7 Langkah Perencanaan Keuangan untuk Generasi Z

Generasi Z mulai merangsek dunia kerja. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat, bahwa di tahun 2019 kemarin, ada 136.18 juta angkatan kerja baru dengan mayoritas merupakan generasi Z, yang lahir di rentang tahun 1995 – 2010.

Survei Deloitte, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang akunting dan jaringan profesional besar, menyebutkan fakta lain lagi yang sama menariknya. Generasi Z—pada umumnya—memiliki 5 ambisi dalam hidup mereka, yaitu traveling, punya gaji besar, bisa beli rumah, melakukan perubahan sosial, dan terakhir, berkeluarga. Disebutkan bahwa, prioritas untuk bisa mencapai ambisi mereka ini sebenarnya nggak jelas, karena sangat tergantung pada kondisi dan situasi yang mereka alami. Prioritas bisa begitu saja berubah jika mereka merasakan atau mengalami perubahan dalam hidup mereka.

Intinya, kalau boleh disimpulkan, generasi Z adalah generasi inkonsisten. Nah, masalahnya, hal ini lantas berpengaruh pada kesehatan keuangan mereka.

So, ini ada sedikit nasihat keuangan untuk kalian, para generasi Z. Kalian memang generasi yang independen, mandiri, dan cerdas—lantaran lahir di zaman yang sudah maju dan serbaenak-serbaada—tapi jangan sampai semua yang mudah ini membuat kalian lengah.

Merencanakan keuangan berarti merencanakan hidup. Dan, hidup tanpa rencana akan berakhir sia-sia. Jangan melakukan kesalahan yang sama dengan generasi terdahulu.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

7 Langkah Perencanaan Keuangan untuk Generasi Z

1. Tentukan tujuan hidup

Jangan masuk ke dunia kerja tanpa tujuan. Hal itu sudah dilakukan oleh generasi X—yang ngertinya selesai sekolah ya kerja. Habis perkara. Karena ya itulah yang dilakukan oleh orang tua, maka ya gitulah hidup mereka juga. Jangan ya.

Bekerjalah untuk satu dan banyak tujuan. Kamu bisa memilih sesuai impianmu, passion-mu, cita-citamu. Bekerja untuk bisa liburan keliling dunia, bekerja agar bisa menyediakan rumah untuk keluargamu kelak, bekerja untuk kemudian bisa berhenti bekerja di usia 40 tahun dan tetap hidup enak sampai tua.

Tujuan hidup = tujuan keuangan. Jadikan hal ini sebagai objek, sesuatu yang harus kamu raih. Buat rencana, dan kemudian rencanakan kamu hendak menempuh jalan yang mana dan seperti apa untuk sampai di tujuanmu itu.

2. Konsisten dengan rencana

Seperti yang sudah disebutkan di awal, inkonsistensi bisa jadi bumerang. So, buat tujuan hidupmu serealistis mungkin, biar kita juga optimis untuk dapat mewujudkannya. Mimpi boleh, tapi lihat kemampuan juga, jangan ketinggian. Lalu, konsistenlah dengan rencana.

Ada banyak jalan untuk menuju tujuan keuanganmu. Misalnya seperti investasi, tabungan, dan lainnya. Pelajarilah semua jalan yang ada, baru pilih yang paling sesuai dengan karaktermu.

3. Manajemen utang

Utang terbukti membuat generasi-generasi sebelumnya banyak tersandung masalah. Sebagai generasi Z, seharusnya kamu bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah ada.

Utang sih boleh, tapi harus cerdas dan bijak. Sebelum utang, pastikan bahwa kamu benar-benar membutuhkan utang ini, misalnya untuk membeli rumah dengan kredit. Rumah yang terbeli tentunya akan menambah asetmu. Berbeda dengan utang untuk smartphone tercanggih. Begitu unboxing, nilai smartphone itu sudah turun sekian puluh persennya.

Utanglah untuk barang-barang yang tak terdepresiasi—yang nilainya enggak turun seiring waktu dan pemakaian. Ini yang disebut dengan utang produktif.

