Jadi Generasi Sandwich? Nggak Masalah!

Pasti sudah sering banget mendengar istilah generasi sandwich, atau sandwich generation. Iya kan? Sudah tahu juga dong, artinya apa.

Generasi sandwich—atau generasi roti isi—adalah mereka-mereka yang harus terimpit harus menanggung hidup 2 generasi, yaitu orang tuanya dan sekaligus anak-anaknya (keluarganya sendiri).

Kok bisa begitu ya? 

Yah, tanpa bermaksud menyalahkan generasi mana pun, timbulnya generasi sandwich ini bisa jadi salah satu akibat dari kurang siapnya kita dalam menghadapi masa pensiun. Karena kita kurang siap, sehingga bekal untuk menjalani masa pensiun pun kurang juga—atau malahan enggak ada sama sekali. Alhasil, either kita masih harus terus bekerja di usia tua padahal energi juga sudah enggak sebaik saat masih dalam usia produktif, atau membebani anak-anak kita sehingga mereka “merasa diwajibkan” untuk memberikan uang pensiun pada kita.

Tapi, kalau melihat banyak ulasannya, generasi sandwich ini kok seakan-akan nasibnya begitu malang dan sangat patut dikasihani ya? Padahal, enggak segitunya juga ‘kali. Ada kok mereka-mereka yang memang dengan sukarela membantu keluarga besar secara keuangan, karena memang mampu. Justru, dengan begini ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan lo.

Misalnya saja, 3 hal berikut ini.

3 Hal tentang Menjadi Generasi Sandwich

1. Terbiasa bertanggung jawab

Memang, sebagai generasi sandwich yang selain harus menanggung hidup keluarga kita sendiri, kita juga harus membantu keuangan keluarga besar, dalam hal ini orang tua. Sebuah tanggung jawab yang besar, ya kan? Pastinya.

Karena kita sudah terbiasa bertanggung jawab terhadap hajat hidup orang lain—lebih tepatnya, orang yang kita cintai—kita pun jadi terbiasa bertanggung jawab terhadap apa pun yang memang menjadi tugas kita. Rata-rata generasi sandwich adalah mereka yang dapat diandalkan di mana pun; di tempat kerjanya, dalam profesinya, dalam kelompok sosialnya, … di mana pun!

Saat kita sudah pasti bertanggung jawab akan hal besar, pasti kita akan bertanggung jawab sampai hal sekecil-kecilnya. Betul?

2. Hubungan keluarga semakin erat

Ikut merawat (apalagi yang juga tinggal serumah) orang tua akan membuat kita memiliki hubungan yang sangat erat dan hangat dengan mereka. Itu menjadi cermin bagi diri kita sendiri, bahwa kita bisa sangat tidak egois lantaran di saat yang sama, kita bisa merawat orang tua sekaligus menghidupi keluarga kita sendiri.

Hubungan keluarga yang hangat akan memengaruhi perkembangan mental kita sampai kapan pun. Sudah banyak kisah sedih dari mereka yang tidak memiliki hubungan erat dan hangat dengan keluarga dan akhirnya berpengaruh pada perkembangan mentalnya lo.

Lagian, siapa lagi sih yang bisa jadi support system di setiap masalah, kalau bukan keluarga sendiri dulu?

3. Terbiasa bergotong royong

Jika kita terbiasa bersama-sama, maka masalah apa pun akan lebih ringan diatasi. Di saat-saat sulit seperti sekarang ini, misalnya (saat artikel ini ditulis, kita sedang menghadapi pandemi wabah virus corona), dengan adanya keluarga yang saling mendukung dan membantu, kita bisa saling berbagi beban.

Namun, memang enggak dimungkiri, bahwa hidup sebagai generasi sandwich di satu dan lain waktu memang bisa jadi serba ‘terlalu’; terlalu lelah, terlalu stres, terlalu banyak beban, terlalu banyak pikiran, hingga terlalu besar pengeluaran.

