Manfaat Utang dan Cara Mengatur Keseimbangan Keuangan

Manfaat utang? Emang ada?

Yah, apa mau dikata? Utang memang memiliki makna konotasi negatif pada umumnya. Banyak yang bilang, jangan utang, jangan utang. Padahal sebenarnya, kalau kita bijak dan tahu caranya, manfaat utang itu banyak.

Salah satunya, utang bisa jadi salah satu jalan untuk upgrade hidup kita ke level yang lebih tinggi dengan lebih cepat. 

Belum lagi untuk para pebisnis maupun perusahaan. Bagi mereka, mengembangkan bisnis miliknya menjadi sebuah target yang harus dicapai. Sebab, posisi bisnis yang semakin berkembang merupakan sebuah bukti kemajuan di tengah-tengah para kompetitornya. Semakin besar bisnisnya, maka akan semakin besar pula pelanggan yang diperolehnya. Hal ini tentu dilakukan untuk meningkatkan kepopuleran bisnis yang sejalan dengan peningkatan pemasukan.

Namun, ekspansi bisnis seperti itu tentu saja bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan karena dibutuhkan modal yang sangat besar. Beberapa jenis sumber modal usaha dapat dimanfaatkan demi memenuhi target. Misalnya, dari dana pribadi. Akan tetapi, jika memang nggak punya privilege punya dana pribadi yang berlebih, maka utang bisa jadi pilihan. Istilahnya, meminjam modal dari investor.

Nah, supaya kamu sedikit paham tentang utang, dan kemudian bisa memanfaatkannya dengan bijak, mari kita lihat seluk beluk utang pada artikel kali ini.

Pengertian dan Jenis Utang

Utang merupakan segala hal yang dipinjam, entah itu berupa benda ataupun alat pembayaran. Seseorang atau badan usaha yang meminjamnya disebut sebagai debitur, sedangkan pihak yang memberikan utang disebut sebagai kreditur.

Namun, yang harus diketahui atau digarisbawahi yaitu, utang memiliki dua jenis dalam pengelolaan keuangannya, yaitu utang produktif dan utang konsumtif.

1.Utang Produktif

Utang produktif merupakan utang yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat keuangan kembali di masa depan, seperti digunakan untuk modal usaha, modal kerja, investasi, membeli rumah untuk disewakan kembali, atau membeli benda-benda untuk membantu aktivitas pekerjaan.

Misalnya, utang yang dipakai untuk pengembangan bisnis bagi pengusaha yang kemudian bisa mendatangkan keuntungan. Keuntungan tersebut pun lantas dipakai untuk membayar cicilan pinjaman tambahan modal yang sebelumnya diambil. 

Inilah yang disebut dengan utang produktif--utang yang menghasilkan pemasukan. Utang produktif ini umumnya memang lebih terskema dan terencana dengan baik, karena tujuannya jelas.

2.Utang Konsumtif 

Utang konsumtif merupakan utang yang digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya ya konsumtif; tidak mendesak atau tidak terlalu penting, kadang hanya untuk sekadar hiburan atau bersenang-senang.

Memangnya salah beli barang atau mengeluarkan uang untuk bersenang-senang? Enggak dong. Kan itu adalah hak setiap orang. 

Tetapi, kalau kemudian pengeluaran uang menjadi sia-sia, dan bahkan kemudian mengganggu pemenuhan kebutuhan yang lebih penting, ya pastinya akan merugikan diri kita sendiri. Apalagi kalau belanjanya tak terkendali, dan dengan berutang.

Barang-barang dibeli biasanya barang yang akan mengalami penyusutan nilai ataupun harga. Artinya, jika dijual lagi barang-barang tersebut bisa turun drastis dari harga beli sebelumnya. 

Selain jenis utang di atas, berdasarkan waktu pelunasannya, utang juga dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu: 

Utang Jangka Waktu Pendek

Utang jangka pendek memiliki tempo sekitar 1 tahun saja atau harus dilunasi sesegera mungkin. Biasanya nominalnya juga tidak terlalu besar sih, mengingat jangka waktunya yang sempit.

Utang Jangka Waktu Panjang

Sesuai namanya, utang jenis ini masa pelunasannya lebih panjang dan biasanya berlaku untuk utang yang jumlahnya tergolong sangat besar. Biasanya waktu pelunasannya bisa mencapai lebih dari 10 tahun. Namun, untuk mendapatkan utang yang berjangka panjang seperti itu, memiliki persyaratan yang lebih ketat daripada utang jangka pendek.

