7 Strategi Bisnis yang Bisa Dilakukan oleh Pebisnis Demi Survive di Masa Pandemi

Dan, begitulah! Tiba-tiba kita terbangun di dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang tak pasti, dunia yang seakan berhenti berputar. Dunia yang tiba-tiba dibungkam oleh pandemi virus corona. Dunia yang memaksa kita untuk mengubah cara dan strategi bisnis yang sudah dijalankan sebelumnya.

Mimpi buruk buat sebagian besar pebisnis, pastinya. Enggak pernah ada orang yang akan membayangkan seperti ini sebelumnya. 

Eh, ada ding! Bill Gates.

Anyway, ekonomi melesu, daya beli menurun, bisnis mana pun sedikit banyak terdampak. Semua sektor kena imbas. Tinggal skalanya saja yang berbeda-beda. Ada yang rugi ratusan ribu, jutaan, hingga triliunan.

Tapi, rugi dalam bisnis itu biasa. Justru, seharusnya para pemilik bisnis sudah tahu betul risiko ini di awal mereka mulai membangun bisnisnya. Kerugian dan kegagalan bisnis itu bisa datang sewaktu-waktu, without prior notice. Dan, pemilik bisnis mana pun seharusnya sudah siap dengan rencana dan strategi bisnis cadangan jika seandainya bisnis yang dirintisnya gagal. Kalau perlu, ya pivoting.

Jadi, jangan menunggu kondisi membaik dengan sendirinya. Itu akan terlalu lama. Mari, segera atur rencana baru, dan buat strategi bisnis baru agar bisa survive di masa pandemi ini.

Mulailah dari 7 Langkah Mengubah Strategi Bisnis Ini

1. Umumkan jika ada perubahan jam operasional

Beberapa bisnis masih bisa berjalan saat pandemi berlangsung, namun ada penyesuaian jam operasional. Seharusnya sih, sekarang jam bisnisnya lebih pendek ya? Cek peraturan pemerintah mengenai hal ini, dan segera sesuaikan.

Jam kerja dan bisnis yang lebih pendek menuntut efisiensi kerja yang lebih baik. Pun, mungkin akan butuh tambahan SOP di awal masuk, seperti wajib mencuci tangan, membersihkan diri dan alat-alat, sampai mengukur suhu tubuh. Masukkan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk ditambahkan, begitu juga saat pulang.

Umumkan perubahan jam operasional ini pada semua karyawan, juga pada customer. Pasang pengumuman di lokasi ataupun di akun media sosial.

2. Sesuaikan prosedural kerja

Adakah jenis-jenis pekerjaan dan tugas yang bisa dikerjakan dari rumah? Jika ada, atur prosedur operasional harian antarbagian, agar tetap terkoordinasi dengan baik.

Pada kenyataannya, perubahan dari kerja offline menjadi kerja online ini tidak semudah yang dibayangkan lo. Ada banyak hal yang harus disesuaikan, di antaranya adalah metode komunikasinya. Yang biasanya bisa langsung meeting sewaktu-waktu dengan berkumpul di ruangan khusus, sekarang meeting hanya bisa dilakukan secara online, melalui video conference. Tidak semua orang bisa langsung available saat itu juga. Jadi, pikirkan bagaimana baiknya. Termasuk di dalamnya adalah presensi di awal dan akhir hari.

Jika ada pekerjaan yang tak bisa dikerjakan dari rumah, pastikan semua orang paham akan prosedur keselamatan dan standar kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Taati sebaik mungkin, agar meminimalkan risiko-risiko yang tak diinginkan.

3. Penyesuaian produk dengan kebutuhan sekarang

Kondisi the new normal seperti ini mau enggak mau juga membawa efek pada perubahan gaya hidup dan kebutuhan orang. Yang dulu butuh sekadar hijab, sekarang butuh hijab masker. Yang dulu butuh jas, sekarang butuh APD. Dulu butuh kopi, sekarang butuh asupan vitamin.

Apakah bisnis kamu juga bisa melayani kebutuhan masyarakat saat ini? Jika iya, mungkinkah kamu memenuhi kebutuhan masyarakat yang baru ini? Jika jawabannya iya lagi, nah, segera buat business plan yang baru dengan memasukkan perubahan produk yang sesuai dengan kebutuhan ini.
Penyesuaian produk dengan kebutuhan ini bukan hanya sekadar mengikuti tren saja, tetapi inilah business pivoting yang sesungguhnya. Dan, bisnis mana pun sah-sah saja melakukannya.

