Belajar Investasi Derivatif: Investasi yang Konon Risikonya Lebih Tinggi dari Saham

Pernahkah kamu mendengar tentang investasi derivatif? Mungkin belum ya. Memang instrumen investasi satu ini tidak begitu populer sih. Nggak seperti ‘teman’-nya, saham, obligasi, dan reksa dana, yang sangat populer di kalangan pada investor pemula. Padahal, derivatif ini juga diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia sebagai salah satu produk pasar modal loh! Tapi, ‘gaung’-nya memang nggak sekencang instrumen yang lain.

Meski demikian, ada baiknya juga kalau kamu kenalan dengan produk investasi satu ini. Bisa sekadar tambah pengetahuan, pun siapa tahu, suatu hari nanti ternyata instrumen ini juga kamu pertimbangkan untuk bergabung dalam portofoliomu.

Apa Itu Investasi Derivatif?

Dalam finansial, secara umum, derivatif adalah istilah untuk menyebut sebuah surat kontrak antara dua pihak ataupun lebih, yang dibuat sebagai tanda perjanjian jual beli aset atau komoditas tertentu, kemudian bisa menjadi salah satu alternatif investasi.

Nah, nilai dari surat perjanjian ini di masa depan nanti akan dipengaruhi oleh harga aset atau komoditas yang diperjualbelikan tersebut. Kalau misalnya, aset atau komoditasnya ternyata nilainya naik di masa depan, maka surat kontrak ini juga mengikuti.

Sejarahnya, derivatif muncul pertama kali sebagai usaha pemerintah Amerika Serikat untuk menjamin harga panen gandum, di tahun 1848. Dengan adanya derivatif perdagangan gandum, petani bisa menjual gandumnya di masa depan dengan “harga saat ini”, meski misalnya harga gandum merosot karena panen berlimpah. 

Sudah disebutkan di atas, bahwa derivatif juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan komoditi berupa saham, obligasi, currency atau mata uang, dan instrumen keuangan lainnya. Ada pula derivatif dengan komoditi berupa produk--yang bukan diawasi oleh BEI, pastinya, melainkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Nah, ini sih perkara lain lagi, sehingga enggak akan dibahas dalam artikel kali ini.

Jenis-Jenis Investasi Derivatif

Ada beberapa jenis investasi derivatif yang wajib diketahui, yaitu:

1.Futures

Futures, sering juga disebut dengan kontrak berjangka, yang adalah surat berharga yang diperjualbelikan di bursa berjangka. Para investor akan bertransaksi atas suatu aset atau komoditi untuk masa yang akan datang, dengan harga yang sudah ditentukan.

Contohnya seperti apa sih?

Mari pakai contoh yang gampang. Katakanlah, kamu akan butuh minyak 1000 liter di masa depan. Tetapi dengan harga minyak yang fluktuatif, maka kamu merasa waswas, jangan-jangan 6 bulan lagi, harga minyak nggak bagus. Maka kemudian, kamu mencari penjual yang mau mengadakan perjanjian, bahwa dia akan menjual minyaknya seharga Rp20.000/liter, 6 bulan lagi. Ini berarti, 6 bulan lagi kamu harus mengeluarkan uang sejumlah Rp20.000.000 untuk membeli 1000 liter minyak yang kamu butuhkan.

Jika, 6 bulan lagi, ternyata harga minyak Rp10.000/liter, maka si penjual akan untung besar, dan kamu rugi. Tetapi, kalau 6 bulan lagi harga minyal ternyata Rp25.000/liter, maka kamulah yang dapat untung, sedangkan penjual akan merugi.

Inilah yang disebut dengan “future contract”. Kedua belah pihak--baik penjual ataupun pembeli--bisa dibilang sama-sama spekulasi.

Tetapi, selain untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga, jenis investasi derivatif ini juga memberikan perlindungan nilai. Ya kayak kisah para petani gandum di AS, yang menerima perjanjian kontrak dagang di AS demi menstabilkan harga panen mereka itu. 

Perdagangan future contract ini diwadahi secara resmi oleh lembaga yang disebut Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Ada 4 macam produk yang aktif diperjualbelikan; emas, kontrak gulir emas, kontrak gulir indeks emas, dan minyak sawit. Ada pula beberapa indeks future contract lainnya--seperti Indeks Nikkei 224, Indeks Hang Seng 33, dan Indeks Kospi 200.

2.Option

Atau biasa juga disebut opsi, yang memberikan hak pada pemegang surat berharga untuk bertransaksi jual beli aset dengan satuan harga yang sudah ditentukan, saat atau sebelum tanggal jatuh tempo.
Bedanya dengan futures yang wajib membeli aset yang sudah diperjanjikan, kalau opsi “hanya” memberikan hak. Kalau misalnya, ternyata enggak jadi beli, ya enggak ada konsekuensi. Nggak apa-apa.

Dalam opsi, ada dua jenis surat kontrak yang berbeda lagi, yaitu call option--yang memberikan hak pada pemilik untuk membeli saham penerbit surat opsi dengan harga dan periode tertentu, dan put option--yang memberikan hak pada pemilik untuk menjual saham perusahaan penerbit surat opsi dalam jumlah tertentu.

3.Swap

Yaitu jual beli yang dilakukan secara bersamaan antara dua pihak atas sejumlah maya uang dengan mata uang yang lain, dan kemudian mempertukarkannya kembali suatu saat nanti, yang sudah ditentukan juga waktunya. 

Menariknya, kegiatan ini kebanyakan dilakukan di luar bursa. Biasanya swap dilakukan demi mendapatkan kepastian suku bunga atau kurs yang fluktuatif, sehingga kerugian atas selisihnya bisa diminimalkan.

Risiko Investasi Derivatif

Bisa dibilang, investasi derivatif ini adalah investasi dengan risiko yang paling tinggi, bahkan melebihi investasi saham, lantaran basisnya adalah kontrak perdagangan. Namun, tentu saja, risiko yang sangat tinggi juga diiringi dengan imbal yang juga sangat besar. Ya, seperti “hukum” investasi pada umumnya.

Coba deh, dibaca lagi. Proses investasi di instrumen derivatif ini sangat tergantung pada kemampuan kita “membaca” pasar aset dan komoditi di masa depan. Jadi, akan didominasi oleh spekulasi. Hal inilah yang memunculkan risiko kerugian yang sangat tinggi, jika kita tidak bisa “meramal” arah nilai pasar di masa depan. Bahkan, Opa Warren Buffett saja menyebut instrumen ini adalah instrumen investasi yang sangat berbahaya loh.

Nah, kalau sudah begini, gimana? Apakah kamu tertarik juga untuk mencoba mendalami investasi derivatif? Ya, kenapa enggak, jika kamu memang mampu kan? Atau, setelah membaca artikel ini, kamu memutuskan untuk cukup tahu aja?

Ya, either way, adalah baik untuk selalu belajar dulu sebelum mulai benar-benar ikut nyemplung ke kolam investasi, ya kan? Apa pun jenis investasinya, sesuaikan dengan tujuan dan juga profil risikomu.