Mengelola Utang di Tengah Pandemi dan New Normal

Di masa pandemi COVID-19 ini, pemerintah telah mengumumkan kebijakan terkait relaksasi kredit atau utang bagi masyarakat terdampak setidaknya hingga setahun ke depan. Nah, apakah kamu termasuk dalam golongan “masyarakat terdampak” yang kemudian diberikan keringanan ini? Kalau iya, apa yang perlu kamu lakukan kemudian demi mengelola utang sehingga kamu bisa tetap survive sampai masa tanpa kepastian ini berakhir?

Memang tricky, karena di masa-masa normal saja, banyak dari kita yang mengalami kesulitan untuk membayar utang, apalagi di masa-masa sulit seperti ini. Lalu, bagaimanakah skema pengelolaan utang kita seharusnya di tengah pandemi dan menjelang masa new normal seperti ini?

Kan enggak mungkin juga kita memprioritaskan pembayaran cicilan, sedangkan kebutuhan hidup pokok yang lain diabaikan?

Mari dicoba untuk mengelola utang dengan cara berikut!

1. Cek utang saat ini

Hal pertama yang harus kamu ketahui adalah besaran realistis utang yang menjadi beban kamu. Dengan diketahuinya jumlah utang secara pasti, maka kemudian kamu akan bisa membuat perencanaan pengelolaannya.

Coba cek dan review:

  • Jangka waktu utang masih berapa lama lagi?
  • Jumlahnya masih kurang berapa banyak?
  • Cek, utang mana yang memiliki bunga tertinggi

Lakukan review secara menyeluruh; utang kartu kredit, kredit kendaraan, kredit kepemilikan rumah alias KPR, kredit tanpa agunan, kredit panci, kredit blender, dan kredit-kredit lainnya. Kalau perlu, kamu buat catatan khusus untuk mengelola utang ini, di samping catatan anggaran belanja dan pengeluaran kamu.

Dengan begini, kamu akan mudah memantau pergerakannya, dan bahkan bisa mengantisipasi jika ada kondisi yang menghambatmu membayar cicilan.

2. Cek pemasukan

Apa kabar pemasukanmu saat ini? Apakah berkurang; karena kamu dirumahkan, hanya dibayar gaji pokok, dikurangi sekian persen, atau malah hilang sama sekali? Atau--Alhamdulillah--kamu masih punya gaji dengan jumlah yang tetap dan stabil? Atau, malahan, pemasukanmu bertambah lantaran kamu berbisnis barang-barang esensial yang justru dibutuhkan oleh orang banyak di tengah masa pandemi ini?

Apa pun kondisinya, cek dan catatlah: berapa besarnya pemasukanmu secara riil dan total? Setelah itu, bandingkan dengan utangmu. Oh, Value berharap, rasio utangmu masih di bawah atau sama dengan 30% dari penghasilanmu.

Kalau lebih, gimana? Cek kondisi dana darurat, dana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari kebutuhan dapur, listrik, uang sekolah anak, dan lain sebagainya. Apakah terpenuhi?

Kalau skemamu menunjukkan bahwa beban utangmu terlalu berat, berarti, kamu harus segera membuat rencana realistis untuk menguranginya hingga di bawah 30%, atau menambah pemasukan sehingga bisa menjadikannya di bawah atau sama dengan 30%.

3. Ajukan relaksasi

Sekarang waktunya kamu untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah, yaitu mengajukan keringanan kredit, jika memang kamu benar-benar kesulitan untuk melakukan cicilan lantaran kamu terdampak oleh pandemi COVID-19.

Caranya bagaimana? Kamu bisa melihatnya di artikel yang membahas mengenai cara mendapatkan keringanan pembayaran utang ini. Cermati setiap prosedurnya, lengkapi persyaratannya, dan segera ajukan permohonan keringanannya.

Bagaimanapun pihak pemberi kredit juga enggak mau jika sampai kreditmu menjadi kredit macet. Apalagi jika selama ini, kamu memiliki reputasi baik dalam memenuhi kewajiban membayar cicilan utang. Pihak kreditur pasti akan mempertimbangkannya.

4. Hidup lebih hemat

Yah, enggak ada yang bisa kita lakukan selain hidup lebih hemat lagi. Coba cek catatan keuanganmu, apakah ada pos-pos yang bisa dikurangi, ditunda, atau bahkan dihilangkan?

Misal kamu punya pos investasi, di masa darurat seperti ini, boleh-boleh saja kok kalau kamu “libur” dulu investasinya, dan memprioritaskan pos lain yang lebih urgent. Pos pembayaran utang, salah satunya. So, pos investasi bisa kamu pakai dulu.

Pos lain juga bisa kamu cek dengan cara yang sama. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, “Kalau umpamanya kebutuhan ini ditunda, hidupku apakah akan baik-baik saja? Atau, bakalan terjadi apa, kalau semisal kebutuhan ini dihapus saja?”

Buatlah anggaran belanja setiap bulan, dan catat setiap pengeluaran, agar semua bisa terpantau dengan baik.

5. Cek aset lancar

Aset lancar bisa menjadi salah satu solusi untuk mengelola utang dengan lebih baik. 

Apa itu aset lancar? Aset lancar adalah salah jenis aset yang dapat dicairkan dan dipergunakan dalam waktu dekat. Aset lancar merupakan bentuk simpanan dana yang bisa dipergunakan sewaktu-waktu. Aset lancar bisa termasuk dalam hitungan dana darurat, tetapi bisa juga terpisah.

Apa saja yang termasuk dalam aset lancar? Yaitu uang tunai, tabungan, logam mulia, wesel atau cek yang belum diuangkan, gaji atau fee yang akan segera diterima, investasi jangka pendek termasuk imbalnya, dan piutang yang bisa segera diterima.

Jika kondisinya benar-benar mendesak, kamu bisa menjual asetmu itu, atau mencairkannya biar bisa jadi tambahan cicilan utang.

6. Bayar dari jumlah terkecil atau bunga tertinggi

Ini adalah trik mengelola utang sejuta umat. Seharusnya, kamu juga sudah tahu sih akan hal ini, dan artikel hanya sebagai reminder.

Kamu sudah membuat daftar cicilan utang bukan? Adalah penting bagi kamu untuk bisa mengurangi beban utang tersebut, agar cicilan setiap bulannya bisa lebih ringan. So, coba cek, utang manakah yang nominalnya paling kecil? Kamu bisa melunasinya lebih dulu, agar bebanmu berkurang. Misalnya, kredit panci yang “hanya” Rp500.000 saja. Setelah diperhitungkan, ternyata cicilannya bisa kamu lunasi dari dana darurat. Ya sudah, enggak perlu ditunda lagi, segera lunasi.

Skema kedua yang bisa kamu lakukan adalah melunasi utang yang memiliki bunga yang paling tinggi. Misalnya saja, kamu punya utang kartu kredit dan kredit tanpa agunan. Dua-duanya sama-sama memiliki tingkat bunga yang tinggi, lalu yang mana yang harus dilunasi lebih dulu?

KTA--alias kredit tanpa agunan--biasanya akan memberimu penalti atau denda jika kamu melunasi lebih cepat atau membayar dengan nominal yang lebih tinggi dari kesepakatan, sedangkan kartu kredit enggak. Maka, lunasi saja utang kartu kredit terlebih dahulu.

Tanpa beban utang kartu kredit, kamu akan lebih leluasa mengelola utang yang lainnya lagi.

Nah, demikianlah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengelola utang di tengah masa pandemi COVID-19 dan new normal yang akan datang.

Semoga utangmu segera beres ya, dan kamu bisa segera berkurang bebannya.