Jadi, luangkan waktu untuk mengamati pasar agar bisa meraba kebutuhan pasar saat ini.

4. Offline jadi online

Jika bisnismu belum pernah dikonversi menjadi online, maka sekaranglah saat yang tepat untuk menjajaki kemungkinan ini.

Cermati, apa yang diperlukan, agar bisnismu bisa diakses secara online: memiliki akun media sosial? Merambah marketplace dan ecommerce? Bekerja sama dengan aplikasi online yang sudah ada? Atau malah membuat aplikasi sendiri?

Jangan lupakan layanan antar! Entah kamu membuat sendiri armada kurir atau ekspedisi untuk bisnismu, atau memanfaatkan jasa kurir dan ekspedisi yang sudah ada.

Juga soal pembayaran! Coba tambah gerbang pembayarannya. Kamu bisa menjajaki peluang untuk bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi dompet digital, atau bisa juga bekerja sama dengan franchise minimarket yang itu. Iya, yang itu.

Semakin banyak cara dan jalan calon customer untuk mengakses produk yang kamu jual, akan semakin baik.

5. Cek kondisi karyawan

Bagaimanapun, karyawan yang bekerja pada kita adalah aset utama perusahaan. Jadi, strategi bisnis yang berubah seperti apa pun, akan sia-sia saja jika karyawan kamu tak siap memberikan support yang dibutuhkan.

Simpelnya, ada satu saja yang gaptek, rencana untuk mengonversi bisnis offline menjadi online pasti akan tersendat prosesnya. Begitu pun jika kamu ingin mengadakan penyesuaian produk. Ada satu karyawan yang tak siap, penyesuaian akan terhambat.

Jadi, pastikan mereka mendapatkan bekal dan pemahaman yang cukup untuk mendukung perubahan strategi bisnis yang akan dilakukan.

Lakukanlah koordinasi dengan karyawan sejak awal kamu merencanakan perubahan strategi bisnis ini. Mereka juga harus tahu kondisi perusahaan yang sebenarnya. Bisnis yang kamu jalankan ini tak akan berjalan lancar, tanpa dukungan mereka.

6. Cek kondisi keuangan bisnis

Selain kondisi karyawan, hal lain yang harus segera dicek demi kelancaran perubahan strategi bisnis adalah kondisi keuangan bisnis itu sendiri.

Ada 2 cost yang harus dicek. Yang pertama adalah variable cost. Yang termasuk di sini adalah kondisi keuangan yang akan digunakan untuk membeli bahan baku, ongkos produksi, hingga pengiriman. Yang kedua, fixed cost, yang meliputi gaji karyawan, sewa gedung, uang listrik, telepon, air (jika ada), hingga perpajakan.

Cek neraca secara menyeluruh, meliputi harta dan kewajiban perusahaan. Cek dana darurat, apakah mencukupi hingga beberapa bulan ke depan.

Gampangannya, untuk produksi dan gaji karyawan, kondisi dana darurat sekarang apakah cukup?

7. Stay in contact dengan customer

Melalui media sosial, pastikan tetap menyapa para pelanggan. Intinya, jangan sampai mereka lupa akan brand atau bisnis kamu ketika nanti masa pandemi berakhir, meski mungkin sekarang toko atau bisnismu belum bisa beroperasi secara normal seperti sebelumnya.

Kamu bisa bikin event-event kecil di media sosial, misalnya giveaway-giveaway atau sekadar ngobrol bareng di Instagram Live.

Manfaatkan segala saluran yang ada agar tetap connected dengan para pelanggan.

Nah, demikianlah beberapa langkah penyesuaian strategi bisnis agar tetap survive di masa pandemi ini. Semoga semua segera berlalu, dan kembali normal seperti sedia kala. Ekonomi membaik, bisnis kamu pun bisa survive, kembali mendulang keuntungan dan menghidupi banyak orang.

Karena itu, yuk, patuhi anjuran pemerintah: disiplin untuk menaati protokol kesehatan dan jaga kesehatan. Semakin kita disiplin, semakin cepat pula pandemi ini bisa diakhiri.