Financial Technology (Fintech) dan Prediksinya Tahun 2021

Financial Technology, atau fintech, diprediksi masih akan memiliki pertumbuhan yang tetap tinggi di tahun 2021. Industri fintech di Indonesia juga diyakini akan terus tumbuh karena tingkat literasi dan inklusi sektor keuangan di tanah air saat ini masih belum mencapai titik optimalnya, sedangkan penggunaan teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu.

Menurut Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan financial technology, khususnya Peer to Peer Lending (P2P Lending), akan tetap tinggi angkanya hingga akhir 2021.

Hal ini juga diperkuat lagi berdasarkan data dari akumulasi pertumbuhan penyaluran industri P2P Lending sejak Oktober 2020 lalu. Terlihat ada pertumbuhan sekitar 24% dibandingkan akumulasi penyalurannya di tahun 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya pertumbuhan walau tidak terlalu tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Memang, angka 24% ini terlihat sangat tinggi jika dibandingkan dengan industri lain, tapi beda halnya jika melihat histori yang ada dalam sektor financial technology. Pada tahun yang akan datang juga akan adanya tren penambahan modal di industri P2P Lending yang digunakan untuk memenuhi ketentuan ekuitas dan pengembangan bisnis.

Nantinya akan ada banyak penambahan modal oleh pemegang saham maupun ada pemegang baru. Akan tetapi, jika dilihat dari sisi jumlah penyelenggaranya, sampai saat ini tergolong relatif stabil. Dengan demikian, rencananya akan ada penambahan penyelenggara baru dan pencabutan tanda pendaftar atau berizin dari pihak yang berwenang.

Layanan Financial Technology atau Pinjaman Online Paling Banyak Diakses

Kenaikan yang terjadi dalam sektor financial technology masih sejalan dengan meningkatnya penggunaan internet di tengah situasi pandemic COVID-19. Selain itu, adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pemberlakuan new normal menjadi salah satu pendorong masyarakat untuk melakukan transaksi secara digital, termasuk dalam mengakses layanan keuangan.

Bahkan pada festival belanja 11.11 yang lalu terlihat antusiasme orang-orang yang menggunakan pembayaran digital, salah satunya melalui layanan fintech. Hal ini pula yang membuat para pelaku sektor fintech optimis, bahwa kenaikan akan terus terjadi hingga 250% di tahun 2021.
OJK sendiri menyampaikan, bahwa akumulasi transaksi inovasi Keuangan Digital (IKD) per September 2020 menyentuh angka Rp 9,87 triliun yang dikontribusi oleh 84 penyelenggara IKD yang tercatat di OJK. Tujuh puluh empat di antaranya konvensional dan 10 penyelenggara lainnya adalah syariah.

Selain itu, sebesar 43% industri keuangan di Indonesia saat ini memang sedang memiliki potensi besar dari financial technology atau fintech. Jumlahnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain, yaitu Vietnam 38%, Thailand 33%, Malaysia 28%, China 25%, dan Australia 19%.
Banyaknya pengakses layanan fintech ini membuat OJK berencana menerapkan aturan penambahan modal di industri fintech yang merujuk atas ketentuan ekuitas dan pengembangan bisnis. OJK juga memberlakukan moratorium untuk jumlah penyelenggara hingga tidak menerima pendaftar baru sementara.

Tercatat sejak 7 Desember 2020, sudah ada 152 perusahaan fintech terdaftar di OJK. Jika dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah pelaku industri fintech yang terdaftar ada 164, ini artinya memang ada 12 perusahaan yang izinnya dicabut atau dibatalkan. 

Rentan Terjadinya Kejahatan Digital dalam Sektor Financial Technology

Seiring dengan kenaikan financial technology yang diprediksi terjadi di tahun 2021, hal ini juga akhirnya akan memengaruhi potensi munculnya kejahatan di internet yang ikut mengalami kenaikan. Salah satunya adalah money mule.

Kejahatan money mule merupakan perpaduan dari scam dan first party fraud yang sulit untuk dideteksi. Pada 2019 lalu, money mule ini menjadi tipe fraud terbesar kedua yang berdampak signifikan dalam industri keuangan Indonesia. Sebab, banyak ditemukan berbagai macam kejahatan seperti pemalsuan identitas sebesar 55% dan pencurian identitas yang angkanya mencapai 53%.

Kejahatan-kejahatan semacam itu bertumbuh pesat di Indonesia. Artinya, industri keuangan disarankan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan digital nasabahnya, apalagi trust sangat dibutuhkan di era teknologi saat ini. Hal ini juga menjadi tantangan tersulit di Indonesia karena semakin tingginya teknologi keuangan, semakin tinggi pula tingkat kejahatannya. 

Jika industri keuangan tidak menyiapkan sebuah strategi, maka anggaran dalam menuntaskan fraud di Indonesia akan semakin tinggi hingga angkanya mencapai US$ 88,9 juta, angka tertinggi setelah negara Thailand dan Tiongkok.

Industri keuangan disarankan untuk melakukan monitoring seluruh proses digital dari pengguna untuk manajemen risiko menghadapi hal ini. Mitigasi ini dapat dilakukan melalui digital end to end untuk memaksimalkan tingkat akurat deteksi penipuan hingga 30%. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan upaya perlindungan bagi konsumen di Indonesia.

Di sisi lain, para pengakses pinjaman online juga harus berhati-hati dalam memilih layanan fintech yang beragam di Indonesia. Pastikan pihak pinjol memiliki kredibilitas dan sudah terdaftar di OJK dengan ketentuan yang jelas dan tidak merugikan.

Bagi sebagian orang, financial technology memang dinilai sebagai solusi keuangan yang memiliki beberapa manfaat, seperti meningkatkan taraf hidup, membantu UMKM untuk mendapatkan modal, dan mempermudah layanan finansial. Penyelenggara dan pengakses layanan fintech memang sudah seharusnya harus lebih bijak dan berhati-hati dalam mengelola dan memilih pinjaman online.

Demikianlah uraian mengenai financial technology atau fintech yang diprediksi akan mengalami kenaikan di tahun 2021. Tentunya, kita berharap bahwa semua sektor bisnis akan segera pulih seiring ditemukannya vaksin corona. Mari kita berdoa bersama.