Apa Kabar Dana Pendidikan Anak yang Sudah Disiapkan di Masa Pandemi Begini?

Kemarin sempat mendengar keluh kesah seseorang. Juni dan Juli adalah waktunya tahun ajaran baru buat anak-anak sekolah. Yang bersangkutan sudah menyiapkan dana pendidikan anak sedemikian rupa dan sudah sekian lama.

Beberapa puluh juta sudah berada di saham, dan di atas kertas sudah meraih imbal yang cukup memuaskan. Beberapa puluh juta yang lain ada di instrumen lain, yang dirasa cukup aman. Rencananya sih, bulan Juni nanti, yang bersangkutan akan mencairkan sebagian dana pendidikan anak ini, untuk membayar uang pangkal sekolah anaknya.

Tapi, apa lacur, pandemi virus corona menerjang bak badai. Tsah. Intinya, seperti yang kita tahu, banyak instrumen investasi terkoreksi, rapornya buruk sekali sejak awal tahun kemarin.

Intinya, si ayah yang sudah merasa merencanakan dana pendidikan anak dengan baik di tahun-tahun sebelumnya, enggak sempat mencairkan dananya sehingga ikut tergulung krisis akibat pandemi corona.

Lihatlah kondisi pasar modal sekarang. Masih morat-marit, naik-turun enggak jelas, volatilitasnya masih sangat tinggi. Rasanya, nggak mungkin Juni nanti sudah pulih seperti sediakala.

Terus, gimana dong? Apa yang harus dilakukan? The show must go on, right? Right.

5 Hal untuk Mengecek Dana Pendidikan Anak di Masa Pandemi

1. Cek posisi sekarang

Mari kita tetap tenang, karena tenang adalah koentji supaya bisa berpikir dengan jernih. Tanpa tenang, yang ada kita panik, dan justru nggak fokus mencari solusi. Betul?

So, mulailah dari mengecek posisi dana pendidikan anak yang sekarang sudah ada. Lakukan check up secara menyeluruh, meliputi dananya tersebar di mana saja, kalau loss ya seberapa loss-nya, berapa kekurangan yang harus ditutup sampai dengan dana pendidikan itu dipakai, sampai seberapa lama lagi dana tersebut akan dipakai.

Kalau sudah, sekarang kamu jadi tahu realnya posisi dana pendidikan anak. Mungkin akan membuatmu shock, tapi setidaknya kamu tahu seberapa “menyedihkan” kondisinya, dan bisa segera merencanakan sesuatu untuk dilakukan sebagai solusi.

Percayalah, tahu dengan pasti akan lebih baik ketimbang hanya menduga-duga dan mengira-ira.

2. Ubah sekolah incaran

Jika memang tidak memungkinkan, barangkali kamu bisa mempertimbangkan untuk mengubah alternatif sekolah incaran. Yang tadinya sekolah standar internasional mungkin bisa agak “diturunkan”.
Sesungguhnya, bukan masalah gengsi yang seharusnya menjadi tolok ukur untuk memilih sekolah untuk anak. Sudah terlalu banyak cerita seorang anak merasa terpaksa untuk bersekolah di sekolah yang kurang cocok untuknya, hanya karena keinginan orang tua.

Anak-anak punya pola belajar sendiri, dan justru inilah yang harus dipahami oleh orang tua dan menjadi pedoman untuk memilihkan sekolah bagi anak. Jangan biarkan ego orang tua mendominasi. Memilihkan yang terbaik untuk anak memang menjadi kewajiban orang tua, tetapi harus tetap ingat, bahwa anaklah yang akan menjalani pendidikannya. Bukan kita.

So, apa yang harus dilakukan? Lupakan gengsi. Pilihlah berdasarkan kebutuhan anak, dan tentunya, sesuai kemampuan. Pada dasarnya pendidikan anak juga akan kembali ke orang tua kok, kayak di masa pandemi sekarang kan?