Risiko dan Manfaat Utang

Utang yang berfaedah biasanya diambil untuk:

  • Menumbuhkan aset, misalnya untuk membeli properti, atau membeli mobil untuk kemudian direntalkan.
  • Modal usaha; seperti ekspansi bisnis, seperti yang sudah sempat disinggung di atas.

Di samping manfaat utang, tentunya ada beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh utang, apalagi jika tidak dikelola dengan bijak. Di antaranya:

  • Perubahan dari dunia ekonomi dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, artinya semakin lama sebuah utang dilunasi, maka semakin banyak pula risiko yang harus ditanggung atau tambahan beban di masa depan.
  • Pendapatan berkurang sampai utang lunas.
  • Bisa terjebak bunga yang membengkak jika terjadi penundaan. Apalagi kalau urusannya sama compound interest.
  • Membuat stres dan menekan kesehatan mental jika tidak bisa melunasi dalam jangka waktu sesuai kesepakatan.

Cara Mengatur Rasio Utang dan Pendapatan

Sudah banyak kasus ketika orang terjebak utang tanpa manfaat. Ini terjadi karena kekurangpahaman dalam mengelola manfaat utang itu sendiri.

Memang, literasi keuangan itu sangat penting, dimulai dari hal kecil. Dan, utang adalah salah satu hal yang sangat krusial dalam pengelolaan uang sehari-hari.

Untuk mendapatkan perbandingan yang seimbang antara utang dan pendapatan agar kesehatan finansial terjaga, maka kamu harus memahami terlebih dahulu rasio utang dan pendapatan.

Rasio ini dapat diukur dari pembayaran cicilan utang per bulan dengan pendapatan yang didapatkan per bulan juga. Hal ini biasa dilakukan sebagai pertimbangan perbankan sebelum memberikan kredit kepada nasabahnya.

Rumusnya yaitu:

(Total cicilan per bulan : Total pendapatan per bulan) x 100%

Jika sudah menghitung dan mendapatkan hasil persentasenya, maka didapatkan hasil seperti:

Ideal (Kurang dari 30%)

Rumus yang telah dihitung dan mendapatkan hasil kisaran angka tersebut atau kurang dari 30%, maka arus keuangan kamu ideal atau sesuai dengan pendapatan. Nantinya, pihak bank juga akan lebih leluasa untuk memberikan pinjaman karena dianggap bisa membayar dengan teratur dan juga minim untuk mengalami risiko tertunggak.

Melakukan pembayaran cicilan secara konsisten dan menjaga rasio utang dan pendapatan di angka yang ideal, bisa berdampak terhadap skor kredit dan terhindar dari blacklist dalam dunia perbankan.

Kurang Ideal (31% hingga 49%)

Jika hasilnya didapatkan kisaran angka tersebut, artinya keuangan kamu kurang ideal. Namun, hasil ini masih bisa diperbaiki. Caranya dengan menghitung kembali semua kebutuhan dan mengurangi pengeluaran yang tidak terkontrol.

Ketika kamu tidak berhasil menekan rasio ini ke angka yang lebih ideal, maka hal ini dapat membahayakan kesehatan finansial kamu. Pasalnya, kemungkinan kamu akan mengalami krisis dan tidak memiliki kemampuan untuk membayar utang di waktu mendatang.

Tidak Ideal (Lebih dari 50%)

Hasil yang berada lebih dari 50%, sudah bisa dipastikan memiliki kemampuan finansial yang berada di masa krisis atau zona merah keuangan. Sebab, antara pendapatan dan cicilan utang sudah tidak memiliki keseimbangan.

Biasanya, keadaan ini dipastikan akan tertunggak berbagai cicilan karena sudah tidak sanggup membayar lagi. Segeralah lakukan beberapa trik melunasi utang hingga tuntas yang sudah pernah diulas tuntas di sini.

Itulah beberapa manfaat utang, kerugian, dan cara mengatur keseimbangan keuangan. Baik buruknya seseorang mengambil utang, tergantung dari tujuan, cara melunasi, dan mengatur keseimbangan keuangannya.

Berutang memang tidak selalu negatif jika dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan keuntungan dalam mengelola uangnya, sebaliknya utang juga bisa menjadi malapetaka jika tidak jeli dalam mengatur keseimbangan keuangan. Oleh sebab itu, bijaklah dalam menggunakan uang.