Dana Pensiun Lembaga Keuangan: Apa yang Harus Kamu Tahu?

Adalah wajar ketika kita bekerja demi bisa memenuhi kebutuhan. Dan, pastinya, manusia seperti kita ini juga punya batasan. Suatu kali nanti--kelak--kita akan harus berhenti bekerja, karena keterbatasan tenaga dan energi. Secara singkat: sudah tua. Tapi, di saat yang sama, kebutuhan kita tidak akan berhenti. Saat itulah kita akan butuh dana pensiun. Selain oleh pemerintah (dengan program Jaminan Pensiun), ada juga ditawarkan oleh perusahaan asuransi swasta yang disebut dengan Dana Pensiun Lembaga Keuangan, atau DPLK.

Nah, apakah kamu sudah familier dengan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan ini?

Belum? Nah, kalau belum, mari merapat. Karena Dana Pensiun Lembaga Keuangan ini bisa jadi opsi solutif buat kamu, sebagai alternatif atau tambahan dari Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua dari BPJS Ketenagakerjaan.

Kita akan berkenalan lebih jauh dengan DPLK ya.

Apa Sih Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Itu?

Dana Pensiun Lembaga Keuangan adalah dana pensiun yang dibentuk oleh institusi keuangan, seperti bank atau perusahaan asuransi, yang menyediakan program pensiun untuk perorangan (karyawan, pekerja lepas atau mandiri) baik untu pribadi alias diri sendiri, ataupun perusahaan bagi karyawannya, sebagai alternatif program dana pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan.

Kalau kamu saat ini berstatus karyawan perusahaan, seharusnya sih kamu sudah menjadi peserta Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Hari Tua (JHT), karena ini merupakan hal wajib bagi perusahana untuk mengikutsertakan karyawannya tanpa kecuali dalam program pensiun BPJS Ketenagakerjaan ini.

Nah, tetapi, kadang ada pertimbangan atau kebijakan lain yang kemudian membuat perusahaan juga membuat program dana pensiunnya sendiri. DPLK ini bisa menjadi salah satu opsinya.

Atau, kamu para pekerja lepas atau mandiri yang pengin membangun dana pensiunmu sendiri, kamu juga bisa memanfaatkan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan ini, karena sifatnya yang memang terbuka.

Kalau Sudah Ada JP dan JHT, Kenapa Harus DPLK?

Pernahkah kamu menghitung totalan kebutuhan dana untuk membiayai hidupmu setelah kamu pensiun nanti?

Kalau kamu belum pernah menghitung, ada baiknya kamu coba hitung. Mungkin kamu akan terkejut saat melihat angka hasil akhirnya. Berapa digit miliar? Dua digit?

Ya, begitulah. Banyak yang enggak sadar akan hal ini, sehingga kesadaran untuk mulai membangun dana pensiun kita rendah. Padahal, dengan dana pensiun yang memadai, kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti yang kita jalani sekarang.

Memangnya nggak penginkah pensiun sejahtera? Nggak penginkah bisa hidup mandiri meski sudah pensiun? Nggak usah ganggu anak-cucu, karena mereka pasti punya kebutuhan sendiri yang juga tak sedikit. Mungkin kita juga sudah enggak bisa membantu mereka secara finansial, setidaknya, kita bisa hidup mandiri.

Dan, tahukah kamu, pensiun sejahtera bisa kita rasakan dan jalani, jika minimal kita memiliki 70% dari gaji terakhir kita sebelum pensiun. Dengan 70% dari besaran gaji ini, gaya hidup kita enggak akan terlalu turun drastis. Masih bisalah jajan-jajan sekadarnya, jalan-jalan, beli ini itu untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Dan, pernahkah kamu menghitung besaran akhir dari JHT dan JP yang bakalan diterima nanti ketika kita sudah pensiun?

Hanya 30% dari gaji kita setiap bulannya.

Ouch!

Berarti sisanya gimana dong? Masa kita harus bekerja lagi di masa pensiun? Oh tidak, Ferguso. Tubuh sudah letih. Otak pun sudah mulai aus. Nggak mungkin dipaksa untuk bekerja lagi. Ya, setidaknya, bekerja sudah bukan lagi menjadi porsi terbesar dalam hidup. Ya kan? Masa pensiun seharusnya menjadi masa-masa untuk menikmati panen.

Jadi gimana dong?

Nah, program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) ini bisa jadi alternatif solusi. Karena itu, DPLK ini bersifat tambahan terhadap JP dan JHT, yang sudah menjadi kewajiban setiap bulan.
Tapi, kan sudah punya saham juga, reksa dana pun, untuk bekal masa pensiun nanti? Karena, memang investasi-investasi ini ditujukan untuk dana pensiun kan?

