Perlukah Mengubah Tujuan Keuangan Karena Efek Pandemi dan Menghadapi New Normal?

Lagi-lagi kita akan ngomongin soal efek pandemi dan menghadapi new normal dari sisi keuangan nih, yaitu tentang tujuan keuangan.

So, so far, sudah ada perubahan apa saja terhadap rencana keuangan yang sudah pernah kamu tetapkan? Adakah yang “terancam” lantaran kondisi yang berubah akhir-akhir ini?

Well, you’re not alone. Hampir yaqin dan pasti, bahwa banyak orang yang juga harus mengubah (at least, menyesuaikan) berbagai rencana--nggak hanya rencana keuangan saja--selama pandemi berlangsung, sampai nanti saat the new normal kita jalani.

Perasaan tidak sendirian menjalani masa sulit ini semoga bisa membuatmu mampu bertahan ya. Penting, karena ini bisa agak mengurangi beban mental, secara tak langsung.

Mari kembali ke tujuan keuangan.

Bahwa sah-sah saja jika kemudian kita mengubah rencana dan tujuan keuangan menyesuaikan kondisi yang ada.

Terus, apa saja yang bisa kita lakukan demi tujuan dan rencana keuangan yang lebih baik ke depannya? Simak deh, sampai artikel ya.

5 Hal tentang Perubahan Tujuan Keuangan di Masa Pandemi dan New Normal

1.Cobalah untuk nggak terlalu khawatir mengenai tujuan keuangan jangka panjang.

Kalau misalnya, kamu punya rencana untuk pensiun tahun depan, maka mungkin kamu akan merasa khawatir. Itu wajar. Tapi kalau misalnya kamu masih akan pensiun 20 tahun lagi, lepaskan saja gelisahmu. 

Jika kamu berinvestasi di pasar saham, misalnya, untuk dana pensiun, maka biarkan saja dulu. Sudah biasa kalau pasar modal bergejolak dan berfluktuasi. Hanya saja, kalau biasanya disebabkan oleh angin, maka sekarang gelombang fluktuasinya bisa diibaratkan bagai terhantam tsunami.
But, eventually, pasar modal akan selalu bounce back. Tidak dengan segera, tetapi sejarah membuktikan, pasti akan kembali normal bahkan membaik.

Jadi, jika kamu memiliki investasi jangka panjang yang sekarang sedang menurun kondisinya, kamu bisa memilih hold atau malah serok saja mumpung dapat diskon.

Apalagi jika keranjang telurmu ada banyak dan dana daruratmu aman. Kamu enggak perlu khawatir sama sekali.

2.Bagaimana dengan tujuan jangka pendek?

Misalnya, kamu sudah menabung selama setahun demi bisa liburan ke Jepang tahun 2020 ini. Well, mengingat adanya pembatasan ruang gerak--terutama antarnegara--yang terjadi sekarang, sepertinya kamu memang mesti menunda rencanamu yang satu ini.

Setidaknya, sampai tahun depan, kondisi pembatasan ini pasti masih akan bertahan. Jika kamu memang butuh liburan, staycation sepertinya akan jadi pilihan yang paling bagus.

Bagaimana dengan tabungannya? Staycation enggak akan butuh uang sebanyak traveling ke Jepang kan?

Nah, bisa kamu manfaatkan deh, untuk tujuan keuangan kamu yang lain, yang lebih penting. Misalnya, dialokasikan ulang ke dana pensiun, atau dana rumah pertama. Atau, paling urgent: dana darurat.
Atau, misalnya, kamu sudah menabung untuk ambil kuliah pascasarjana tahun depan. Saat ini, mungkin setelah kamu perhitungkan, tabungan kamu enggak akan cukup sampai ke target. Nah, kamu bisa mempertimbangkan untuk mengganti instrumen atau memperpanjang horizon waktumu. Atau, bisa juga kamu mencari alternatif sekolah pascasarjana lain yang lebih terjangkau tapi sama program studinya.