3. Evaluasi ulang, apakah instrumen yang sekarang sudah sesuai

Mari kita lihat instrumennya sekarang. Evaluasi, apakah sudah sesuai dengan rencana dan tujuan keuangan kita.

Dana pendidikan anak ini bisa ditaruh di beberapa jenis instrumen investasi, sebenarnya. Tergantung pada horizon waktu, target, dan juga profil risiko investornya sendiri.

Beberapa instrumen yang sering disarankan adalah:

  • Reksa dana saham
  • Reksa dana campuran
  • Logam mulia atau emas
  • Deposito
  • Saham

Nah, masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri, yang berkaitan dengan imbal hasil maupun risikonya. Reksa dana saham, reksa dana campuran, dan saham—untuk saat ini—bisa jadi sedang jelek banget rapornya. Maka, kamu perlu mengevaluasi, apakah investasimu masih terhitung aman untuk saat ini.

Jika kamu masih ada alternatif cadangan dana lain dan cukup memenuhi kebutuhan—misalnya kamu punya cadangan simpanan emas yang sudah lama dan bisa buat menutup kebutuhan dana pendidikan sekarang—maka kamu bisa mempertimbangkan untuk hold. Atau, malah diterusin kalau jangka waktunya masih panjang. Kalau kamu sudah tidak ada cadangan alternatif lain untuk dana pendidikan, sedangkan waktunya juga sudah mepet, yah ... mungkin kamu memang harus cut loss. TAPI, please please perhitungkan dan pertimbangkan dengan saksama dan hati-hati ya. Sekali lagi, sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhanmu.

Jika dalam pertimbangan, ternyata kamu merasa akan lebih baik jika dipindahkan, maka boleh saja kamu pindahkan ke instrumen yang lebih aman untuk sekarang, seperti deposito atau tabungan berjangka saja.

4. Jangan lupa sertai asuransi jiwa

Apalah artinya membuat dana pendidikan anak, jika tidak disertai dengan asuransi jiwa? Cobalah nonton drama Korea sekali-sekali, yang berjudul Itaewon Class. Di situ tergambarkan dengan jelas, betapa asuransi jiwa bisa melindungi orang-orang tercinta yang menggantungkan hidupnya pada kita sebagai tulang punggung.

Sia-sia bangetlah rasanya, kalau dana pendidikan anak sudah terencana dengan baik dan kemudian bubar semua gara-gara sesuatu terjadi pada kita *amit-amit jangan sampai*, dan anak-anak kita enggak jadi bisa memanfaatkan semua dana itu pada akhirnya.

Jadi, rencanakan dana pendidikan anak, sekaligus beli polis asuransi jiwa murni ya.

5. Diversifikasi investasi memang sepenting itu

Masih ingat kisah si ayah yang kebingungan karena dana pendidikan anak masih nyangkut di saham, di awal artikel ini kan? Untungnya (iya, kadang kecerdasan itu memang dipengaruhi juga oleh nasib mujur), beliau masih punya simpanan beberapa puluh gram emas yang dibelinya bertahun-tahun yang lalu.

Dana pendidikan anak bisa sedikit terselamatkan ketika beliau mencairkan logam mulia miliknya yang sedianya menjadi dana darurat. Masalah sebagian besar sudah terpecahkan, tinggal mencari sisa kekurangannya saja, yang rasanya masih bisa dikejar dengan aset-aset miliknya yang lain.
Dari cerita ini, kita belajar, bahwa diversifikasi investasi memang sepenting itu. Kamu pasti sudah bosen banget membaca atau mendengar tip investasi ini kan? Tapi, memang itulah yang harus dilakukan.

Taruh dana di beberapa instrumen, sesuai analisismu terhadap kebutuhan dan tujuan keuanganmu. Kala satu instrumen sedang jeblok, kamu masih punya jaring pengaman yang lain.

Nah, selamat mengevaluasi kembali dana pendidikan anak yang sudah dibangun ya. Semangat!