Merencanakan Tabungan Pendidikan Anak: Step by Step dan Instrumen yang Paling Cocok

Ada yang punya anak segera masuk sekolah atau sebentar lagi harus meneruskan ke jenjang berikutnya? Well yes, pendidikan anak menjadi tanggung jawab bagi setiap orang tua. Dan, karena hal ini seharusnya sudah disadari betul sejak awal, maka ada baiknya setiap orang tua juga memiliki tabungan pendidikan anak.

Kebutuhan biaya pendidikan itu sangat besar, terutama di Indonesia. Belum lagi, setiap tahunnya pasti ada kenaikan sebesar 10 - 20%. Dana atau tabungan pendidikan anak ini merupakan salah satu tujuan keuangan terbesar, selain dana pensiun, karena bisa menjadi pengeluaran bertahun-tahun dengan nominal yang cukup banyak.

Tanpa perencanaan yang saksama, hmmm ... sepertinya akan sulit ya mencapai tujuan untuk bisa menyekolahkan anak di sekolah-sekolah impian.

Tapi yah, semuanya memang balik ke individu dan kebutuhannya masing-masing sih. Ada yang memang menargetkan untuk bersekolah di sekolah-sekolah negeri, memanfaatkan fasilitas pemerintah. Enggak ada salah dan buruknya juga kok. Apalagi sekarang, ketika pemerintah sudah berusaha keras untuk menyamakan kualitas sekolah negeri dengan sekolah swasta. Bahkan, di beberapa daerah, bangku sekolah negeri selalu menjadi rebutan.

Namun, tak sedikit pula yang memang sudah mengincar untuk bersekolah di sekolah swasta. Banyak sih pertimbangannya, dan tentunya setiap keputusan sudah dipertimbangkan juga dengan baik. Sekarang, tinggal membuat rencana keuangan yang realistis agar impian bisa menyekolahkan anak ke sekolah terbaik bisa terwujud. Salah satunya membuat tabungan pendidikan anak.

Beberapa Pertimbangan Sebelum Mulai Membuat Tabungan Pendidikan Anak

1. Hitung kebutuhan

FYI, menabung saja untuk dana pendidikan anak itu sebenarnya tidaklah cukup. Kita mesti mengiringi tabungan kita dengan investasi.

Tapi, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengetahui berapa jumlah kebutuhan kita. Kumpulkan data biaya masuk sekolah di beberapa sekolah incaran. Cara informasi sebanyak-banyaknya, dari berbagai sumber; website sekolah, media sosialnya, atau dari para orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah tersebut.

Ketika informasi sudah didapatkan, kita lantas dapat menghitung kebutuhan biaya sekolah dengan memperhitungkan kenaikan harga antara 10 - 20% tadi, untuk beberapa tahun ke depan sampai tiba waktunya anak kita masuk sekolah.

2. Tentukan horizon waktunya

Dari kebutuhan, kita kemudian tahu berapa lama lagi kita ada waktu untuk mengumpulkan tabungan pendidikan anak ini. Berapa usia anak sekarang, dan di usia berapa dana tersebut akan digunakan. Panjangnya horizon waktu dan seberapa besar kebutuhannya akan menentukan, instrumen tabungan pendidikan anak yang seperti apa yang seharusnya kita manfaatkan.

Kita bisa menyiapkan tabungan ini sekaligus dari mulai playgroup sampai kuliah. Atau mau bikin rencana per jenjang pendidikan, semua bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Misalnya, instrumen untuk tabungan pendidikan anak yang akan masuk ke TK 2 tahun lagi akan berbeda horizon dan kebutuhan dengan perencanaan pendidikan anak untuk strata satu, yang harus siap 15 tahun lagi.

3. Kondisi dan kemampuan kita selalu harus menjadi dasar penghitungan

Jadi begini, memang kita boleh saja membuat rencana sedetail apa pun, selengkap apa pun, dan sekomprehensif apa pun. Tetapi, akan selalu baik adanya jika semua bertitik tolak dari kondisi dan kemampuan masing-masing.

Maksudnya bagaimana? Akan ada peluang ketika gengsi orang tua turut berperan dalam perencanaan pendidikan anak ini. Misalnya, ada keinginan kuat orang tua untuk menyekolahkan anak ke sekolah tertentu demi bisa meningkatkan prestise di antara teman gaul atau teman arisan.

Nah, yang seperti ini sebenarnya sudah garis start yang kurang tepat. Memang betul, dengan perencanaan yang tepat, segala macam mimpi pasti akan bisa diwujudkan dengan banyak cara. Tetapi, kembali lagi, bukankah dalam hal ini nanti subjek yang akan menjalani prosesnya adalah anak-anak kita? Karenanya, kita harus menyesuaikan semuanya dengan kondisi anak-anak kita.

