5 Sektor Bisnis dan Industri Asia yang Berkembang di Akhir 2020 dan di Awal 2021

Saat ini, negara-negara di Asia Tenggara sedang berjuang dengan realitas baru akibat terdampak pandemi Corona di tahun 2020. Akibatnya, dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi, aktivitas sektor bisnis, hingga perilaku individu tidak dapat disangkal oleh negara mana pun, khususnya ASEAN.

Akan tetapi, ada beberapa sektor bisnis di Asia yang istilahnya ‘ada di atas angin’ dalam situasi seperti ini. Khususnya bisnis yang memiliki produk yang dapat dipesan secara online dan diantar sampai ke tujuan, sehingga orang bisa mengurangi aktivitasnya pergi keluar.

Ada sekitar 650 juta penduduk dengan PDB sebesar $3,1 triliun, ASEAN kini diprediksi sedang menuju ke pasar ekonomi terbesar yang menduduki peringkat ke-4 di dunia pada tahun 2030. Menurut Bank Dunia, pasar negara Asia diperkirakan berkembang dan menyumbang lebih dari 45% pertumbuhan global pada tahun 2020. Sebagian besar pertumbuhan ini didorong untuk meningkatkan konsumsi kelas menengah yang sedang berkembang di Asia.

Maka, berikut ini beberapa sektor bisnis yang dapat berkembang pesat dan menjadi tren yang diminati di Asia hingga dapat membantu mengidentifikasi peluang potensial untuk dimanfaatkan.

Sektor Bisnis yang Berkembang di Akhir 2020 dan Awal 2021

E-commerce dan Toko Grosir Pangan Online

Kehadiran virus COVID-19 yang menyerang dunia, membuat banyak negara memberlakukan social distancing dan amjuran bagi warganya untuk tinggal di rumah saja. Hasilnya, terjadi peningkatan secara signifikan dalam penggunaan e-commerce, khususnya untuk kategori produk segar dan FMCG. Bahkan, saat panic buying telah menyerang banyak orang, pusat perbelanjaan grosir online mengalami peningkatan pesanan rata-rata mingguan hingga mencapai 300%.

Menurut investigasi Nielsen, sekalipun dalam keadaan sulit dengan gangguan yang disebabkan COVID-19, kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, memiliki kepercayaan konsumen yang tinggi dari kelas menengah yang tumbuh dan pembeli yang kian paham dengan teknologi digital. Hal inilah yang menjadi peluang menggiurkan untuk para produsen dan pebisnis dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Selain itu, Institute of Grocery Distribution (IGD) memprediksi pada tahun 2023, penjualan online di 12 pasar grosir teratas di Asia akan tumbuh hingga $295 miliar atau meningkat 198%. Perusahaan-perusahaan ini merupakan brand ternama global, seperti Amazon, Alibaba, hingga perusahaan regional yang sedang naik daun seperti Lotte, Shopee, dan Rakuten.

Beberapa startup Asia yang sedang berkembang ada Lazada’s RedMart, Central Group Thailand, hingga mitra Grab HappyFresh di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Belum lagi Gojek Indonesia dan Tokopedia Sayurbox.

Delivery dan Layanan On Demand

Layanan on-demand di wilayah mendapatkan keuntungan dari kebijakan tinggal di rumah selama pandemic. Beberapa di antaranya seperti MyKuya dari Filipina yang mengantarkan take-out atau belanja pribadi, Deliveroo dan Foodpanda di Singapura, hingga GrabFood dan GoFood di Indonesia.

Dilansir dari Channel News Asia, platform delivery makanan telah mengalami lonjakan pendaftaran pengendara di Singapura saat memasuki minggu kedua dari periode ‘pemutus rantai penyebaran’ selama sebulan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Deliverooo juga mengalami kenaikan 80% pada aplikasi pengendara dalam sebulan terakhir.

Karena e-commerce mengalami persentase tinggi dari pesanan pengiriman paket, maka lini bisnis ini juga mengalami peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang bulan Maret 2020 hingga harus mengalami beberapa tantangan yang harus dihadapi dan disesuaikan seperti mematuhi tindakan pencegahan ekstra terkait masalah keamanan COVID-19, seperti yang pernah di publish J&T Express Indonesia dalam siaran persnya.

Teknologi yang Didukung AI dan Kesehatan

Platform teknologi kesehatan ikut mengalami lonjakan pengguna mencapai 70% sejak 7 Februari 2020 lalu, sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran kesehatan masyarakat akibat wabah virus Corona. Hal ini terjadi di Singapura, lonjakan semacam ini dialami Doctor Anywhere dan Doctor World sejak DORSCON Orange diumumkan.

