Mengatur Keuangan Keluarga di Tengah Ketidakpastian

Sudah beberapa bulan, kita menjalani masa-masa ketidakpastian. Rasanya kayak digantungin mantan. Minggu-minggu pertama sih masih oke, tetapi seiring waktu berjalan, kesabaran mulai menipis, demikian pula dengan tabungan. Keuangan keluarga pun terancam.

Tadinya, mungkin kita berpikir, dengan sebagian besar waktu dihabiskan di rumah saja, itu berarti kita bisa menghemat banyak duit. Kan, enggak perlu keluar duit buat transportasi, buat makan-makan di luar, bisa hemat jajan, dan seterusnya.

Etapi, setelah beberapa bulan dijalani, loh, kok malah jebol pengeluarannya ya?

Ya iyalah, soalnya sempat panic buying, stock piling, sekarang juga jadi lebih sering belanja online, jajan ini itu via aplikasi ojol. Stok camilan banyak juga buat anak-anak dan keluarga yang pada belajar dan kerja di rumah. Yang biasanya masak sekali sehari, sekarang kok malah harus masak tiga kali sehari!

Setelah dihitung-hitung, uhlala ... Pengeluaran malah jadi membengkak. Apalagi jika lantas dibandingkan dengan pemasukan yang terpengaruh juga. Ada potongan di sana-sini, atau hanya dibayar gaji pokok, sampai unpaid leave, bahkan PHK.

Jadi, mesti gimana ya? Kita juga belum tahu kondisi ini akan bertahan sampai seberapa lama, sedangkan kita dituntut untuk bisa bertahan selama mungkin. Keuangan keluarga jadi pertaruhan. Hajat hidup orang serumah harus dijamin, apa pun yang terjadi kan?

6 Hal untuk Mengatur Keuangan Keluarga Selama Ketidakpastian

1. No panic panic club

Yap, yang pertama, jangan panik meski kepala pusing menghadapi catatan pengeluaran bulanan keuangan keluarga. Ambil napas dalam, dan tenang. Inhale ... exhale ...

Jangan panik adalah koentji, supaya kita enggak melakukan hal-hal di luar kendali, seperti misalnya jadi nimbun barang dan belanja impulsif. Barang jadi busuk, enggak bisa digunakan lagi, siapa juga yang akhirnya rugi? 

Kondisi ini sudah beberapa bulan berjalan, sehingga seharusnya ketersediaan stok sekarang sudah mulai berangsur pulih. Jadi, jangan panik lagi ya. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang saatnya tenang, dan atur lagi keuangan keluarga supaya enggak jebol lagi setidaknya sampai stabil lagi. Ingat, kita akan menghadapi situasi dan kondisi the new normal sekarang, so let’s adapt!

Jadi, nggak perlu belanja berlebihan lagi ya.

2. Prioritaskan

Ada skala prioritas yang bisa ditetapkan dalam keuangan keluarga. So, lakukan dulu cek terhadap keuangan secara keseluruhan, baru deh kita melakukan budgeting lagi. Tahap pertama adalah mengenali prioritas keuangan per bulannya.

Ada beberapa pengeluaran wajib rutin yang harus tetap dilaksanakan, meski kondisi keuangan keluarga lagi kritis:

  • Kebutuhan pokok, meliputi makanan dan kesehatan.
  • Tagihan rutin utilitas rumah, mulai dari listrik, air, sampai Wifi atau kuota internet buat yang kerja dan belajar di rumah. Di saat sulit seperti ini, jangan lagi hidup keluarga semakin dipersulit karena tunggakan-tunggakan utilitas ini. Meski diprioritaskan, adalah penting banget juga buat kita untuk bisa menghemat di pos ini.
  • Uang sewa, jika ada. Sewa rumah, misalnya
  • Cicilan utang, kalau mau diurutin prioritasnya ya mulailah dari memprioritaskan cicilan pinjaman online dengan bunga harian itu, lalu cicilan kartu kredit, cicilan leasing, dan cicilan bank. 
  • Iuran asuransi, terutama asuransi kesehatan dan asuransi jiwa.

