Persamaan serta Beda ORI dan SBR: Ketahui Dulu Sebelum Mulai Investasi

ORI017 baru saja selesai ditawarkan. Tapi enggak apa, jika kamu baru kepo sekarang. Next, pasti ada ORI ditawarkan lagi. Atau, mungkin giliran ‘saudara’-nya: SBR. Ada ORI, ada SBR? Apa beda ORI dan SBR, memangnya?

Nah, ini yang harus kamu tahu, supaya kamu bisa memilih dan memutuskan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuanganmu, karena keduanya berbeda karakter dan pastinya harus dimanfaatkan sesuai kebutuhanmu kan?

Yuk, belajar bareng. Simak artikel ini sampai selesai ya.

Persamaan ORI dan SBR

Sebelum membahas tentang beda ORI dan SBR, kita ngomongin persamaannya dulu deh.
ORI dan SBR sama-sama merupakan surat berharga negara yang diperuntukkan bagi investor ritel. Investor ritel itu apa? Ya, investor individu seperti kita-kita ini; yang duitnya enggak gede-gede amat, bertindak sebagai personal, dan mengharapkan dapat bunga, kecil juga nggak masalah.

Kedua jenis surat berharga negara ini diatur oleh undang-undang yang sama, Undang-Undang No 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. 

Dua-duanya juga bisa dibeli dengan dana minimal Rp1 juta, hingga maksimalnya Rp3 miliar. Dan dua-duanya ada bunga, tentu saja. Hanya saja, jenis bunga dan besarannya berbeda. Biasanya waktu penawarannya juga sama, yaitu sekitar 1 bulan, dan tujuannya hampir selalu sama: untuk mengatasi defisit APBN, demi membiayai pembangunan negara. Namun, sektornya yang bisa berbeda. Nanti kita bahas di bagian beda ORI dan SBR.

Keduanya sama-sama merupakan instrumen investasi dengan risiko rendah, karena dikeluarkan oleh pemerintah, jadi dijamin juga oleh pemerintah. Warga negara yang mana yang enggak percaya sama pemerintah negara sendiri, ya kan?

Beda ORI dan SBR

Pengertian

ORI adalah obligasi ritel Indonesia. Dikutip dari situs Kemenkeu, ORI Obligasi Ritel Indonesia adalah salah satu jenis Surat Berharga Negara (SBN) untuk investasi jangka menengah dan panjang.
ORI merupakan surat utang negara yang tertua yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, yang diterbitkan pertama kali tahun 2006. 

SBR, atau Saving Bond Ritel, adalah hasil pengembangan dari ORI, dengan penambahan beberapa gimmick yang menarik. Namanya ‘saving bond’, maka sifatnya ya jadi lebih kayak menabung. Berbeda dengan ORI, yang benar-benar memiliki karakter obligasi alias surat utang, yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Keuntungan

ORI menawarkan fixed rate, alias bunga tetap alias tidak berubah-ubah hingga jatuh tempo tiba. Namun, kalau kita butuh dana cair lebih cepat, kita bisa memperjualbelikannya di pasar sekunder. Hal ini bisa dilakukan melalui perusahaan sekuritas tempat kita membeli obligasi tersebut. Dan, sudah pada paham pasti, bahwa transaksi di pasar sekunder memungkinkan kita untuk mendapatkan capital gain, alias selisih harga jual dari harga beli yang lebih rendah. Persis seperti instrumen pasar modal lainnya.

Tetapi ada waktu minimum holding period-nya ya. Dalam artian, kamu harus menunggu sampai batas waktu tertentu dulu untuk bisa memperjualbelikannya di pasar sekunder. Jadi, nggak bisa hari ini dapat, besok langsung dijual.

Misalnya pun, kita kelewat waktu penawaran, ini berarti kita juga bisa tetap mendapatkan ORI di pasar sekunder, karena ada peluang bagi investor lain untuk menjualnya, dengan berbagai alasan. Dan ini tuh sah-sah saja.

Berbeda dengan SBR. Saving Bond Ritel biasanya menawarkan floating rate, alias bunga mengambang dengan minimal. Jadi, misalnya telah ditentukan bunga mengambang 7%. Maka jika suatu saat nanti suku bunga pinjaman BI naik menjadi 7.5%, maka bunga yang kita terima dari SBR juga akan mengikuti ketentuan BI. Namun, jika misalnya suku bunga pinjaman BI turun menjadi 6.5%, maka kita akan tetap menerima bunga 7% sebagai besaran minimal bunga SBR yang sudah ditentukan.

Sayangnya SBR tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. Karenanya, instrumen ini dinamakan ‘saving bond’, jadi lebih bersifat tabungan layaknya deposito. Karakternya hampir tidak mirip dengan obligasi, atau surat utang. 

Kalau kamu sudah berinvestasi di SBR, maka danamu akan dikembalikan begitu jatuh tempo tiba. Namun, SBR memiliki fasilitas early redemption, yang memungkinkanmu untuk menerima sebagian pelunasan pinjaman pokok sebelum jatuh tempo. Waktu dan besarannya ditentukan sesuai kebijakan saat itu.

Risiko

Sama-sama berisiko minim, tapi tetap ada risiko.

Obligasi Ritel Indonesia, jika kamu memperjualbelikannya di pasar sekunder, maka akan ada risiko capital loss jika selisih harga jualmu lebih sedikit dari harga beli. Rugi bandar, gitu deh.
Sedangkan Saving Bond Ritel, karena tidak dapat kamu perjualbelikan di pasar sekunder maka tidak ada capital loss.

However, keduanya memiliki risiko yang sama juga sih, yaitu risiko gagal bayar. Ini terjadi ketika pemerintah negara tidak mampu membayar kembali pinjaman pokoknya pada investor (baca: kita). Namun, enggak usah terlalu khawatir, karena selama sejarah, pemerintah Indonesia belum pernah gagal bayar pinjamannya pada warga negara.

Jangka waktu

Beda ORI dan SBR juga meliputi jangka waktu jatuh temponya.
Obligasi Ritel Indonesia biasanya memiliki jangka waktu 3 tahun. Sedangkan Saving Bond Ritel biasanya berjangka waktu 2 tahun.

Penerimaan kuponnya juga berbeda. Kupon ORI umumnya diterimakan setiap tanggal 15, sedangkan SBR umumnya diterimakan tanggal 10 setiap bulan.

Nah, itu dia beberapa beda ORI, atau Obligasi Ritel Indonesia, dan SBR, atau Saving Bond Ritel. So, kamu lebih suka investasi yang mana? Atau, mau dua-duanya?

Kalau sudah kelewat yang ORI017 kemarin, kamu masih bisa menunggu seri berikutnya kok. Biasanya pemerintah selalu menawarkan masing-masing minimal sekali setahun. Pernah juga sih dua kali. So, kamu ikuti saja informasi dari Kemenkeu, dengan follow akun media sosialnya ya, supaya enggak ketinggalan lagi.