebagian besar sumber daya kita dalam keuangan. Jadi, ada baiknya kamu mengendalikan utang yang lain.

Lebih baik, tak usah berutang dulu jika tidak benar-benar mendesak. Utang kartu kredit, utang KTA, utang arisan, utang panci, sebisa mungkin hindari dulu. Kalaupun sudah ada, coba pertimbangkan apakah bisa dilunasi sebelum kamu mengambil KPR dan harus DP rumah.

Yash, membeli rumah memang merupakan cita-cita besar. Tetapi, dengan niat yang besar juga dan semangat juang yang tinggi, siapa pun bisa kok memiliki rumah pertamanya sendiri.

Semoga sukses buat kamu ya!