Pertumbuhan UMKM dan Ritel Tahun 2021 Diprediksi Akan Naik

Pertumbuhan UMKM dan ritel memang sempat mengalami pelemahan dalam penjualannya sepanjang 2020, namun bisnis retail diperkirakan akan kembali pulih mulai triwulan II tahun 2021. Pulihnya pertumbuhan ini tergantung pada perkembangan vaksin dan kasus COVID-19 di Indonesia karena berkaitan dengan peningkatan kepercayaan konsumen.

Menurut Executive Director Nielsen, tingkat kepercayaan konsumen sempat melemah selama pandemic berlangsung karena adanya kekhawatiran masyarakat terhadap perekonomian dan pekerjaan yang membuat konsumen menunda pembelian, hingga berakhir menurunnya daya beli masyarakat.

Memang, pertumbuhan retail sejak September 2020 hanya mencapai angka 2%, berbeda cukup jauh dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai angka 8%. Maka, hal ini menjadi tantangan bagi para pelaku usaha UMKM dan retail untuk kembali mempertahankan bisnisnya di tengah pandemic COVID-19. Meskipun nanti di tahun 2021, kita pastinya berharap bahwa kondisi sudah kian terkendali, tetapi usaha untuk bangkit lagi ini memang tak akan pernah mudah.

Vaksin dan Penanganan COVID-19 Menjadi Faktor Pendorong Pertumbuhan UMKM dan Ritel

Kondisi yang terjadi selama pandemi karena adanya krisis kesehatan telah mengubah kebiasaan masyarakat yang tadinya belanja offline, kini beralih pada preferensinya, menjadi lebih suka belanja online. Adanya transformasi digital seperti ini terus didorong agar kebutuhan masyarakat terpenuhi dan industri retail dan UMKM terus beroperasi.

Pandemi ini sebenarnya momentum yang tepat bagi para pendiri dan pengelola e-commerce untuk naik tingkat. Bahkan, peluang pertumbuhan e-commerce sangat besar tahun depan jika berhasil memberikan pilihan yang tepat bagi masyarakat. Apalagi jika para pelaku usaha retail yang masih offline mengembangkan teknologi digital dalam sistemnya.

Kabar baiknya, berdasarkan survei Nielsen, minat masyarakat mengunjungi mal atau pusat perbelanjaan meningkat sesudah anjlok di masa berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga kemudian pasca PSBB dan masa new normal. Namun, tetap belum kembali ke level normal seperti saat sebelum adanya pandemi. Bahkan, momentum hari-hari besar seperti hari raya lebaran di kuartal II ini saja masih belum mampu mendorong penjualan karena kebanyakan konsumen mengalihkan dananya untuk memenuhi kebutuhan dasar masing-masing.

Walaupun demikian memasuki kuartal III 2020, sektor retail mulai mengalami kenaikan aktivitas perekonomian hingga diperkirakan 2021 industri retail akan tumbuh di kisaran mid single digit, yaitu sekitar 5-6%. Prediksi ini mulai terjadi pada kuartal II tahun 2021 saat akan memasuki momentum lebaran. Selain itu, vaksin menjadi salah satu pertumbuhan yang bisa mendorong pemulihan ekonomi terjadi lebih cepat. Rebound akan sangat tergantung pada kesuksesan penanganan COVID-19 oleh pemerintah.

Masyarakat diharapkan dapat kembali melakukan wisata dan perayaan seperti tahun sebelumnya di hari-hari besar. Sebab, hal ini bisa membantu mencapai target rebound untuk usaha retail dan UMKM. Beberapa strategi yang bisa dilakukan retail yaitu mendorong penggunaan digital bukan hanya sisi penjualan saja, melainkan pembayaran dan komunikasi pada pelanggan. Lalu, melakukan promosi yang efektif dan memastikan barang di toko sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Optimis Terjadi Kenaikan di Tahun 2021

Menurut Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), ada optimisme dari industri retail yang akan membaik di tahun depan meskipun perekonomian Indonesia telah terdampak dan hampir mengalami resesi, meskipun tidak sampai separah negara-negara lainnya.

Sebab itu, ada beberapa strategi yang dilakukan para retail untuk meningkatkan kinerja tahun depan, di antaranya dengan cara memperkuat kemitraan dengan UMKM dan melihat peluang ekspansi global. Jika dilihat saat ini, sebesar 30-35% produk UMKM ada di retail modern. Maka, kemitraan inilah yang akan ditingkatkan ke depannya agar bisa tumbuh bersama-sama.

Selain itu, menurut Ketua MPR RI, bisnis retail juga harus bisa memaksimalkan akses digital untuk menghadapi era 4.0 yang menjadi peluang untuk mempertahankan bisnis. Pemerintah akan turut mendorong Aprindo dalam mengoptimalkan seluruh retail dan UMKM agar lebih kreatif dan juga inovatif.

UMKM dan Retail Tradisional: Marketing Harus Beralih Menjadi Digital Marketing

Usaha retail dan UMKM diprediksi akan naik, tapi perubahan global era 4.0 yang serbadigital juga diprediksi akan mengubah wajah bisnis di dunia, termasuk di Indonesia. 

Perubahannya yaitu dari traditional marketing menjadi digital marketing yang mulai dari tahap sederhana meliputi search engine optimization, digital maps, website, media sosial, email, hingga aplikasi gadget hingga terbentuknya digital advertising lain yang canggih.

Bagi para pelaku usaha retail dan UMKM yang ingin tetap bernapas dan bertahan di tengah kemajuan teknologi digital ini, mau tidak mau juga harus menyesuaikan diri. Mereka sedikit demi sedikit ikut menerapkan digital marketing agar mampu bersaing dan menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, target pasar saat ini dari generasi milenial yang lahir tahun 1980 – 2000 disebut-sebut sudah sangat dekat dengan perubahan dunia serba digital.

Tentu saja, hal ini menjadi kesempatan para pelaku bisnis untuk memaksimalkan bisnisnya karena target empuknya sudah jelas. Ada sekitar 90 juta jiwa generasi milenial saat ini, 1/3 lebih dari total penduduk di Indonesia, tentu saja hal ini menjadi sebuah potensi pasar yang sangat menggiurkan dengan membidik para generasi milenial menggunakan kecanggihan teknologi yang sudah tersedia.

Walaupun demikian, memang perlu dicermati kembali secara hati-hati karena generasi milenial pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok muda usia 20-30 tahun dan kelompok dewasa usia 30-40 tahun yang memiliki pola konsumsi dan kebutuhan yang berbeda untuk mencapai target yang efektif.

Demikianlah uraian mengenai prediksi tentang usaha retail dan UMKM yang akan mengalami kenaikan di tahun 2021. Tentu saja kenaikan ini didorong karena beberapa faktor lainnya dan kemampuan para pelaku usaha retail dan UMKM dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi.