Teman Atau Keluarga Butuh Uang di Masa Sulit: Pinjemin Enggak Ya?

Pandemi COVID-19 membawa masalah keuangan buat sebagian besar warga dunia, tak terkecuali di Indonesia. Nggak perlu jauh-jauh, coba lihat kanan-kiri, bahkan keluarga sendiri. Adakah yang kena imbas dari perekonomian yang terpuruk ini? Mungkin, ada salah satu atau dua di antara mereka sudah datang padamu, mengutarakan kesulitannya, dan mengaku terus terang bahwa mereka butuh uang untuk survive.

Lalu, apa yang harus kamu lakukan? Ada yang lagi bingung, antara mau kasih pinjaman dana atau bantu saja dengan doa?

Dilema memang ya. Kasih pinjaman dana, takutnya kalau enggak dikembalikan. Mau cuek, ya kan ada orang lagi kesulitan dan butuh uang. Sudah kewajiban kita untuk membantunya jika memang kita mampu.

Memang enggak sesederhana itu untuk memutuskan memberi pinjaman dana atau enggak, karena pinjaman dana secara pribadi ini cukup berisiko.

Jadi, gimana? Berikut beberapa pertimbangan yang bisa kamu pikirkan, apakah sebaiknya kamu membantu teman atau keluarga tersebut untuk mengatasi masalahnya ataukah kamu menghindar saja.

7 Pertimbangan Apakah Bantu Teman atau Keluarga yang Butuh Uang

1. Cek kondisi keuanganmu sendiri

Bagaimanapun kamu punya niat besar untuk membantu teman atau keluarga yang butuh uang, tetapi paling penting adalah jangan sampai membahayakan dirimu sendiri.

Mintalah waktu untuk berpikir, jika mereka datang padamu dan meminta bantuan. Lalu, coba lakukan financial check up terhadap kondisi keuanganmu sendiri. Apakah saat ini keuanganmu sudah sehat; bagaimana rasio utang, rasio menabung, dan rasio likuiditasmu? Bagaimana dengan aset? Masih terkondisikan dengan baik?

Apakah kamu bisa memenuhi kebutuhan hidupmu sehari-hari tanpa kesulitan? Dari pengeluaran rutin itu, apakah kamu tetap bisa menabung tanpa kesulitan juga?

Jika semua lancar dan tampak sehat, maka boleh saja kamu pertimbangkan untuk memberi bantuan terhadap teman atau keluarga yang butuh pertolongan tersebut.

Ingat, jangan sampai kamu menolong orang lain, tapi kemudian membuat dirimu sendiri harus ditolong juga oleh orang lain. Nggak lucu.

2. Putuskan saat tidak sedang emosional

Adalah penting bagi kita untuk memutuskan segala sesuatu saat tidak sedang emosional, karena emosi dapat membiaskan logika.

Mungkin teman atau keluargamu datang padamu dengan membawa kisah sedih nan pilu plus mengharukan yang mengiris-iris hati *oke, ini lebay*. Kamu boleh mendengarkannya, dan ikut bersimpati. Ya, malahan harus. Kamu harus menunjukkan simpati.

Namun, ketika kamu sampai pada waktu harus mengambil keputusan, usahakanlah untuk mengalahkannya lebih dulu.

Ajak pasanganmu atau siapa pun yang kamu percayai untuk berdiskusi, agar kamu tak perlu memutuskannya sendirian. Ya, apalagi pasangan suami atau istri sih, harus banget diajak diskusi jika memang kamu menemui situasi seperti ini.

3. Kalau memang mau bantu, pakai uang dingin

Nah, kalau kemudian, dengan berbagai pertimbangan di atas, kamu akhirnya memutuskan untuk memberi bantuan, maka sekali lagi pastikan, hanya meminjamkan dana dingin--yang artinya, bukan uang yang kamu pakai untuk membiayai hidupmu setiap harinya, atau uang lain yang akan segera digunakan.

Misalnya, sebulan lagi mesti bayar uang tahunan sekolah anak-anak. Ya, jangan dipinjamkan atau dihibahkan. Kebutuhan kita tetap harus menjadi prioritas utama.

4. Kalau enggak mau bantu, persiapkan jawaban yang cerdas

Nah, kalau ternyata kamu tidak bisa membantu teman atau keluarga yang butuh uang tersebut, maka kamu perlu memberi jawaban yang cerdas.

Beberapa alternatif jawaban yang bisa kamu pakai:

  • “Duh, kata istri/suami, uangnya belum bisa dikemana-manain dulu, karena bulan depan ada kebutuhan.” - paling enak memang pakai senjata “suami” atau “istri”, tapi pastikan kamu memang punya suami atau istri ya.
  • “Bulan depan, aku ada cicilan juga nih, yang kalau telat bakalan kena denda. Maaf ya, nggak bisa bantu.” - Tunjukkan bahwa kamu juga sedang mengalami kesulitan yang sama dengannya.
  • “Wah, maaf ya. Sekarang aku juga lagi dalam posisi enggak bisa meminjamkan uang.” - Tanpa perlu penjelasan kenapa, karena bagaimanapun uangmu adalah privasi kamu.

Kamu bisa mereka-reka jawaban penolakan yang lain juga. 

5. Jika sudah bantu, persiapkan mental untuk berbagai kemungkinan

Sebaliknya, jika kamu memang mau membantu, maka saat itu juga kamu mesti siap mental untuk berbagai kemungkinan dan risiko.

Yang seperti apa? Saat si peminjam dana nggak bisa mengembalikan uang yang dia pinjam. Risiko ini harus benar-benar dipahami sejak awal, sejak kamu mempertimbangkan mau membantunya atau enggak. Even ketika orang itu keluarga atau teman sedekat apa pun yang kamu percayai banget, risiko ini akan selalu ada. 

Jadi, bersiaplah untuk kemungkinan yang paling buruk ya. Sabar, dan jangan panik.

6. Jaga tali kekeluargaan/pertemanan

Ini dia alasan pertama kenapa kamu harus memikirkan risiko gagal dikembalikan sejak awal. Karena personal loan, atau pinjaman pribadi seperti ini, memang sangat rentan konflik.

Sudah banyak kasus, ketika tali kekeluargaan atau pertemanan putus karena permasalahan uang. Sedih banget loh, kehilangan keluarga atau teman tuh. Masa jadi berantakan hanya karena masalah begini?

7. Kalau perlu, buat perjanjian

Nah, ini sih saran terbaik kalau memang kamu pengin lebih memastikan danamu akan kembali (meski tetap harus bersiap dengan risiko gagal dikembalikan sih).

Buat perjanjian utang, yang isinya antara lain:

  • Identitas peminjam dana
  • Jumlah dana yang dipinjam
  • Jatuh tempo pengembalian
  • Besar bunga, jika ada
  • Sistem pembayarannya. Misalnya, jika dicicil, dalam berapa kali cicilan lalu lunas? Kalau mau langsung dilunasi, bagaimana sistemnya? Cash, atau transfer? Dan sebagainya.
  • Konsekuensi jika lebih cepat atau terlambat bayar

Nah, pada akhirnya, keputusan tetap di tangan kamu, apakah kamu memang mau membantu keluarga atau teman dekat yang butuh uang ini, ataukah tidak. Nggak ada orang yang bisa memaksamu untuk meminjamkan dana pribadi.

So, pikirkan dan pertimbangkan dengan bijak ya.