Kondisi Krisis Ekonomi: Tetap Simpan Uang di Bank atau Simpan Tunai di Rumah?

Kondisi krisis ekonomi yang terjadi akibat COVID-19 akhirnya memang memengaruhi banyak aspek hidup kita. Siapa hayo, yang lantas jadi teringat sejarah krisis moneter di tahun 1998 silam, ketika kemudian berlanjut ke terlikuidasinya bank-bank di seantero negeri? Ngeri nggak tuh, kalau sampai kayak gitu?

Di awal-awal masa pandemi beberapa bulan yang lalu, sempat terdengar saran, bahwa sebaiknya kita menarik saja uang yang sudah kita simpan di bank. Khawatirnya jika krisis semakin memburuk, bank membatasi pergerakan uang keluar, maka akan semakin sulitlah kita membiayai hidup di masa krisis.

Karena saran yang tak tentu rimbanya ini, selama beberapa saat, terlihat antrean di ATM di beberapa tempat. Untungnya, ini tak berlangsung lama. Sepertinya masyarakat Indonesia masih cukup percaya pada lembaga perbankan yang ada di negeri ini. Syukur Alhamdulillah!

Semoga enggak sampai harus seburuk itu sih, jadi, mari kita tetap berharap. Semoga para nasabahnya—yaitu kamu semua—masih tetap percaya pada kinerja perbankan negeri ini, meski tengah dalam masa krisis ekonomi.

Memang betul, dalam hal ini, cash is king! Akan lebih baik jika kita memegang uang cash saat berada dalam krisis ekonomi, lantaran dalam kondisi krisis, segala hal menjadi begitu cepat berubah. Dengan memiliki uang cash, tentu kita akan lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan. Namun, bukan berarti lantas semua uang harus dicairkan juga. Apalagi kemudian hanya disimpan di bawah bantal.

Masih Amankah Menyimpan Uang di Bank dalam Kondisi Krisis Ekonomi Sekarang?

Tentu masih aman. 

Dalam kondisi krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, menyimpan uang di bank masih jauh lebih aman dan menguntungkan dibanding jika kamu menumpuk uang tunai di rumah. Selain pemerintah telah memberikan jaminannya melalui kontrol Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sudah kenal dengan LPS? Kalau begitu, mari kita mulai membahas mengenai topik ini dengan berkenalan dulu dengan LPS.

Apa itu LPS?

Lembaga Penjamin Simpanan ini adalah lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Undang-Undang no. 24 tahun 2004, yang bertugas untuk menjamin dana nasabah yang tersimpan di lembaga perbankan di Indonesia. LPS ini berbadan hukum, dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Setiap bank yang akan melakukan kegiatan usaha di Indonesia, wajib menjadi anggota penjaminan LPS.

Sejak 22 Maret 2007, simpanan kita yang bernilai sampai dengan Rp100 juta dijamin oleh LPS. Nilai maksimum ini berlaku per nasabah ya, yang mencakup pokok serta bunga dan bagi hasil yang menjadi hak kita sebagai nasabah.

Lalu, bagaimana bila kita memiliki simpanan sampai lebih dari Rp100 juta? Berarti enggak dijamin dong? Enggak, tetap dijamin. Tapi, kalau ada apa-apa *knocks on wood*, maka sisa simpanan kita akan dibayarkan dari hasil likuidasi bank tempat kita menyimpan dana.

Mengapa ada nominal maksimal Rp100 juta ini? Karena, per Desember 2006, ada 98% rekening bersaldo kurang atau sama dengan Rp100 juta yang tersimpan di bank-bank seluruh negeri. Iyes, rekening-rekening ini adalah rekening milik para rakyat kecil hingga menengah. Karena LPS didirikan utamanya untuk melindungi rakyat Indonesia secara umum, maka ditetapkanlah angka Rp100 juta sebagai batas atas penjaminan.

Tahun 2008, ketika terjadi krisis ekonomi global, muncullah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 66 tahun 2008 tentang besaran nilai simpanan maksimal yang bisa dijamin oleh LPS menjadi sebesar Rp2 miliar. 

Jenis simpanan di bank yang dijamin oleh LPS mulai dari giro, deposito, tabungan, dan bentuk simpanan lain yang sejenis, yang memenuhi syarat:

  • Tercatat dalam pembukuan bank
  • Tingkat bunga nggak melebihi tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh LPS
  • Tidak pernah melakukan tindakan yang merugikan bank, misalnya kredit macet.


Jadi, Lebih Aman Menabung di Bank?

Iya. Selain enggak dijamin oleh LPS, menyimpan di rumah akan jauh lebih berisiko lantaran ada kemungkinan hilang, misalnya perampokan, pencurian, atau karena bencana alam, misalnya banjir atau kebakaran.

Belum lagi, kalau disimpan di rumah saja, kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan imbal hasil. Ya, meski kalau ditaruh di tabungan juga enggak gede-gede amat sih bunganya. Bahkan kalau di bawah batas nominal minimum, enggak dapat bunga juga, malah terkikis biaya administrasi. 

Tapi kan, produk simpanan bank kan ada bermacam-macam jenis dan masing-masing menawarkan keuntungan yang berbeda. Beberapa jenis simpanan di bank ini bolehlah kita bahas dalam artikel lain ya, biar enggak kebanyakan dan kepanjangan. Seperti deposito, misalnya, bunganya lebih besar daripada tabungan biasa. Minimal setoran juga lumayan terjangkau. Ini bisa jadi pilihan untuk menyimpan uang yang aman, plus ada tambahan hasil perputaran dana. Lebih baik kan, ketimbang disimpan di bawah kasur, terus dimakan rayap. Ouch!

Pun di krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang terjadi di era modern sekarang, kamu akan lebih safe bertransaksi secara online, yang dimungkinkan jika kamu memiliki rekening di bank. Bank yang memiliki berbagai fitur dan fasilitas akan sangat memudahkan kita untuk bertransaksi keuangan dengan pihak lain. Praktis dan juga cepat.

So, biarkan saja uangmu berada di bank saat ini, dan tetaplah menabung! Kamu memang perlu memegang uang cash, tetapi secukupnya saja, tak perlu berlebihan. Lebih banyak menggunakan transaksi online, seperti emoney, ewallet, dan transfer dana juga akan lebih baik di masa krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19 ini.

Sembari kita menunggu kondisi membaik lagi. Semoga, segera.