Peer to Peer Lending: Inovasi Fintech Sebagai Satu Alternatif Cara Mengembangkan Dana

Perkembangan financial technology memang luar biasa. Selain bisa berinvestasi secara online, sekarang ada juga inovasi lain sebagai cara mengembangkan dana melalui Peer to Peer Lending, atau yang sering disebut dengan P2P Lending.

Masih banyak menuai pro dan kontra, tetapi cara mengembangkan dana dengan P2P Lending ini terbukti cukup menggiurkan banyak investor, karena return-nya yang menarik. Nah, sampai di sini, seharusnya ‘alarm’ investor kita langsung menyala, karena imbal yang tinggi pasti akan diiringi dengan risiko yang tinggi pula.

Karena itu, jika kamu tertarik untuk menjadikan P2P Lending ini sebagai salah satu alternatif cara mengembangkan dana yang kamu miliki sekarang, maka ada beberapa hal yang mesti kamu pahami lebih dulu.

Apa Itu Peer to Peer Lending?

Peer to Peer Lending adalah salah satu bentuk inovasi fintech yang memungkinkan pemilik dana (investor) langsung bisa bertemu dengan peminjam dana (kreditur) dalam satu platform. Kalau mau dibandingkan, ya kurang lebih kayak marketplace yang mempertemukan penjual/produsen langsung dengan calon pembelinya, dan kemudian ada transaksi di tempat itu juga.

Dengan adanya P2P Lending ini, kita bisa “memotong” satu tahapan prosedur yang cukup berbelit, kalau bisa dibilang begitu, yaitu adanya lembaga keuangan seperti bank.

P2P Lending ini sebenarnya sudah cukup lama hadirnya. Pertama kali dikenal tahun 2005, di Inggris yang dirintis oleh Zopa. Di Indonesia sendiri baru ada sekitar tahun 2016. Hingga tahun 2019 kemarin, tercatat ada 127 perusahaan P2P Lending yang sudah tercatat dan memiliki izin resmi beroperasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Keuntungan Mengembangkan Dana di P2P Lending

Bagi investor, mengembangkan dana di platform P2P Lending cukup menggiurkan. Jika kondisi normal, imbal yang diharapkan ada di kisaran 18 - 20% setiap tahunnya. Ini tentu saja sangat lebih tinggi daripada bunga deposito.

Sedangkan, bagi peminjam dana, P2P Lending menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan dana langsung ke investor, tetapi syaratnya lebih mudah dan prosesnya juga lebih cepat dibandingkan mengajukan kredit ke bank atau lembaga keuangan konvensional lainnya. Rata-rata peminjam dana di P2P Lending adalah perorangan ataupun pemilik usaha/UMKM yang merasa kesulitan untuk mengajukan kredit ke bank karena syaratnya memang cukup banyak.

Dengan P2P Lending, mereka mendapatkan pendanaan cepat dan bisa langsung digunakan tanpa syarat yang terlalu rumit.

Dengan sistemnya yang seperti itu, apakah ini berarti P2P Lending bakalan menggeser fungsi bank sebagai lembaga pendanaan? Nope, enggak. Karena P2P Lending justru menggarap pasar yang tidak terfasilitasi oleh lembaga keuangan konvensional seperti bank, sehingga hal ini justru menjadi harapan baru bagi perekonomian Indonesia.

Bank dan perusahaan P2P Lending justru bersinergi agar dapat menjadi bagian pendukung aktifnya kegiatan ekonomi di Indonesia.

Risiko Mengembangkan Dana di Peer to Peer Lending

Selain keuntungan, kamu juga harus mempelajari risikonya sebelum mulai mengembangkan dana di P2P Lending. Apa saja yang perlu diperhatikan?

1. Aturan masih dikembangkan

Otoritas Jasa Keuangan tampak masih terus mengembangkan peraturan terkait tumbuhnya platform Peer to Peer Lending di Indonesia ini. Karena tanpa aturan yang jelas, bisnis ini terbukti cukup sensitif. Tanpa adanya regulasi yang baku, tentunya akan lebih sulit bagi pelaku pengembangan dana di Peer to Peer Lending untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul. Baik investor maupun kreditur tidak bisa mengadu kepada OJK jika sampai ada yang merasa dirugikan.

