Beberapa Prinsip Investasi yang Harus Diingat Ketika Pasar Masih Volatile

Pasar saham telah bergerak dengan begitu liarnya seiring ketidakpastian ekonomi akibat pandemi COVID-19, sehingga periode-periode volatilitas ini pun jadi semacam sinyal bahaya buat kita yang masih punya dana investasi tersimpan di sana. Memaksa kita jadi mikir panjang dan lebar kali tinggi, antara mau terus atau lepas. Well, calm down. Mari kita lihat lagi tujuan dan prinsip investasi yang sudah kita hafal luar kepala itu.

Yang pasti, jika kamu adalah investor yang fokus pada tujuan jangka panjang, maka kamu enggak boleh membiarkan pergerakan jangka pendek volatilitas pasar saham ini terlalu memengaruhi keputusanmu. 

Nah, di sisi lain, kalau kamu punya tujuan keuangan yang sudah dekat dengan investasi yang kamu lakukan sekarang, maka mungkin kamu akan perlu menambahkan aset defensif demi menjaga stabilitas keuanganmu.

Sangat penting, terutama di saat volatilitas pasar, untuk tetap fokus pada rencana keuanganmu yang sudah dibuat sebelumnya. Buatlah keputusan dengan berdasar pada tujuan dan horizon waktu yang sudah kamu tetapkan. Hal ini akan sangat efektif untuk “melawan” segala bentuk dari emosi atau kepanikan yang muncul akibat diPHP oleh pasar. 

Nah, malah sudah bahas prinsip investasi di pengantar. So, mari kita bahas saja langsung beberapa hal yang harus kamu ingat untuk berinvestasi di tengah masa sulit seperti sekarang.

Beberapa Prinsip Investasi yang Harus Diingat di Tengah Volatilitas Pasar

1. Diversifikasi portofoliomu

Portofolio yang sangat terfokus hanya dalam beberapa instrumen investasi bisa sangat berisiko ketika pasar sedang volatile seperti sekarang ini. 

So, inilah prinsip investasi pertama yang harus selalu kamu pegang, bahwa memiliki investasi yang tersebar di berbagai kelas aset, seperti saham, obligasi, dan uang tunai, adalah hal yang sangat penting. 

Instrumen yang beragam akan dapat menjadi respons positif pergerakan pasar yang tak menentu. Akan ada peluang ketika instrumen satu naik, maka instrumen investasi yang lain nilainya akan turun--demikian pula sebaliknya. 

Memiliki beberapa jenis instrumen investasi dengan pertimbangan yang tepat akan dapat membantumu mengurangi dampak kerugian akibat pasar yang bergejolak.
Tanyakan kepada dirimu sendiri:

  • Apakah pergerakan portofolio investasimu sekarang terlalu bergantung pada kinerja satu investasi saja?
  • Apakah kepemilikan instrumen investasimu hanya terkonsentrasi di satu industri, sektor atau negara?
  • Apakah portofoliomu semua sekarang berada di sekuritas yang sama?

2. Tentukan (atau ingat kembali) profil risikomu

Sudah tahu kan, kalau investasi melibatkan pengambilan risiko. So, kamu mesti mau jujur mengakui, seberapa besarkah risiko yang bisa kamu toleransi dengan dana yang sudah kamu investasikan dan kondisi pasar seperti sekarang.

Menentukan toleransi risiko yang bisa kamu tanggung akan dapat memberimu gambaran bagaimana harus mendiversifikasikan portofolio kamu antara saham, obligasi, dan investasi yang lain. Misalnya, alokasi yang lebih besar digunakan untuk saham atau investasi lain yang kamu nilai memiliki potensi kinerja yang baik terutama dalam jangka panjang. Tapi ingat, bahwa kinerja baik juga harus memperhitungkan risikonya juga.

3. Review secara berkala dengan memperhitungkan frame waktu secara luas

Di saat volatilitas pasar yang parah seperti ini, fluktuasi harga mungkin cukup bikin panik sih ya? So, kamu mesti berhati-hati terhadap kondisi pasar jangka pendek, karena mungkin dapat menempatkanmu pada risiko kerugian finansial lebih lanjut. 

Yah, namanya pasar, harga pasti akan naik dan turun. Kamu harus selalu ingat nih. Makanya, untuk mengambil keputusan, kamu harus memperlebar frame waktu. Coba lihat harga saham pada historisnya. Kalau kamu mengamati, pasar saham dunia pernah melalui masa bearish terpanjang selama kurang lebih 3 tahun (915 hari), dan kemudian harus melalui masa pemulihan selama 5 tahun baru deh kembali normal lagi seperti biasa. Ini menurut Schwab Center for Financial Research.

So, prinsip investasi yang harus diingat sampai di sini adalah tetaplah mendiversifikasi portofoliomu, dengan mengacu data historis pasar. Kamu jelas tidak bisa mengontrol naik turunnya pasar, yang bisa dilakukan hanyalah mengevaluasi dan mempertimbangkan setiap keputusan sesuai dengan toleransi risiko dirimu sendiri. 

Tetap ingat pada tujuan keuanganmu. 

4.Tapi, bagaimana jika tujuan keuanganmu sudah dekat?

Well, kalau misalnya tujuan keuanganmu sudah tinggal beberapa tahun lagi (atau malah beberapa bulan lagi), coba pertimbangkan untuk memanfaatkan investasi jangka pendek dulu. Cek dana darurat dan aset lancar. Apakah dengan aset-aset yang ada ini, kamu bisa menutup kebutuhan dananya?

Kalau iya, maka kamu bisa pertahankan investasi jangka panjangmu di pasar saham, sembari menunggu pemulihannya. Meski yah, bisa bikin stres juga sih, mengingat proses pemulihan itu selalu butuh waktu lebih lama ketimbang pas proses jatuhnya. 

Tetapi, yah, setidaknya kebutuhan yang mendesak bisa teratasi dulu, baru kemudian kita bisa mengevaluasi dan mempertimbangkan lagi dengan saksama, langkah-langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengatasi keadaan ini.

Ke depannya, kamu mungkin bisa mempertimbangkan untuk melepas investasi yang paling kurang stabil untuk dialokasikan ke aset yang relatif lebih aman, apalagi jika dananya akan digunakan 4 atau 5 tahun lagi. 

Yah, hang in there ya. Volatilitas pasar yang terjadi sekarang memang bisa jadi semacam ‘shock therapy’ buat investor--apalagi yang masih pemula. Apalah arti jadi investor kalau belum ngalamin yang namanya kena pasar bearish, ya kan? 

Tapi, bertahanlah, karena sebenarnya kita selalu bisa mengevaluasi setiap langkah investasi kita dengan berpegang pada tujuan dan rencana keuangan yang sudah dibuat sebelumnya. Dari situ, kita lantas bisa--entah mengubah strategi atau menyesuaikan diri, sehingga survive melalui masa-masa ketidakpastian akibat krisis ekonomi seperti ini.

Jadi, selalulah membuat rencana keuangan sebelum kamu berinvestasi. Ini penting. Banget.