Investasi Emas: Fakta-Fakta yang Harus Diketahui oleh Investor Pemula

Kalau ditilik lagi, emas itu biasanya jadi investasi warisan turun temurun. Dari nenek moyang, sering kita mendapat “jatah” perhiasan emas yang memang diestafetkan dari generasi ke generasi. Minimal berupa cincin kawin. Bener enggak? Investasi emas memang merupakan investasi “tertua” sih, selain investasi properti.

Kamu juga punya perhiasan warisan seperti ini? Dijaga loh! Kalau sudah diturunkan dari generasi ke generasi begitu, biasanya nilainya sudah jadi semacam pusaka keluarga.

Anyway, kita enggak akan bahas emas sebagai perhiasan sih di artikel kali ini, tetapi ngomongin emas sebagai salah satu instrumen investasi. Apakah benar yang dibilang orang-orang (tua), bahwa emas itu selalu naik harganya sehingga menjadi instrumen yang aman sekaligus tanpa risiko?

Mari kita cek faktanya!

5 Fakta Investasi Emas yang Harus Diketahui

1. Nilai emas selalu naik?

Saat artikel ini ditulis, harga emas per gramnya mencapai Rp900.000 lebih. Beberapa waktu yang lalu, sempat hampir menyentuh Rp1 juta per gram. Sekitar 3 tahun yang lalu, harga emas masih di angka kisaran Rp600.000.

Kenaikan harga emas yang saat ini terjadi dipicu oleh keadaan darurat akibat pandemi COVID-19. Banyak investor yang mengalihkan investasinya ke investasi aset riil ketimbang tetap menyimpannya dalam bentuk surat berharga.

Ya, ini sih gejala ekonomi yang biasa terjadi. Kalau kondisi kurang kondusif, investor lebih suka menyimpan dana dalam bentuk uang dan aset riil. Nanti kalau sudah oke lagi, beralih ke surat berharga lagi.

Jadi, apa kesimpulannya? Harga emas juga tergantung pada supply vs demand. Berarti kalau supply emas banyak sedangkan demand sedikit, harganya bisa turun dong? Bisa.

Ini fakta investasi emas yang pertama, bahwa harga emas tidak selalu naik. 

2. Harganya stabil?

Nah, kembali ke poin pertama deh. Kalau mencermati grafik harga emas, maka kamu akan melihat ada penurunan dan juga ada kenaikan. Satu-satunya masa ketika grafik harga emas ini mendatar adalah di circa 1940. Itu pun sempat fluktuatif di tahun 1860-an. 

Sekarang mari kita lihat situasi terkini, ketika emas mencapai harga yang sangat tinggi yang disebabkan oleh situasi darurat wabah penyakit. Akankah harganya tetap stabil di harga tinggi tahun depan? Tidak ada yang bisa memastikan, karena akan dipengaruhi oleh perilaku investor sendiri. Bisa jadi akan turun juga, mengingat emas juga merupakan komoditi yang harganya sangat tergantung pada supply versus demand.

However, kalau ditarik grafiknya ke belakang, memang selalu ada kecenderungan untuk naik, seperti halnya inflasi. 

So, tidak, harga emas tidak sestabil itu. So, mau investasi emas? Boleh saja, tetapi kamu harus punya timing yang tepat untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan; kapan harus beli dan kapan harus menjualnya kembali.

3. Tanpa risiko?

Siapa bilang? Kalau suatu aset dimasukkan ke dalam kategori ‘investasi’, maka di situ berarti ada risiko yang menyertai.

Investasi emas bukan tanpa risiko sama sekali. Beberapa risiko investasi emas yang harus dihadapi oleh investor:

  • Rentan pencurian, apalagi kalau disimpan di rumah dalam jumlah besar. Kalau mau aman, ya mesti disimpan di safe deposit box di bank, tapi harga sewanya lumayan juga dan dikenakan per tahun. So, kalau memang simpanan emasnya jumlah besar, ya masih worth it. Kalau enggak, ya rugi. Tapi disimpan di rumah ya riskan. Gimana hayo?
  • Selisih harga jual dari harga beli. Bayangkan kita saat butuh dalam kondisi mendesak dan harus segera menjualnya dan ternyata posisi harga emas sedang merosot. Atau, kamu membeli emas dalam bentuk perhiasan. Karena ada biaya pembuatan, biasanya harga juga menyesuaikan. Lumayan juga loh, penyesuaiannya.
  • Rentan penipuan, apalagi jika kamu beli bukan dari pihak yang kredibel. Dari perseorangan, misalnya.

Jadi, investasi emas itu tanpa risiko? Enggak juga. Tetap ada risiko, dan harus diantisipasi.

4. Cocok untuk tujuan jangka panjang

Banyak orang-orang generasi sebelumnya yang berhasil mengumpulkan kekayaannya dari koleksi emas. Mereka mempergunakannya untuk biaya menikahkan anak, biaya masuk perguruan tinggi, sampai membangun rumah.

Kalau melihat grafik perkembangan harga emas sekali lagi, kita memang dapat menyimpulkan sih, bahwa investasi emas ini memang cocok untuk tujuan jangka panjang, seperti halnya investasi saham. Memang bisa berfluktuasi di tengah-tengahnya, tetapi secara keseluruhan, memang tak menutup mendatangkan keuntungan yang besar.

Kalau emas yang dibeli 3 tahun lalu di harga Rp600.000 sekarang mau dijual di harga Rp900.000 per gram, kan lumayan juga kan ya? Taruhlah punya 20 gram, sudah “mengantongi” untung Rp6 juta loh. Lumayan kan?

Selain untuk tujuan jangka panjang, emas juga dimiliki sebagai dana darurat. Nah, terkait dana darurat ini, kita ke fakta selanjutnya saja.

5. Gramasi itu penting

Betul, gramasi itu menentukan, terutama kalau kita hendak investasi emas dan memfungsikannya sebagai dana cadangan atau dana darurat.

Taruhlah, kamu lebih memilih gramasi besar untuk investasi emas, karena memang harganya jatuh lebih murah. Misalnya, kamu memiliki harga emas 100 gram beberapa batang. Ketika kamu nanti tiba-tiba butuh dana, maka harus dijual dong emasnya. Nah, masalahnya, nggak semua orang mau beli emas seberat 100 gram. So, kamu mungkin akan menemui kesulitan untuk bisa menjualnya secara cepat. Padahal, salah satu “syarat” dana darurat adalah likuid.

Berbeda kalau kamu memiliki emas dengan gramasi kecil, misalnya 5 atau 10 gram. Kecenderungannya, emas dengan gramasi yang kecil akan lebih mudah dijual. Ke toko emas juga banyak yang mau. Dengan demikian, bisa dibilang emas gramasi kecil akan lebih tepat jika kamu fungsikan sebagai dana darurat, karena cukup likuid.

Jadi, gramasi itu penting, sehingga harus kamu pertimbangkan agar bisa disesuaikan dengan tujuan keuanganmu.

Nah, demikianlah sedikit fakta mengenai investasi emas yang harus kamu ketahui. Semoga cukup jelas ya, sekarang. Semoga juga dapat membantumu untuk mengambil keputusan terkait pengelolaan asetmu.

Sampai ketemu di artikel berikutnya.