Seluk-Beluk Investasi Syariah yang Perlu Kamu Ketahui

Barangkali ada di antara kamu yang sampai saat ini masih belum juga mulai berinvestasi lantaran bingung, investasi itu halal atau enggak sih? Well, kamu seharusnya sih enggak usah terlalu khawatir, karena ada loh investasi syariah, yang aturan, praktik, dan cara kerjanya telah disesuaikan berdasarkan syariat Islam. Dengan demikian, persoalan halal dan enggak ini seharusnya sudah enggak menjadi alasan untuk nggak berinvestasi sekarang ini.

Tapi ya begitulah. Investasi syariah masih belum sepopuler investasi konvensional. Mungkin masih terbatas sosialisasinya, sehingga peminatnya pun belum banyak. Padahal, keuntungan yang ditawarkan enggak kalah menggiurkan dari investasi konvensional loh. Dan, tentu saja, juga ada risikonya. Dan teteup, ada prinsip high risk high return.

Penasaran dengan investasi syariah, dan berharap bisa memanfaatkannya untuk mencapai tujuan keuanganmu? Yuk, ikuti artikel ini sampai selesai ya.

Pengertian Investasi Syariah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, investasi berarti penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Dengan berinvestasi, kita ikut mendanai suatu perusahaan atau proyek atau produk sehingga nantinya kita juga mendapat jatah ketika perusahaan, proyek, atau produk tersebut mendapatkan keuntungan dari bisnis mereka yang berjalan.

Syariah atau syariat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah Swt., hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Alquran dan hadis.

Sehingga dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa investasi syariah artinya usaha penanaman modal dalam suatu perusahaan ataupun proyek, dengan berpedoman pada hukum agam Islam.

Apa Beda Investasi Syariah dengan Investasi Konvensional?

Prinsip terbesar yang membedakan investasi syariah dengan investasi konvensional adalah adanya akad. Akad ini diadakan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam investasi terkait, yang pada prinsipnya sama saja dengan perjanjian yang kita buat kalau akan melakukan bisnis, jual beli, sewa-menyewa, dan kegiatan ekonomi lainnya. Akad syariah ini meliputi akad kerja sama atau musyarakah, sewa menyewa atau ijarah, dan akad bagi hasil atau mudharabah. 

Tujuan adanya akad adalah agar tidak ada yang merasa dirugikan agar semua pihak terkait tidak ada yang merasa dirugikan. Jadi, dapat terlihat bahwa investasi syariah memiliki aturan yang lebih ketat dibanding investasi konvensional yang terkesan lebih simpel tanpa harus adanya akad atau perjanjian.
Tujuan investasi syariah juga sangat memperhatikan segi manfaat secara sosial, karena ada porsi dari investasi yang ditujukan untuk sedekah atau berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Sedangkan investasi konvensional tidak terlalu memperhatikan asas-asas ini. Aturannya lebih simpel, selama mendatangkan keuntungan, tanpa memedulikan apakah bisnis atau produknya bersifat halal ataukah enggak. Pun tujuan investasinya purely adalah untuk mengembangkan aset pribadi.
Salah? Enggak juga. Tergantung tujuan masing-masing individu untuk berinvestasi kan?

Dengan demikian ada beberapa hal yang kemudian bisa dilihat sebagai keunggulan investasi syariah dibandingkan investasi konvensional. Di antaranya:

  • Investasi syariah menawarkan keuntungan yang halal bagi investor, dengan demikian investor dimungkinkan untuk mengembangkan aset dan kekayaan yang bersifat duniawi, tanpa harus takut membuatnya menjadi dosa.
  • Kegiatan bisnis yang ditanami modal adalah bisnis yang sesuai dengan hukum agama Islam, sehingga keuntungan yang didapatkan bukanlah berasal dari riba.
  • Tak hanya menjauhkan dari riba yang bisa berbuah dosa, dengan berinvestasi secara syariah ini, investor juga diberi kesempatan untuk bersedekah, sehingga justru membuahkan pahala.
  • Keuntungan hasil investasi syariah juga cukup besar, sama seperti investasi konvensional, dan juga cocok untuk jangka pendek maupun jangka panjang--tergantung dari instrumennya.

Berbeda dengan instrumen investasi konvensional yang ada banyak banget, untuk saat ini, instrumen investasi syariah masih terbatas. Yuk, kita lihat satu per satu juga.

Instrumen Investasi Syariah

1. Deposito syariah

Jika kamu pernah atau masih memiliki tabungan berjangka, maka prinsip kerja instrumen investasi syariah satu ini tak jauh berbeda. Kamu pasti sudah familier.

Saat kita menyetorkan dana, sesuai dengan ketentuan, maka dana tersebut akan dikelola hingga batas waktu yang sudah ditentukan juga. Saat akhir jatuh tempo tiba, kita akan mendapatkan hasil pengelolaan dana yang juga sesuai dengan ketentuan. Tetapi, bentuk hasil pengelolaannya bukan berupa bunga, seperti halnya deposito konvensional, melainkan dalam bentuk bagi hasil dari keuntungan usaha yang halal.

