Cara Punya Rumah Sendiri di Usia 20-an? Kuncinya Satu!

Siapa nih di sini yang pengin punya rumah sendiri di usia 20-an? Mungkin, kamu akan mendapatkan cibiran atau ungkapan-ungkapan lain bernada meremehkan dari lingkungan sekitar. But, that’s alright. Namanya juga mimpi kan? Konon katanya kan, “If your dreams don’t scare you, they’re not big enough.”

Jadi, kamu pengin punya rumah sendiri di usia 20-an? Bisa. 

Ada 7 hal yang harus kamu lakukan secara konsisten nih. Apa saja?

1. Rencanakan sejak dini

Jangan terlambat, rencanakan mimpimu sejak kamu menerima gaji pertama. Bahkan mungkin, sejak kamu lulus wisuda. Atau, mungkin justru ketika kamu mulai skripsi?

Buat rencana matang untuk mimpi punya rumah sendiri di usia 20-an. Yakinlah, bahwa mimpi hanya sekadar mimpi kalau tanpa rencana. Tapi, begitu kamu punya plan yang real, that’s it. That is your life objective.

Sudah kayak motivator belum?

Oke, kembali ke laptop.

Jadi, dalam hidup, manusia itu seharusnya memang punya tujuan, cita-cita, dan mimpi. Punya rumah sendiri di usia 20-an bisa jadi tujuanmu, sehingga dengan menentukan tujuan di awal, kamu pun bisa mencari jalan untuk mencapainya. Jalan yang riil, jalan yang bisa ditempuh bukan hanya jalan awang-awang.

Jadi, sekarang usia kamu berapa, dan di usia berapa kamu harus sudah bisa menyetorkan DP rumah? Dari situ, kamu bisa menarik horizon waktu untuk menabung dan berinvestasi untuk membeli rumah pertama.

2. Fokus kumpulkan DP

So, kalau kamu enggak punya privilege apa pun—misalnya terlahir di keluarga kaya, yang sudah siap menerima warisan tanah, rumah beserta isinya—maka buatlah privilege-mu sendiri. Kamu harus memiliki rencana matang, step by step, untuk mencapai mimpi punya rumah sendiri di usia 20-an.
Jangan menargetkan dirimu sendiri untuk langsung bisa mengumpulkan uang—katakanlah--Rp500 juta untuk membeli rumah dalam sekali waktu. Kalau begitu, bakalan terasa tak akan pernah terjangkau. Itulah gunanya rencana; membuat rencana selangkah demi selangkah dengan satu tujuan besar.

Nah, step pertama apa? Kamu bisa mulai dengan merencanakan down payment rumah pertamamu kelak secara lebih dini. 

Berapa jumlah DP yang kamu butuhkan? Ya, tergantung harga rumah yang kamu incar sih. Menurut peraturan, DP rumah pertama ditentukan sebesar 15% dari harga beli rumah. So, misalnya kamu mengincar rumah seharga Rp500 juta, maka kamu harus bisa menyediakan DP sebesar Rp75 juta.
Jadi, uang sebesar itulah yang menjadi fokus utamamu sekarang.

Coba perhitungkan, sampai seberapa besar kamu bisa menyisihkan gajimu? 50%? Terlalu besar? Turunkan, 40%? 30%? Taruhlah 30% dari gaji bisa kamu sisihkan, lalu ditambah dengan uang bonus, THR, dan uang-uang insentif lainnya.

3. Investasikan di instrumen yang tepat

Jika waktumu maksimal “hanya” 5 tahun ke depan, misalnya, maka taruhlah simpanan untuk DP rumah pertama ini di instrumen investasi jangka pendek. Jika lebih dari 5 tahun, kamu bisa taruh di instrumen jangka menengah.

Semua tergantung pada horizon waktumu untuk punya rumah sendiri di usia 20-an, yang sudah kamu perhitungkan di step pertama, dan tergantung juga pada profil risikomu. Tapi, berhubung kamu masih muda, ketahananmu untuk kembali pulih jika terkena krisis masih tinggi, jalan kariermu masih panjang, saran saja sih, beranilah ambil risiko supaya imbal hasil juga menyesuaikan.

Belajar investasi ya; bagaimana memilih instrumen yang tepat, mengelola emosi dan risiko, serta cerdas dalam mendiversifikasi investasi.