Tapi, bukankah panci selalu dijual bersama tutupnya? Yang berarti masalah akan selalu datang bersama solusi.

Menjadi generasi sandwich memang bisa jadi lebih berat. Tentu saja, karena alih-alih memikirkan keluarga sendiri, kita pun jadi ikut memikirkan tambahan satu, dua orang tambahan di luar keluarga inti. Tetapi, sebenarnya hal ini bisa diatasi.

3 Modal Terbesar untuk Mengatasi Masalah Generasi Sandwich

1. Komunikasi dan kesepakatan

Hidup bersama keluarga besar maka diperlukan lancarnya komunikasi yang terjalin antara satu anggota keluarga dengan yang lainnya. Satu saluran saja macet, niscaya akan memengaruhi semuanya.

Bisa jadi kita hidup bersama orang tua, atau mungkin mertua. Kadang hal ini juga sedikit banyak memengaruhi hidup berkeluarga kita sendiri dengan anak-anak. Dengan komunikasi yang baik, coba lakukan beberapa kesepakatan. Meski sepele, tapi kalau ada kesepakatan untuk hal terkecil sekalipun, rasanya pasti semua akan lebih mudah.

Misalnya seperti apa?

Misalnya, seperti memutuskan peran masing-masing anggota keluarga dalam satu rumah. Siapa yang bertanggung jawab terhadap belanja kebutuhan dapur? Siapa yang bertanggung jawab pada uang kemasyarakatan? Siapa yang bertanggung jawab pada penyediaan makanan sehari-hari? Siapa yang bertugas pada kebersihan rumah? Dan seterusnya.

Enggak hanya berkomunikasi dengan orang tua yang hidup bersama kita, anak-anak pun harus dilibatkan dalam peran dalam rumah tangga ini. Hal ini sekaligus dapat menjadi kesempatan kita untuk mendidik mereka agar tumbuh menjadi anak yang mandiri kelak.

2. Kontribusi

Sampai seberapa kita bisa berkontribusi? Yang menumpang, harus tahu diri dan ikut berkontribusi dalam penyelenggaraan rumah tangga. Begitu pula, yang ditumpangi sebaiknya juga tak “semena-mena”. You know what it means.

Sebagai pasangan, kita juga berhak menentukan sendiri, sampai seberapa kita bisa ikut berkontribusi, terutama di hal keuangan. Bagaimanapun, sebuah keluarga sudah punya masalah mereka sendiri, sehingga tetap harus menomorsatukan kebutuhan keluarga sendiri dulu.

Balik lagi, dengan komunikasi yang baik, capailah kesepakatan mengenai kontribusi dalam keluarga ini.

3. Tenggang rasa dan komitmen

Setelah ada kesepakatan, tentu saja semua pihak harus berkomitmen terhadap kesepakatan itu. Berbesar hatilah jika ada kesalahan di sana-sini. Semakin besar keluarga, maka harus semaki besar pula hati kita untuk menerima berbagai konflik yang mungkin timbul.

Namun, asalkan kita selalu punya niat baik, ya Insyaallah sih akan selalu ada jalan keluar.

Tetapi, bukan berarti kita boleh mengabaikan fenomena timbulnya generasi sandwich ini. Kalau bisa sih, berhenti saja di kita—generasi milenial ini. Sebisa mungkin, kita tak membebani anak-anak kita dan menjadikan mereka sebagai generasi sandwich yang baru.

Tapi gimana caranya? Ya, satu-satunya jalan ya dengan mempersiapkan masa pensiun kita dengan sebaik mungkin. Siapkan bekal yang cukup, dan miliki kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan—bukan untuk mendapatkan imbalan, tetapi untuk bersenang-senang.

Bagaimana caranya menyiapkan dana pensiun untuk diri sendiri? Nah, silakan dibaca artikel sebelumnya.

Yuk, jadi pensiunan yang mandiri! Sebaiknya, hindari “mengganggu” hidup anak-anak kita, karena mereka kelak akan memiliki hidup sendiri bersama keluarganya.