Sekarang sudah ada, yaitu POJK 77 Des 2016, selain ada kode etik oleh AFPI, atau Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, yang dipilih oleh OJK sebagai wadah resmi bagi penyelenggara layanan pinjaman dana berbasis teknologi informasi di Indonesia. Regulasi ini sudah termasuk mengenai standar bunga, biaya, tenor, dan sebagainya, sampai bisa menjadi dasar untuk membedakan mana fintech legal dan ilegal.

Selain telah menyatakan 161 platform fintech P2P Lending aman digunakan oleh masyarakat umum di Indonesia, OJK pun sudah menutup ratusan perusahaan P2P Lending ilegal lain yang terbukti operasionalnya “cacat”.

Namun, perlu diingat, bahwa aturan ini masih akan terus berkembang. Sehingga jika kamu memilih cara mengembangkan dana dengan P2P Lending untuk mencapai tujuan keuanganmu, kamu perlu update terus aturan ini.

2. Selalu pilih perusahaan fintech legal

Karena itu, selalulah pilih perusahaan fintech legal, yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Sampai dengan Februari 2020 kemarin, sudah ada 161 perusahaan fintech dinyatakan legal dan mendapat izin resmi beroperasi dari OJK. Silakan kamu bisa langsung cek ke situs OJK yang sudah ditautkan ya.

Selama kamu mengembangkan dana di Peer to Peer Lending yang sudah terdaftar di OJK tersebut, maka keamanan akan lebih terjamin.

3. Pelajari dan pahami betul risikonya

Ada dua risiko terbesar yang harus dipahami jika kamu hendak mengembangkan dana melalui Peer to Peer Lending ini, yaitu:

  • Risiko gagal bayar, ketika pihak peminjam dana tidak dapat membayar bunga dan mengembalikan pinjaman dananya. Karena itu, kamu harus benar-benar yakin dan melakukan riset terhadap calon krediturnya. Selain itu, kamu juga bisa memilih peminjaman dana berasuransi.
  • Risiko perusahaan P2P Lending yang bangkrut. Investor akan menyetor sejumlah dana pada perusahaan penyelenggara pinjaman untuk kemudian diteruskan pada pihak peminjam. Posisi ini tentu akan jadi berisiko ketika ternyata perusahaan P2P Lending-nya tidak bisa meneruskan operasionalnya, karena berbagai sebab. Karena itu, adalah penting bagi kamu untuk memastikan juga bahwa kamu mengembangkan dana di platform Peer to Peer Lending yang terpercaya. Balik lagi ke poin kedua di atas; jangan investasi ke platform ilegal. Penting banget nih.

4. Dana tidak bisa ditarik di tengah proses peminjaman

Dana yang kamu kembangkan tidak bisa ditarik sewaktu-waktu ketika masih dalam jangka waktu peminjaman ya. Jadi, pastikan kamu hanya menggunakan dana ‘dingin’; yaitu dana yang enggak dipakai untuk kebutuhan hidup atau operasionalmu sehari-hari.

Jangan pernah mengembangkan dana di P2P Lending dengan uang belanja dapur.

5. Sesuaikan dengan tujuan keuangan

Karena sifatnya yang kurang likuid, seperti yang tergambar di poin keempat di atas, maka kamu pun harus menyesuaikannya dengan tujuan keuanganmu.

Ingat, ketidaksesuaian instrumen dengan tujuan keuangan akan membuahkan kegagalan investasi, apa pun bentuk dan instrumen investasinya.

6. Diversifikasikan

Karena risikonya yang cukup tinggi, maka kamu pun perlu membuat jaring pengaman dengan instrumen investasi atau pengembangan dana yang lain. Kamu juga bisa mengembangkan dana tidak hanya di satu sektor saja, tetapi beberapa sektor sekaligus, jika memang danamu memungkinkan.

Risiko investasi yang cukup tinggi bukan harus dihindari, tetapi dicari antisipasi yang paling tepat.

Nah, sudah kebayang sekarang kan, kalau tertarik dengan cara mengembangkan dana melalui Peer to Peer Lending ini?

Mau mulai sekarang? Good luck!