Serba-Serbi Investasi Deposito yang Wajib Diketahui dan Tip Terbaiknya

Investasi deposito ini sebelumnya cukup populer, terutama ketika investasi saham dan reksa dana belum semudah sekarang. Biasanya deposito ini jadi instrumen investasi favorit para ibu rumah tangga nih.

Deposito bisa dibilang mirip dengan tabungan berjangka. Tapi kalau kamu pengin tahu beda deposito dan tabungan, kamu bisa baca artikel yang sudah ditautkan. Jangan lupa, habis baca, balik sini lagi ya.
Deposito menjadi salah satu instrumen favorit karena dinilai aman. Hmmm, benarkah aman? Makanya, coba kita bahas yuk kali ini, semua tentang investasi deposito.

Pengertian Investasi Deposito

Deposito merupakan salah satu produk perbankan, di mana memungkinkan nasabah untuk menyimpan dananya, dan oleh pihak bank, dana tersebut diputar dan dikelola sehingga bisa menghasilkan bunga yang kemudian dikembalikan pada nasabah dalam jangka waktu tertentu.

Untuk membuka rekening deposito, kamu hanya perlu pergi ke bank pilihanmu, dan mengurus semuanya di sana. Cukup mudah dan cepat kok prosedurnya. Paling-paling kamu hanya diminta untuk membuka rekening tabungan saja. Jangan lupa bawa identitas diri ya.

Jenis-jenis Deposito

Ada beberapa jenis investasi deposito yang dikenal di Indonesia. Mereka adalah:

Deposito Berjangka

Yaitu investasi deposito berjangka waktu tertentu yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan nasabah, yang bervariasi tergantung kebijakan bank masing-masing. Ada yang 3 bulan sampai 2 tahun. Ini adalah jenis deposito yang paling populer.

Biasanya ada 2 jenis yang ditawarkan oleh bank untuk deposito berjangka ini. Yang pertama adalah deposito Automatic Roll Over (ARO), yaitu deposito yang secara otomatis diperpanjang ketika jatuh tempo tiba sehingga nasabah tak perlu mengurusnya ke bank; dan deposito non-ARO, yang kebalikan dari ARO, tidak ada perpanjangan secara otomatis jika jatuh temponya tiba. Nasabah harus mengurus lagi ke bank, kalau misalnya pengin mendepositokannya kembali atau mau menambah jumlahnya.

Sertifikat deposito

Nah, sebenarnya jenis investasi deposito satu ini sudah pernah dibahas secara mendalam juga di web ini. Sila ditengok ya.

Pada dasarnya, sertifikat deposito ini sama saja cara kerjanya dengan deposito berjangka di atas.

Bedanya, nama pemilik tidak dicantumkan dalam sertifikat deposito ini, sehingga kita bisa dengan mudah memperjualbelikannya di pasar sekunder sebagai komoditi yang cukup menguntungkan. Barangsiapa memiliki surat fisiknya dapat mencairkan sertifikat deposito dengan sangat mudah.
Karenanya, sertifikat deposito sering menjadi instrumen yang dipakai sebagai hadiah, kado, ataupun warisan.

Deposito on call

Jenis investasi deposito yang ketiga ini biasanya memiliki jangka waktu yang relatif singkat, rata-rata 7 hingga 30 hari. Sedangkan nominalnya bisa sangat besar, antara Rp50 juta sampai dengan Rp100 juta. 

Berbeda dengan deposito berjangka yang suku bunganya sudah ditentukan, bunga pada deposito on call ini tergantung negosiasi antara nasabah dan pihak bank.

Nah, mana di antara ketiga jenis investasi deposito di atas yang kamu baru dengar?

Suku Bunga Deposito 

Suku bunga yang ditawarkan oleh investasi deposito relatif lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa.
Sekarang sih, suku bunga deposito sedang rendah karena pemerintah sedang dalam program pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Jadi suku bunga deposito yang distandarkan pemerintah sekarang “hanya” 5%, meski banyak bank yang mau menawarkan sampai 6%.

Pastinya sih ini lebih besar ketimbang tabungan yang hanya 2%, bahkan 0% kalau tabungan kita tidak mencapai nominal minimal, ya kan?

Risiko Investasi Deposito

Nah, meski dibilang sebagai instrumen yang sangat aman, tetapi sebagai salah satu produk investasi, deposito tetaplah membawa risiko. Apa saja risiko deposito?

Salah satunya adalah risiko gagal bayar. Ini terjadi ketika bank tempat kamu menyimpan deposito harus dilikuidasi karena berbagai sebab. Namun, kamu bisa tetap tenang sih, karena sampai dengan nominal Rp2 miliar, simpanan danamu di bank mana pun di Indonesia dijamin oleh LPS, atau Lembaga Penjamin Simpanan yang berada di bawah otoritas OJK.

Jadi, semisal hal buruk terjadi, sampai dengan Rp2 miliar, danamu akan kembali. Nah, masalahnya adalah ketika kita sudah menyimpan lebih dari Rp2 miliar itu sih.

Tapi kasus seperti cukup jarang terjadi, sehingga kamu tidak perlu terlalu khawatir.

Kelemahan lain dari deposito adalah adanya penalti yang harus kamu tanggung seandainya kamu harus mencairkan dana di deposito sebelum jatuh tempo tiba. Berapa besaran penaltinya? Tergantung kebijakan bank masing-masing. Ada yang kalau dihitung-hitung, besaran penalti lebih banyak ketimbang bunga. Ya, jadinya malah minus deh.

Ada juga bank yang tidak memberlakukan penalti, tetapi bunga deposito tidak bisa ikut dicairkan. Ya, sama saja sih jadinya, penaltinya diganti dengan bunga.

Tip Terbaik untuk Berinvestasi di Deposito

  • Mulailah dengan menentukan tujuanmu berinvestasi di deposito. Mau dipakai untuk apa dananya nanti? Dengan adanya tujuan yang jelas, kamu bisa memilih jenis dan jangka waktu investasi deposito yang paling sesuai.
  • Bandingkan suku bunga yang ditawarkan oleh bank satu dengan yang lainnya. Biasanya memang bersaing sih, dan kamu sebagai investor, berhak memilih yang paling sesuai dengan tujuan keuanganmu.
  • Pertimbangkan strategi laddering, yaitu membagi dana menjadi beberapa simpanan deposito. Misalnya, kamu punya dana Rp150 juta. Rp50 juta pertama kamu depositokan dengan tenor 3 bulan, 50 juta berikutnya jangka waktunya 1 tahun, dan 50 juta yang terakhir kamu depositokan untuk jangka waktu 2 tahun. Dengan demikian, kamu bisa mendapatkan siklus jatuh tempo berbeda-beda, yang bisa memberikanmu uang tunai lebih cepat yang bebas penalti.

Nah, gimana nih? Sudah benar-benar siap mau investasi deposito sekarang? Oke, pergilah ke beberapa bank, cari informasi, dan segera lakukan analisis termasuk perbandingan suku bunga ya.
Happy investing now!