3.Buat pemasukan lain

Sebenarnya, realistis saja, pandemi dan masa new normal ini membuat kita jadi lebih kreatif. Terbukti, sekarang banyak bisnis baru bermunculan, sebagai “buah” dari menurunnya sektor yang lain.
So, selalu ada blessings in disguise. Betul enggak?

Kamu juga bisa memanfaatkan peluang ini. Ayo, kreatif! Adakah sesuatu yang bisa kamu “sulap” menjadi penghasilan baru? Bahkan, ini bisa jadi kesempatan emas buat kamu yang kemarin-kemarin sudah punya niat untuk berbisnis tapi enggak pernah punya waktu lantaran terlalu sibuk sama kerja kantoranmu. Mumpung lagi slowing down, bisa nih, kita ulik-ulik rencana bisnis sendiri.

Menurut pengusaha dan business coach, Jessica Glazer, sebenarnya penghasilan hanyamerupakan “dampak”. So, ketika kamu bisa tahu dengan tepat apa yang ingin kamu tawarkan pada orang lain untuk membantu mereka, maka dari situlah kamu sudah mendapat peluang untuk menghasilkan uang.
Tambahan penghasilan lagi tentu akan sangat bisa berfaedah di masa-masa begini. Buat nambah-nambah tabungan, buat topup reksa dana, buat serok-serok saham diskonan. Tujuan keuangan kamu pun mungkin tak perlu diubah sama sekali.

4.Luangkan waktu untuk belajar keuangan lebih banyak

Seperti yang disebutkan oleh Ellen Yin, pendiri Cubicle to CEO, kamu harus menganggap uang sebagai kendaraan atau alat untuk mewujudkan mimpi, yang kemudian menjadi tujuan keuangan.

So, meski mungkin akan stressful, tapi ada baiknya kamu belajar keuangan lebih banyak lagi. Selama ini, mungkin kamu mengandalkan manajer investasi untuk mengelola dana investasimu. Itu enggak salah, tapi akan ada baiknya kamu juga belajar untuk melakukannya sendiri, supaya kedewasaan kamu dalam berinvestasi juga bertumbuh. Kamu akan jadi manusia yang lebih bertanggung jawab, begitu kamu tahu gejolak dunia investasi yang sebenarnya. Percaya deh.

Kamu mungkin juga mengandalkan para financial planner untuk mengatur keuanganmu from A to Z. Itu bagus, tapi enggak ada salahnya kamu sekalian “mencuri” ilmu keuangan dari mereka, sehingga ke depannya kamu bisa mengatur keuanganmu sendiri juga, semahir mereka.

5.Bicarakan

Dengan teman-temanmu. Dengan pasanganmu. Dengan anak-anakmu, jika mereka sudah cukup dewasa untuk memahaminya. 

Apa pun masalah keuangan yang sedang kamu perjuangkan, akan selalu lebih baik jika dihadapi bersama orang lain yang (tentu saja) kamu percaya. 

Ingat, bahwa kamu nggak bisa mengendalikan apa pun yang sedang terjadi sekarang, yang kemudian berdampak pada keuanganmu. Selalu ingatlah akan hal ini, agar kemudian tak memengaruhimu secara mental. Membicarakannya dengan orang lain akan dapat meringankan bebanmu. Jika memang mereka punya kapabilitas untuk membantumu secara nyata, ajak mereka diskusi untuk memikirkan solusi-solusinya. Jika enggak, ya sudah, selama mereka mau mendengarkan, itu juga akan meringankanmu kok. Seenggaknya beban akan terbagi kan?

Jadi, kesimpulannya apa nih?

Tujuan keuangan tidak perlu berubah, terutama jika jangka panjang. Untuk jangka pendek, kamu memang akan perlu melakukan penyesuaian yang cocok dengan kondisimu. Tidak pernah hanya ada satu solusi untuk setiap permasalahan keuangan. Semua harus dipikirkan based on single case-nya. So, take your time, do your homework. Karena setiap orang punya permasalahan berbeda, dengan situasi dan kondisi yang berbeda pula.

Lalu, buat rencana keuangan yang lebih baik, untuk ke depannya.

Semangat ya!