3 Jenis Investasi Jangka Pendek yang Perlu Dikenal Investor Pemula

Para pembaca Value! pasti punya banyak cita-cita, alias tujuan keuangan. Betul? Tinggal prioritas saja; mana yang urgent, mana yang masih bisa ditunda; mana yang harus segera dipenuhi dan mana yang harus dicicil pemenuhannya. Karena itu, ada investasi jangka pendek dan ada pula investasi jangka panjang.

Tenang, keduanya akan kita bahas secara khusus dalam masing-masing artikel, tetapi mari kita bahas investasi jangka pendek terlebih dahulu.

Apa Itu Investasi Jangka Pendek?

Investasi jangka pendek adalah instrumen investasi yang jangka waktunya kurang dari 5 tahun; mulai dari hitungan bulan.

Relatifnya, investasi jangka pendek ini rendah risiko, tetapi imbal juga tak setinggi instrumen jangka panjang, pastinya. Sehingga, kita perlu menyesuaikannya dengan kebutuhan kita juga. Kalau instrumen dan tujuan bisa seiring sejalan, hasilnya juga akan sesuai dengan yang diharapkan.

3 Instrumen Investasi Jangka Pendek

1. Deposito

Deposito bisa digolongkan menjadi instrumen investasi jangka pendek, dan FYI, deposito adalah produk perbankan, sehingga simpanannya dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan sampai dengan nominal Rp2 miliar.

Deposito memberikan bunga relatif lebih tinggi ketimbang tabungan biasa. Saat artikel ini ditulis, suku bunga deposito tertinggi yang berlaku adalah sekitar 6%, sedangkan bunga tabungan antara 2 - 3 % saja. Malah ada yang 0% kalau nominalnya tidak mencapai minimal saldo. Namun, bersamaan dengan itu, bunga juga dikenai pajak sebesar 20%.

Setoran awal sih bervariasi, tergantung bank-nya, dengan tenor yang bisa dipilih: 3 bulan, 6 bulan, hingga 2 tahun. Ada deposito ARO dan non-ARO. Nah lo, bedanya apa? Ntar kita bahas tuntas saja di artikel berikutnya.

Bagaimana dengan risiko? Well, kamu tentu paham, bahwa tak ada instrumen investasi yang benar-benar bebas risiko. Begitu juga dengan investasi jangka pendek satu ini. Risiko tetap ada, misalnya seperti risiko gagal bayar jika bank tempat kamu menyimpan deposito tiba-tiba dilikuidasi. Tetapi, seada-adanya risiko, tetap tidak tinggi. Jadi, pemilihan bank adalah koentji.

Di deposito berlaku sistem penalti, jika kamu mengambil dana sebelum jatuh tempo. Ada juga sih deposito yang enggak ada penalti tetapi biasanya bunganya tidak jadi bisa dinikmati oleh nasabah.
Nah, kita akan bahas tentang deposito ini di artikel yang lain dengan lebih panjang lebar ya.

2. Reksa dana

Reksa dana--kalau boleh dibilang dengan lebih sederhana--memiliki sistem investasi “patungan”. Jadi, kita akan patungan dengan investor lain yang menyetorkan dana investasi ke manajer investasi yang sama, yang kemudian oleh si manajer investasi, dana tersebut dikelola sedemikian rupa sesuai permintaan ke berbagai instrumen investasi yang ada.

Ada 2 jenis reksa dana yang cocok dimanfaatkan sebagai instrumen investasi jangka pendek, yaitu reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap. Keduanya berbeda dari sisi proporsi instrumen antara produk pasar uang dan produk obligasi. Kita juga akan membahas mengenai masing-masing reksa dana ini dalam artikel-artikel khusus. So, stay tuned!

Yang perlu kamu pahami lagi adalah soal risiko dan imbal. Reksa dana pasar uang dikenal sebagai jenis reksa dana yang paling minim risikonya (dan bukan berarti tanpa risiko), sedangkan reksa dana pendapatan tetap, bisa dibilang, risikonya agak lebih tinggi dibanding reksa dana pasar uang tetapi tetap dikategorikan sebagai risiko rendah

3. Obligasi

Alias surat utang. Nah, kalau investasi obligasi ini sudah dibahas di artikel beberapa waktu yang lalu. Kalau kamu belum baca, sila coba diintip ya. Sudah lumayan detail penjelasannya.

Obligasi ada beberapa jenis, dengan karakteristiknya masing-masing juga, sehingga kamu juga perlu untuk menyesuaikannya dengan tujuan keuangan dan juga profil risikomu.

Karena kita sedang membahas mengenai investasi jangka pendek di sini, sehingga ada satu “rule” yang harus kita pegang dalam merencanakannya, yaitu rasa aman.

Obligasi memang ada beberapa jenis, tetapi yang cocok untuk dijadikan sebagai instrumen investasi jangka pendek adalah obligasi pemerintah. Baik Saving Bond Ritel, atau Obligasi Ritel Indonesia, ataupun Sukuk Ritel dan Sukuk Negara Tabungan, semuanya sama-sama obligasi pemerintah, dan kesemuanya merupakan instrumen yang baik digunakan untuk tujuan jangka pendek.

Tapi sekali lagi perlu kamu ingat ya, bahwa risiko rendah bukan berarti tanpa risiko sama sekali. Tetap ada risikonya, mulai dari risiko gagal bayar, capital loss, dan juga tetap terpengaruh oleh pasar ekonomi secara umum. Nah, untuk mempelajari risikonya, sudah diulas juga dengan cukup lengkap di artikel mengenai investasi obligasi yang sudah ditautkan di atas.

Nah, itu dia 3 jenis atau instrumen investasi jangka pendek yang perlu kamu tahu, dan perlu juga kamu manfaatkan sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risikomu.

Kalau mau mulai berinvestasi dari sini, maka kamu harus selalu ingat ya:

  • Sesuaikan dengan tujuan keuanganmu
  • Cermati grafik kinerja instrumen tersebut sebelumnya, terutama reksa dana. Manajer investasi akan menjadi pengelola dana investasimu, sehingga adalah penting untukmu bisa memilih manajer investasi yang sesuai.
  • Diversifikasikan, dalam berbagai instrumen dan berbagai sektor, demi meminimalkan rasio risiko.

So, happy investing, kawan-kawan! Semoga tujuan keuanganmu bisa lekas tercapai ya!