Nah, kamu bisa menyesuaikannya, tentu, dengan kondisimu tetapi sepertinya sih, yang di luar ketiga jenis pengeluaran itu bisalah ditunda dulu.

3. Susun ulang bujet

Sudah tahu prioritas keuangan keluarga apa saja yang harus didahulukan, sekarang saatnya menyusun ulang bujet atau anggaran belanja bulanan.

Susunlah sesuai prioritas dan kebutuhan. Untuk kebutuhan pokok, utamakanlah belanja stok makanan yang awet. Tapi ingat, jangan berlebihan. 

Misalnya, kamu bisa menjadwalkan diri untuk belanja seminggu sekali. Maka, belanjalah untuk satu minggu ke depan saja. Dengan begini, kamu menghindari belanja dalam jumlah yang banyak, lagi pula sekalian memberi kesempatan pada supermarket atau minimarket tempat kamu belanja untuk restocking lagi. Di samping tentunya, kamu bisa berbagi dengan orang lain yang juga punya kebutuhan yang sama.

4. Susun ulang cicilan

Kalau memungkinkan, lunasi utang kartu kredit. Lalu, minta restrukturisasi kredit rumah dan kendaraan, sesuai aturan yang berlaku, dan disiplinlah membayar cicilan pinjaman online.
Bagaimana posisi utangmu sekarang? Masih punya tanggungan cicilan apa saja? KPR? Kendaraan? Elektronik? Kartu kredit?

Oke, semoga sudah kamu susun semuanya dalam anggaran yang baru ya. Dan, stop, berhenti ambil utang lagi dulu, apalagi yang bersifat konsumtif. Fokuslah hanya pada pembayaran cicilan yang masih ada sekarang. Jangan menambah utang baru lagi.

Bereskan dulu apa yang ada. Nanti, setelah kondisi membaik lagi, kamu bisa mempertimbangkannya lagi.

Untuk utang ke bank atau leasing, kamu bisa mengajukan restrukturisasi, agar cicilanmu menjadi dipermudah. Bukan dihapus loh, tapi setidaknya mungkin kamu akan lebih ringan karena waktu yang lebih longgar, atau mendapat keringanan penundaan pembayaran bunga, hanya harus membayar cicilan pokok saja, dan sebagainya.

5. Amankan dana darurat

Apa kabar dana darurat? Masa pandemi masih akan panjang, semoga dana daruratmu aman. Jika dalam budgeting bulanan, ternyata kamu masih punya dana sisa (Alhamdulillah!), maka jangan dihabiskan secara semena-mena. Alokasikan untuk memperkuat dana darurat.

Kalau kamu belum memiliki dana darurat yang kuat, sekarang belum terlambat kok buat memulai. Cek tip membangun dana darurat di tengah situasi darurat ini ya. Kata kuncinya satu: disiplin.

Pasti bisa deh dilakukan demi menyelamatkan keuangan keluarga di tengah ketidakpastian ini.

6. Atur ulang rencana dan tujuan keuangan

Ini kaitannya dengan investasi keluarga. Yuk, evaluasi lagi investasi keluargamu yang sudah dilakukan selama ini; dari tujuannya untuk apa, bagaimana horizon waktunya—apakah masih sesuai yang direncanakan, dan berapa nominalnya saat ini.

Lalu, gimana? Apakah masih bisa terus investasi dengan kondisi seperti sekarang? Jika tidak, kamu bisa kok mengatur ulang tujuan dan rencana keuanganmu. Sesuaikan dengan kondisi. Bahkan seandainya mau “libur” dulu juga enggak masalah. Setidaknya, kita bisa menunggu sampai beberapa bulan ke depan, untuk kemudian dievaluasi kembali sesuai perkembangan yang terjadi.

Yash, semoga ketidakpastian ini segera berakhir ya, sebelum membuat keuangan keluarga menjadi semakin babak belur. Meski demikian, ada baiknya juga sih buat kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang terburuk.