Selain mempertimbangkan peruntukan, pastikan juga bahwa kamu memang mampu membayarnya. Kalau merasa enggak mampu bayar, ya sebaiknya pikir ulang.

4. Rencanakan pendapatan pasif

Memiliki pendapatan pasif seharusnya sudah menjadi bagian dari perencanaan keuanganmu sejak awal.

Pendapatan pasif bisa kamu peroleh dari investasi di surat berharga, bisnis, dan properti. Surat berharga ada banyak macamnya, begitu pun bisnis. Kamu juga punya banyak opsi jika ingin berinvestasi di properti.

Saran terbaik: pelajari dulu seluk-beluknya sebelum kamu benar-benar menceburkan diri ke kolam investasi.

5. Bangun proteksi dan dana darurat

Namanya hidup enggak akan mulus-mulus saja. Dari zaman batu sampai sekarang, hukum ini berlaku, bahwa hidup kayak roda—kadang di atas kadang di bawah. Duh, klise banget, tapi ini nyata.
Seperti ketika artikel ini ditulis, dunia sedang dilanda pandemi global. Penduduk bumi berhenti beraktivitas. Ekonomi nyaris lumpuh, banyak orang terancam kehilangan mata pencaharian.

Enggak usah pandemi global deh. Kamu akan merasakan kiamat yang sama, jika suatu hari “harus” sakit dan enggak bisa kerja, jika kamu enggak punya proteksi. Duit yang kamu kumpulkan bisa habis dalam sehari, karena biaya pengobatan dan rumah sakit itu nggak pernah murah.

Jadi, buat jaring pengaman untuk dirimu sendiri; lengkapi asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan yang tak kalah penting, dana darurat.

6. Rencanakan mimpimu

Nah, sekarang mari kita duduk dan merencanakan mimpi, hingga bisa menjadi goals. Tahu kan pepatah, goal without a plan is just a dream. Kalau kita bangun, ya udah, menguap. Bahkan kita aja sering lupa, semalem mimpi apa.

Jadi, biar konsisten, buat timeline rencana mimpimu. Misalnya nih, pengin punya rumah, di usia berapa? Atau, berapa tahun lagi? Mau pakai KPR? Berarti harus punya 2 rencana: rencana untuk DP rumah dan rencana untuk cicilannya. Pertanyaan berikutnya muncul: DP rumah mau kapan dilunasi? Lima tahun lagi, mungkin? Maka itulah horizon mimpi pertamamu: 5 tahun lagi DP rumah. Berapa? Biasanya sih yang berlaku DP rumah itu 15% dari harga rumahnya. Jadi kamu bisa hitung.

Setelah ketemu angkanya, kamu tarik ke masa sekarang. Jadi ketemu deh, kamu harus saving berapa untuk 5 tahun.

Kamu boleh punya beberapa mimpi sekaligus. Kan, sebagai generasi Z, kamu punya 5 ambisi besar kan? 

7. Jangan terlalu FOMO

Dunia media sosial memang sudah menjadi bagian dari duniamu. Ya, ini sih bagus, karena eranya memang sudah begitu. Tapi, ada banyak efek lain dari media sosial yang sebaiknya kamu hadapi dengan bijak.

Salah satunya, FOMO—alias fear of missing out, aka takut ketinggalan zaman, kudet, kuno karena enggak ngikutin tren. Efek dari FOMO ini sangat kurang baik untuk kesehatan mental, karena kita jadi sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain (yang kita lihat cuma dari postingannya di media sosial tanpa tahu cerita di baliknya), dan akhirnya enggak mensyukuri apa yang sudah kita punya.
Ckckck. Ingat, gaes, masing-masing orang punya timeline sendiri-sendiri. Kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu mau pada waktunya, sesuai dengan apa yang memang pantas kamu dapatkan. So, enggak usah FOMO ya. Iya.

Nah, generasi Z, semoga sukses dalam menapaki dunia baru kalian; dunia kerja. Bijaklah mengatur penghasilan, karena sesungguhnya yang namanya penghasilan itu enggak pernah mencukupi seberapa pun besarnya. Karena kebutuhan dan kemauan kita akan selalu lebih banyak daripada penghasilan.

Cheers!