Yah, jadi begini. Saham, mengingat harganya yang sangat fluktuatif, siapa yang bisa menjamin hasilnya akan positif terus menerus? Ada kalanya naik, dan mungkin bakalan sering juga turun. Begitu juga dengan reksa dana. Belum lagi sifatnya yang sangat likuid, bisa diambil kapan saja, sehingga ketika sampai masa pensiun tiba, bisa jadi jumlahnya kurang memadai juga.

Bagaimana dengan investasi rumah dan tanah? Ya, memang bagus kalau sudah punya investasi berupa properti ini. Hanya saja, enggak semua orang bisa dapat privilege untuk memilikinya. Modalnya besar, perawatannya juga tinggi.

Well, namanya hidup kan ya? Punya jaring pengaman tentu akan lebih baik.

Apa Saja Manfaat yang Bisa Didapatkan dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan Ini?

Bagi pekerja:

  • Sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan hidup saat masa pensiun, of course
  • Iuran DPLK bisa menjadi faktor pengurang pajak penghasilan PPh21, sebagaimana sudah diatur dalam undang-undang
  • Hasil investasinya bebas pajak
  • Iuran bisa fleksibel, bisa kita tentukan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita. 

Bagi perusahaan, jika perusahaan tersebut memutuskan untuk juga mengikutsertakan karyawannya dalam program DPLK:

  • Menghindarkan terjadinya masalah arus kas pada perusahaan karena harus menanggung jaminan pensiun terlalu banyak pada pekerjanya
  • Bisa menjadi faktor pengurang pajak penghasilan badan atau usaha dalam PPh25
  • Dapat digunakan sebagai salah satu benefit untuk meningkatkan retensi karyawan.
  • Perusahaan dapat lebih fokus pada bisnis, urusan pensiun karyawan tinggalkan saja supaya diurus oleh lembaga keuangan penyelenggara DPLK

Bagaimana Cara Menjadi Peserta Program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Ini?

Kamu cukup datang ke perusahaan penyelenggara DPLK terdekat, bisa bank atau perusahaan asuransi, dan kemudian biasanya kamu akan diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dengan data diri. Ikuti saja semua persyaratannya. 

Selanjutnya, kamu akan diberi kartu anggota DPLK, yang menyatakan bahwa kamu telah menjadi peserta program dana pensiun tersebut dan nantinya berhak atas dana pensiun sesuai jumlah “tabungan” kamu.

Nah, sebagai kewajiban, kamu akan diminta menyetor sejumlah dana setiap bulan pada mereka. Jangka waktu setorannya bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu, nantinya akan cair menjelang kamu pensiun. Jumlahnya juga bisa disesuaikan.

Jika kamu mendaftar peserta program dana pensiun ini secara kolektif dengan teman-teman sekantor, maka bisa jadi iuran per bulannya dibagi dua antara kamu sebagai karyawan, dan perusahaan tempat kamu kerja sebagai pemberi kerja. Tentu, ini harus melalui kesepakatan ya.

Masa keanggotaan ini berakhir jika sudah jatuh tempo, atau ketika kamu berhenti membayar iuran karena berbagai alasan.

Ketika kamu sudah menyetorkan dana pada lembaga keuangan penyelenggaran program DPLK, maka danamu akan diinvestasikan ke dalam pilihan investasi kamu sendiri, misalnya ke pasar uang, pendapatan tetap, saham, mata uang asing, dan sebagainya. Sebagai catatan--seperti hukum investasi pada umumnya--risiko tetap akan berada di tangan peserta DPLK.

Dana pensiun yang kelak akan kamu terima merupakan akumulasi dari jumlah setoran ditambah dengan hasil investasinya.

Amankah Dana yang Sudah Kita Setorkan ke DPLK?

Penyelenggaraan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan ini diatur dalam UU No. 11 tahun 1992, mengenai dana pensiun pekerja.

Dengan demikian, penyelenggaraan dana pensiun ini sudah legal, diakui negara, aman, dan dapat dikontrol. Jika ada masalah pada penyelenggara DPLK, dananya dapat dicairkan atau dipindahkan ke lembaga lain. Kita, sebagai peserta program, akan mendapatkan laporan secara berkala, sesuai ketentuan masing-masing.

Nah, jadi gimana? Pengin ikutan Dana Pensiun Lembaga Keuangan ini? Cusss!

Semoga artikel ini bermanfaat!