Sedangkan di Indonesia sendiri, terjadi lonjakan kunjungan pada aplikasi Alodokter hingga 2 juta pengguna dan pencarian info mengenai virus corona di aplikasi Halodoc yang meningkat tajam hingga 600%.

Saat dihadapkan dengan tantangan baru seperti menangani wabah virus corona, bidang teknologi kesehatan mengatasi kendala ini dengan cepat melalui pengujian teknologi baru di Singapura yang didukung dengan kecerdasan buatan atau AI dalam membantu melacak wabah, mengirimkan pasukan, membersihkan rumah sakit, hingga mengembangkan vaksin.

Selain itu, startup pendatang seperti Doctor A hingga Z dan Doctor Raksa di Thailand mendapatkan perhatian dari platform akselerator Plug and Play yang artinya secara tidak langsung menunjukan masa depan cerah untuk sektor ini di Asia Tenggara.

Telekomunikasi dan Platform Belajar Online

Asia Tenggara telah membanggakan dirinya sebagai pusat telekomunikasi dan digital nomads dengan tujuan populer, seperti di Bali, Bangkok, Kuala Lumpur, Chiang Mai, hingga Ho Chi Minh jauh sebelum COVID-19 muncul di dunia.
Saat ini, sistem kerja jarak jauh diterapkan di antara perusahaan konvensional hingga permintaan penggunaan yang melonjak di platform terkenal seperti Google Hangout, Zoom, Slack, dan sejenisnya.

Bukan hanya itu saja, platform pembelajaran online, latihan dan aplikasi pelacakan dan perencanaan meditasi juga ikut mengalami peningkatan popularitas. Beberapa startup di Asia Tenggara seperti EdTech, CloudSwfy di Filipina hingga SkillsFuture di Singapura ikut mengalaminya.

Bahkan, aplikasi yang berbasi pendidikan untuk belajar online di rumah seperti Ruangguru dan Zenius di Indonesia mendapatkan perhatian ekstra dari pemerintah daerah masing-masing.

Layanan Streaming Film dan Game

Selama pandemic COVID-19, orang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah hingga mencari berbagai hiburan untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosannya. Sebelum pandemi, sebenarnya pertumbuhan penonton Asia telah berlangsung cepat, ditambah dengan adanya kebijakan tingga di rumah maka layanan streaming kini kian mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Penyedia layanan streaming global seperti Netflix, HBO, Apple TV, Amazon Prime Video, dan sejenisnya bersaing dengan streaming regional seperti Viu, Iflix, hingga GoPlay untuk target yang menjanjikan dari 600 juta penonton Asia. Bahkan, persaingan tersebut membuat HOOQ Singapura harus melakukan likuidasi sukarela pada 26 Maret 2020 lalu.

Selain streaming film, game menjadi hiburan yang tidak kalah menguntungkannya di tengah-tengah anjuran diam di rumah. Kebosanan yang melanda membuat beberapa orang kecanduan game. Bahkan, di Amerika Serikat, video game mengalami lonjakan kenaikan hingga 75% menurut Verizon.

Game Animal Crossing Nintendo Switch bahkan menjadi game yang paling banyak dibicarakan di seluruh dunia dengan lonjakan sebesar +2056% yang diluncurkan pada 20 Maret lalu berdasarkan Glimpse pelacak dampak konsumen COVID-19.

Industri game di Asia memang berkembang dan menjanjikan dalam dekade terakhir, sejalan dengan pertumbuhan kaum muda dan populasi kelas menengah. Sebab, Asia Tenggara merupakan pasar game seluler dengan pertumbuhan tercepat saat ini di dunia, yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 17% dari tahun ke tahun menurut Laporan Psar Game Global Newzooo. Artinya hampir 70% pendapatan seluler dari total pendapatan game di kawasan Asia dengan pembagian 22% PC dan 8% untuk konsol. Memang terjadi pertumbuhan di semua segmen, tapi game seluler paling cepat.

Itulah sektor usaha dan bisnis di Asia yang berkembang di akhir tahun 2020 atau awal 2021, tepatnya setelah kemunculan Corona yang menghantam berbagai negara di dunia, termasuk Kawasan Asia. Memang ada banyak sektor bisnis dan industri yang merugi, tapi bagi beberapa sektor di atas, hal ini menjadi sebuah berkah tersendiri.