Keuntungan bagi hasil--atau yang disebut dengan nisbah--ini sudah disepakati ketika kita mulai membuka rekening deposito. Besarnya sesuai dengan kebijakan bank masing-masing. Misalnya, suatu bank memberikan ketentuan nisbah 60:40, artinya 60% untuk nasabah dan 40%-nya untuk bank, sebagai pengelola dana.

Jika kamu tertarik untuk berinvestasi di deposito syariah ini, sila menghubungi bank syariah terdekat ya, dan carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum kamu mulai berinvestasi.

2. Reksa dana syariah

Secara prinsip, tidak jauh berbeda dengan investasi reksa dana konvensional, di mana kamu “menitipkan” sejumlah dana untuk dikelola oleh manajer investasi, dan dialokasikan ke instrumen-instrumen sesuai yang kita ajukan.

Bedanya, tentu saja, instrumen investasi yang akan dibeli oleh si manajer investasi hanyalah produk yang halal, sesuai dengan hukum agama Islam.

Untuk investor pemula, reksa dana syariah ini sangat cocok. Hanya perlu modal sedikit, Rp100.000 saja, banyak pilihan karena ada 4 jenis reksa dana yang bisa menjadi alternatif, yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham.

Sedikit perbedaannya adalah adanya proses cleansing, yaitu proses ketika pendapatan yang diperoleh, yang tidak sesuai dengan hukum Islam (hal ini memungkinkan karena adanya endapan dana di bank kustodian) untuk “dibersihkan” dengan cara dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan amal.

Kok bisa ada pendapatan yang tidak sesuai dengan hukum Islam dalam reksa dana syariah? Hal ini bisa terjadi ketika ada keterlambatan manajer investasi untuk menginvestasikan dana yang sudah disetorkan oleh investor sehingga terjadi bunga di bank kustodian. Sampai dengan saat ini, belum ada bank syariah yang ditunjuk menjadi bank kustodian, sehingga sudah pasti ada bunga di dalam transaksinya. 

Tapi, kamu tak perlu khawatir, karena fitur cleansing ini biasanya sudah dimiliki oleh manajer investasi yang memang menawarkan reksa dana syariah.

3. Saham syariah

Buat kamu yang pengin berinvestasi di saham, juga ada saham syariah yang menjadi alternatif investasi syariah.

Sesuai dengan prinsip hukum agama Islam, emiten-emiten yang sahamnya bisa ditransaksikan di sini adalah perusahaan yang operasional bisnis dan produknya halal. Saham emiten apa saja yang masuk ke dalamnya? Kamu bisa mengeceknya langsung di situs Bursa Efek Jakarta, dan mencari di bagian JII atau Jakarta Islamic Index.

Dalam daftar ini, sudah enggak ada saham dari bank-bank konvensional, rokok, perhotelan, hingga minuman keras.

4. Obligasi syariah pemerintah

Obligasi--terutama obligasi pemerintah--juga menjadi salah satu instrumen investasi terpopuler di kalangan investor pemula. Pemerintah pun tanggap terhadap permintaan akan instrumen syariah, sehingga mengeluarkan juga instrumen berbasis syariah yang disebut dengan sukuk.

Sukuk tidak digolongkan ke dalam surat utang, sebenarnya, karena dengan membelinya berarti kita telah membeli aset negara yang kemudian disewakan kembali pada pemerintah dengan memberikan uang sewa pada kita. Hal ini terjadi sampai masa sewa habis.

Jadi, imbal hasilnya berupa uang sewa yang kemudian bisa kita dapatkan setiap bulan.

Kamu bisa mendapatkan instrumen investasi syariah dari pemerintah ini di seluruh bank dengan label syariah dan juga mitra distribusi yang sudah ditunjuk.

5. Emas

Banyak bank syariah yang menawarkan tabungan cicilan emas sebagai salah satu produknya. Emas sudah lama dikenal sebagai safe haven. Terbukti dengan tembusnya harga emas di masa pandemi COVID-19 hingga ke harga Rp1 juta setiap gram pembeliannya.

Satu-satunya yang menjadi pertanyaan adalah ketika ada suatu negara yang mempergunakan emas sebagai mata uang. Tentunya, hal ini menyalahi hukum Islam. Tetapi, hal ini tidak berlaku di Indonesia, karena emas bukanlah alat tukar seperti uang. Emas di sini adalah komoditi, sehingga bebas saja diperjualbelikan atau disimpan sebagai instrumen investasi.

Setelah melihat prinsip investasi syariah di atas, juga mengenal beberapa instrumennya, apakah kamu masih berpikir bahwa investasi itu nggak halal? Semoga sih enggak lagi ya.

Jadi, nggak ada alasan lagi buat menyegerakan investasi kan?