Berbagai Jenis Instrumen Investasi Jangka Panjang untuk Wujudkan Cita-Citamu

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita punya keinginan dan cita-cita. Ya kalau enggak, hidup bakalan terasa hampa. Tsah. Tapi mewujudkan cita-cita dan keinginan itu juga butuh biaya. Jadi mesti gimana? Ya, jawabannya cuma satu: bikin investasi jangka panjang.

Lumayan berima kalimatnya kan?

Dalam hidup manusia yang panjang ini, kita memang bisa saja punya banyak keinginan, tetapi ada beberapa cita-cita yang wajib kudu dipunyai, yang kemudian kita sebut dengan tujuan keuangan--karena, untuk mewujudkannya, kita butuh biaya yang enggak sedikit. Hal-hal ini misalnya seperti rumah milik sendiri, biaya pendidikan, biaya menikah, hingga bekal untuk masa pensiun mandiri yang sejahtera.

Itu semua adalah cita-cita hidup yang umumnya kita miliki sesuai dengan tahapan hidup yang dijalani, ya kan? Enggak pengin menikah, gimana? Ya, enggak apa, tapi mungkin kamu pengin melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri dengan biaya sendiri? Nggak butuh dana untuk beli rumah karena dapat warisan, ya enggak apa, tapi kamu perlu lho menyiapkan diri untuk menghadapi masa pensiunmu.

Ya, begitulah, karena kondisi bisa jadi keinginan berbeda, tapi satu hal yang pasti: uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang.

So, untuk dapat mewujudkan cita-cita dengan biaya yang besar itu, kita butuh investasi jangka panjang pada instrumen yang tepat. Mari kita lihat, instrumen investasi apa saja yang bisa kita manfaatkan.

4 Instrumen Investasi Jangka Panjang untuk Wujudkan Cita-Cita Besarmu

1. Saham

Saham merupakan produk investasi jangka panjang, lantaran pergerakannya yang cukup agresif jika hanya dilihat dalam jangka waktu yang singkat. Bisa jadi, ketika tujuan keuanganmu sudah dekat, performa saham belumlah seperti yang diharapkan.

Seperti sekarang ini, misalnya, ketika Indeks Harga Saham Gabungan masih belum pulih benar akibat imbas pandemi COVID-19. Di awal tahun 2020, IHSG menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, yakni di kisaran angka Rp6.500. Akibat pandemi, di bulan Maret dan April, harga saham merosot hingga level terendah di kisaran angka Rp3.900.

Jika dilihat dalam rentang waktu beberapa bulan, investasi kita kebakaran banget, ya kan? Tapi, sebenarnya, posisi IHSG sekarang adalah ekuivalen dengan posisi tujuh tahun yang lalu. Dilihat dari grafik, bahkan posisinya jauh lebih tinggi ketimbang tahun 1998.

Ini sudah jadi bukti bahwa investasi saham memang sesuai untuk tujuan keuangan jangka panjang.

2. Reksa Dana

Saat kita membahas investasi jangka pendek, reksa dana muncul. Kok di sini, disebut lagi? Iya, karena reksa dana sendiri ada 4 jenis yang bisa kamu sesuaikan dengan tujuan keuanganmu.

Untuk berinvestasi jangka pendek, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan. Sedangkan, untuk investasi jangka panjang, reksa dana campuran dan reksa dana saham bisa menjadi opsimu yang lebih sesuai.

Reksa dana saham adalah reksa dana dengan alokasi dana investasinya sebesar 80% ke instrumen saham, sisanya baru ke instrumen lainnya. Prinsipnya sama saja dengan investasi saham, tetapi danamu dikelola oleh seorang manajer investasi.

Reksa dana campuran, hampir sama dengan reksa dana saham cara kerjanya. Bedanya adalah pada proporsi instrumennya, dan pembagian proporsi ini menjadi wewenang manajer investasi sepenuhnya. Reksa dana campuran ada beberapa jenis, dan masing-masing memiliki karakteristik yang harus dipahami agar sesuai dengan rencana keuanganmu.

Karena keduanya “mengandung” investasi pada instrumen saham, maka sifatnya pun mengikuti saham yang berfluktuasi cukup agresif. Sehingga dengan demikian, instrumen ini cocok digunakan sebagai investasi jangka panjang.

3. Emas

Sebagian orang bilang, emas bukan investasi karena ketika kita beli dan kemudian dijual lagi beberapa hari kemudian, harganya langsung merosot. Ya, apalagi kalau belinya dalam bentuk perhiasan alih-alih bentuk batang.

Memang betul, karena itu anggapan emas sebagai instrumen investasi yang aman karena harganya selalu naik juga kurang tepat. Namun, emas tetap bisa dianggap sebagai instrumen investasi, lebih tepatnya investasi jangka panjang.

Kalau kamu beli emas 10 tahun yang lalu, dan pengin kamu jual sekarang, sudah bisa diduga kalau kamu akan mendapatkan imbal yang lumayan. Apalagi sekarang, saat harga emas lagi tinggi banget akibat krisis pandemi. 

Berdasarkan hukum supply versus demand, harga emas memang mengikuti permintaan pasar. Karena itu, harganya tetap berfluktuasi seperti layaknya komoditi lainnya.

So, kamu mau memanfaatkan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang? Bisa banget, pastikan kamu tahu timing yang tepat, kapan beli dan kapan harus menjualnya.

4. Properti

Properti juga merupakan instrumen investasi tertua, sama dengan emas. Orang-orang zaman dulu suka banget koleksi tanah dan rumah. Ketika butuh uang, dijuallah satu per satu sesuai kebutuhan.
Harga properti selalu naik dari tahun ke tahun, lebih tinggi dari inflasi. Hal ini dipicu oleh jumlah manusia yang bertambah banyak, dan tuntutan hidup yang juga semakin besar untuk butuh rumah tinggal.

Dibandingkan instrumen investasi jangka panjang yang lain, investasi di properti butuh modal yang paling besar. Ya, kan kamu harus beli rumah atau bentuk properti lain, baru kemudian dijadikan instrumen investasi kan? Untuk disewakan atau dikontrakkan.

Tapi, ya sesuai hukum yang berlaku, modal besar, return juga lumayan. Bahkan bisa banget jadi bekal masa pensiun mandiri yang sejahtera.

Nah, itu dia beberapa jenis investasi jangka panjang yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita besarmu dalam hidup.

Jadi, mau mulai dari yang mana dulu nih? Ingatlah untuk selalu menyesuaikannya dengan profil risiko, horizon waktu, dan juga tujuan keuanganmu ya. Ketepatan dalam penyesuaian ini akan menentukan sukses enggaknya investasimu kelak.

Happy investing, people!