Sudah banyak kasus, karena gengsi orang tua, si anak lantas menjadi “korban” disekolahkan ke sekolah yang gaya belajarnya kurang cocok untuknya. Kalau hal ini sampai terjadi, bisa saja pada akhirnya akan kurang optimal hasilnya. Either anak yang stres karena kesulitan beradaptasi, atau orang tua yang depresi karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Jadi, akan lebih baik jika semua bertolak dari kondisi dan kemampuan masing-masing. Apa sih yang paling dibutuhkan oleh anak, sebagai pihak yang akan menjalani sekolah nanti? Ini yang terpenting, dan kemudian baru deh kita bisa membuat rencana keuangan untuk dapat mendukungnya meraih cita-citanya.

Betul nggak?

Memilih Instrumen Tabungan Pendidikan Anak yang Terbaik

Yep, meski istilah yang dipakai adalah “tabungan”, tetapi disarankan kita untuk lebih mengoptimalkan instrumen investasi di sini. Pilih instrumen yang tepat, dan kemudian kita bisa “menabung” sedikit demi sedikit, topup di setiap awal bulan agar bisa mencapai jumlah yang ditargetkan.

Beberapa instrumen yang bisa dimanfaatkan:

1. Emas

Emas merupakan instrumen yang cocok dimanfaatkan untuk jangka menengah hingga panjang. Jika proyeksi kebutuhan tabungan pendidikan anak ini setidaknya minimal untuk 10 tahun ke depan, emas memang bisa jadi pertimbangan. Tetapi ingat, harga emas tidak selalu naik ya.

Seperti sekarang, harga emas mencapai Rp1 juta per gramnya. Ini seharusnya jadi perhatian. Sudahkah emas mencapai titik puncak fluktuasi harga? Atau masih akan naik lagi? Tidak ada yang tahu.

Pantau terus harga emas, jika misalnya hendak menjadikan instrumen ini sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan dana pendidikan anak. Evaluasi terus harganya ya. Karena sesuatu yang naik, akan turun. Dan sesuatu yang turun, akan naik pada saatnya. Begitulah hukum investasi.

2. Deposito

Deposito merupakan instrumen investasi jangka pendek dengan tingkat risiko paling minim di antara instrumen lainnya, bisa menjadi kendaraan yang tepat jika target dana pendidikannya tinggal 2 atau 3 tahun lagi.

Yang perlu diperhatikan adalah perhitungan modal awalnya. Karena pendek, maka mungkin kita butuh modal yang cukup besar, jika kebutuhannya juga besar.

Beberapa orang memanfaatkan deposito untuk “mengamankan” dana investasi dari instrumen yang lebih agresif. Jadi, misalnya, sudah investasi di saham sekian lama. Lalu akan dipakai dalam setahun 2 tahun lagi. Maka, dana harus segera dipindahkan ke instrumen yang lebih aman. Deposito bisa menjadi pilihan.

Namun, jika hendak memanfaatkan deposito sejak awal mengumpulkan tabungan pendidikan anak, maka harus diperhatikan setoran awalnya, dan juga ilustrasi pencapaian dana ketika jatuh tempo. Sesuaikan, dan kalau memang sudah memadai, then go for it.

3. Reksa dana

Ada 4 jenis reksa dana yang bisa dipilih untuk menjadi instrumen tabungan pendidikan anak, yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. Masing-masing dengan karakternya sendiri, yang seharusnya sudah dapat kita kenali dan kemudian dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Instrumen paling minim risiko adalah reksa dana pasar uang, tapi imbal hasilnya juga minim. Instrumen paling agresif adalah reksa dana saham, dan sudah pasti diiringi dengan imbal hasil yang juga lebih besar, bahkan paling besar di antara keempat jenis reksa dana yang ada.

Yang mana yang paling baik? Tentu harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

4. Saham

Jika kebutuhan dana pendidikan anak ini masing sangat panjang, let’s say 10 tahun hingga 15 tahun lagi, maka saham bisa jadi instrumen yang paling tepat untuk dimanfaatkan. Terutama di masa seperti ini, ketika saham-saham perusahaan terbaik sedang diskon besar-besaran, bisa jadi pilihan yang tepat untuk dimanfaatkan.

Lakukan review secara berkala untuk melihat kemajuan investasinya; apakah sudah sesuai dengan target ataukah mesti diulik agar lebih optimal. Lakukan analisis fundamental yang saksama untuk bisa memilih saham mana yang paling baik untuk dibeli agar memberikan keuntungan di masa depan yang mencukup kebutuhan kita.

Akan butuh sedikit kecermatan dan ketelatenan untuk mengelola investasi saham, tapi percayalah, hasilnya pasti juga tak akan mengecewakan.

Nah, demikian sedikit tip untuk mengumpulkan tabungan pendidikan anak. Memang butuh beberapa step yang harus dilakukan dengan cermat agar dapat mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Tapi, untuk anak, apa sih yang enggak. Iya kan?