4. Siap untuk cicilan

Kalau kamu sudah terbiasa menabung sebesar 30% untuk DP rumah, sepertinya menyicil 30% dari penghasilan enggak akan terasa berat lagi deh.

Ada beberapa jalan yang bisa kamu tempuh untuk bisa mencicil rumah ini.

Yang pertama, dengan KPR, yaitu kredit kepemilikan rumah yang biasanya ditawarkan oleh lembaga keuangan seperti bank. Yang kedua, dengan cicilan developer rumah.

Opsi pertama bisa kamu pertimbangkan dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai produk kredit dari bank-bank yang bereputasi baik. Bandingkanlah fasilitas satu sama lain, dan pertimbangkanlah dengan saksama.

Opsi kedua bisa menjadi pertimbangan juga, terutama jika kamu hendak membeli rumah di suatu kompleks perumahan yang sedang dikembangkan. Biasanya unit-unit rumah sudah mulai ditawarkan bahkan ketika rumahnya sendiri masih dalam proses dibangun. Kamu bisa meminta detail dengan menghubungi developernya langsung.

Hmmm, sepertinya akan seru juga kalau bikin perbandingan antara cicilan ke bank dan developer ini ya. Tapi, bakalan bisa panjang. Kapan-kapan saja kita buat artikelnya secara tersendiri.

5. Lokasi, lokasi, lokasi

Mimpi untuk pengin punya rumah sendiri di usia 20-an tentu harus bertolak dari target harga rumah incaran. Dan, harga rumah biasanya akan sangat bergantung pada lokasi rumah itu sendiri.

Harga rumah yang berlokasi di Kemang tentu berbeda dengan harga rumah yang berlokasi di pinggiran Jakarta. Harga rumah di kawasan industri juga berbeda dengan harga rumah yang ada di kawasan pendidikan.

Karena itu, ada baiknya, kamu survei dulu lokasi rumah incaranmu sebelum membuat perencanaan. Cek lokasi, cek spesifikasi, dan tentu saja, cek lingkungannya. Pilihlah developer yang bereputasi baik, jika kamu memutuskan untuk membeli rumah di dalam kompleks yang baru dikembangkan.

6. Hidup hemat

Ketika DP sudah terbayar, kamu pun akan masuk ke fase cicilan. So, dalam beberapa (puluh) tahun ke depan, hidupmu akan berkutat dalam utang. Barangkali, di tengah-tengahnya kamu akan ngerasa, dih, gaji kerja kok dipakai buat cicilan semua ya, rasanya?

Perasaan ini wajar saja. Tetapi bertahanlah. Ingat, bahwa kamu sedang berjuang untuk mewujudkan mimpi untuk punya rumah sendiri di usia 20-an. Ketahuilah, bahwa dengan DP lunas, maka separuh jalan menuju mimpi itu sudah terlampaui.

Kamu tinggal meneruskan saja sedikit lagi. Karena itu, berkomitmenlah. Kamu bisa hidup dengan hemat dulu, sebelum akhirnya mimpimu terwujud.

7. Kelola cicilan dengan bijak

Nah ini. Jangan sampai telat bayar cicilan ya. Ada denda lo, kalau telat—apalagi kalau kamu ambil kredit di bank. Evaluasi selalu cicilan utangmu secara berkala, baik cicilan untuk rumah saja maupun cicilan utang secara keseluruhan. Jangan terlalu tergoda akan menambah cicilan baru. Ingat, 30% dari penghasilan adalah batas maksimal cicilan utangmu ya.

Kamu juga bisa mempertimbangkan untuk memindahkan KPR ke bank yang menawarkan bunga lebih terjangkau jika memang diperlukan. Coba cari informasi lagi ya.

Gimana? Bisa kan, punya rumah sendiri di usia 20-an? Bisa dong.

Lalu, apa kesimpulan kita sampai di sini? Bahwa untuk punya rumah sendiri di usia 20-an itu sebenarnya kuncinya hanya satu: disiplin. Disiplin menentukan tujuan, jalan, disiplin saat mengumpulkan DP, dan disiplin juga saat mulai masuk fase cicilan.

Disiplin.

Kamu pasti bisa!

Good luck!