153 Investor Asing Tertarik Menanam Modal di Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19

Investor asing yang telah berencana menanam modal di Indonesia menjadi angin segar di tengah pandemi Corona. Rencana masuknya modal asing di Indonesia merupakan kabar baik bagi kita semua, rakyat Indonesia.

Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), setelah disetujui dan disahkan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) oleh DPR, para investor langsung merespons positif.

Sebanyak 153 perusahaan asing diklaim telah menyatakan kesiapannya untuk turut berinvestasi di Indonesia. Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menyatakan masuknya investor ini akan berpeluang besar menciptakan lapangan kerja baru.

Sebelumnya, para investor mengeluhkan tentang izin usaha yang berbelit meliputi ego sektoral, tumpang tindih aturan, serta harga tanah yang mahal. BKPM juga optimis bahwa melalui UU Cipta Kerja prospek kinerja investasi 2021 akan lebih baik dari tahun 2020.

Menurut BKPM, target investasi sebesar Rp 817 triliun di tahun 2020 akan tercapai karena progress investasi hingga kuartal III tahun 2020 diprediksi membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020.

Investasi Asing dan Konsumsi dalam Negeri Saling Berkaitan

Banyaknya investasi asing yang masuk di Indonesia memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya di ruang lingkup pekerja. Komponen investasi atau pembentukan modal tetap bruto atau PMTB memberikan kontribusi mencapai 30,61% terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia di triwulan II tahun 2020, untuk konsumsi dalam negerinya menyumbang 57,85%.

Investasi dan konsumsi tentu berkaitan erat, sebab konsumsi baru terjadi Ketika masyarakat punya daya beli dan adanya kepastian dari pendapatan penghasilan dari pekerjaannya. Sejak tahun 2015, iklim investasi Indonesia terus membaik hingga Indonesia menempati peringkat ke-114 kala itu, lalu terjadi lagi peningkatan menjadi peringkat ke-109 di tahun 2016, peringkat 91 di tahun 2017, kemudian di tahun 2018 dan 2019 peringkat Indonesia menduduki posisi ke-73.

Tercatat peningkatan skor dalam indeks tersebut sebesar 67,96 di tahun 2018 dan mengalami peningkatan menjadi 69,6 di tahun 2019. Hal ini dinilai merupakan kemajuan positif. Sehingga dipastikan para investor akan dilayani dengan cara cepat, mudah, dan juga pasti.

Ketua BKPM menyatakan akan berkomitmen untuk melayani dan memberikan fasilitas dan memberikan pengawalan secara end-to-end. Akan tetapi, investor harus bekerja sama dengan perusahaan nasional meliputi mikro, kecil, dan juga menengah atau UMKM. Hal ini dilakukan untuk melindungi UMKM di saat yang sama Ketika terjadi rantai pasokan antara industri besar dan pengusaha kecil di daerah.

Tercatat realisasi investasi selama semester I tahun 2020 mencapai Rp 402,6 triliun atau 49,3% dari target penyesuaian 2020 sebesar 817,2 triliun. Namun di tengah pandemi COVID-19 terjadi penurunan dan pergeseran komposisi. Investasi dalam negeri memberikan kontribusi mencapai nilai Rp 207,0 triliun (51,4%) sedangkan PMA sebesar Rp 195,6 triliun (48,6%).

Investor Apa Saja yang Masuk ke Indonesia?

Menurut Menteri BUMN, Erick Thohir, pemerintah memang berusaha mendatangkan investasi meskipun di tengah pandemi hingga berangkat ke Korea Selatan untuk bertemu dengan perusahaan Korea yang punya minat serius menanam modal di Indonesia. Artinya, Indonesia masih memiliki daya tarik sekalipun dalam situasi Corona.

Sejak bulan Juli 2020, sudah ada 17 investor asing yang akan masuk ke Indonesia disusul dengan tujuh perusahaan asing yang sudah dipastikan akan merelokasi perusahaannya dengan total investasi mencapai Rp 11,9 triliun hingga mencapai sebesar 153 total investor asing di penghujung tahun ini.

Pemerintah terus melakukan negosiasi ke berbagai perusahaan agar tertarik merelokasi usahanya ke Indonesia meliputi negara Tiongkok, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan hingga 119 investor lainnya yang tertarik masuk ke Indonesia.

Investor asing yang berminat menanam modal asing di Indonesia salah satunya adalah Korea Selatan I-G Chemicals yang akan membangun industry baterai kendaraan yang terintegrasi dengan smelter yang nilai investasinya mencapai USD 9,8 miliar dengan kemampuan menyerap 14 ribu tenaga kerja.

Sejak 2015. Korea Selatan memang menjadi negara dengan investasi terbesar ke-7 di Indonesia setelah negara Singapura, Tiongkok, Hongkong, Jepang, Malaysia, dan Belanda. Korea Selatan melakukan investasi mencapai US$7,7 miliar.

Berdasarkan data di Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi BKPM, Korea Selatan berinvestasi selama periode 2016 hingga semester I tahun 2020 didominasi oleh beberapa faktor, diantaranya:

  • Sektor Listrik, Gas, Dan Air sebesar US$ 944,3 Juta
  • Industri Mesin, Elektronik, Instrumen Medis, Peralatan Listrik, Presisi, Optik, dan Jam Tangan sebesar US$ 902,5 juta
  • Industri Kimia dan Farmasi sebesar US$ 749,6 juta
  • Industri Barang Kulit dan Alas Kaki US$ 552,0 juta
  • Industri Lainnya sebesar US$ 528,7 juta

Jika berdasarkan lokasi, investasi Korea Selatan mayoritas berada di Jawa dengan total US$ 4,5 miliar, Kalimantan sebesar US$ 1,0 miliar, Sumatera US$ 372,4 juta, Papua sebesar US$ 246,8 juta, dan Maluku sebesar US$ 226,3 juta.

Beberapa perusahaan lainnya yang dipastikan telah merelokasi investasinya di Indonesia, yaitu:

  1. PT CDS Asia, bidang usaha industri lampu dengan tenaga surya asal Amerika Serikat
  2. PT Sagami Indonesia, industri komponen elektronika asal Jepang
  3. PT Denso Indonesia, industri suku cadang kendaraan bermotor asal Jepang
  4. PT Panasonic Manufacturing Indonesia, industri barang elektronika asal Jepang
  5. PT Meiloon Technology Indonesia, bidang industri speaker, audio, dan video elektronik asal Taiwan
  6. PT Kenda Rubber Indonesia, bidang usaha industri ban asal Taiwan
  7. PT LG Electronics Indonesia, bidang usaha perlengkapan elektronika asal Korea Selatan

Masih banyak investor asing yang berencana menanam modal di Indonesia hingga tahun 2021. Kesempatan ini dinilai merupakan peluang yang bagus untuk dimanfaatkan dengan baik.

So, what do you think, Guys?