Economic Recovery: 4 Pola Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

Economic Recovery atau pemulihan ekonomi menjadi salah satu target yang dilakukan berbagai negara pasca terjadinya pandemi COVID-19. Semua negara saat ini, memang harus dihadapkan dengan dilema bagaimana caranya memulihkan kehidupan sosial ekonomi, namun juga bisa menghentikan penyebaran Corona dengan menekan jumlah korban semakin minim.

Beberapa negara di kawasan Asia, seperti Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam, dan Hongkong menjadi negara-negara yang berhasil mengatasi outbreak Corona dengan jumlah korban jiwa yang sangat kecil hingga tanpa adanya korban jiwa. Sedangkan di negara-negara Barat, seperti Jerman, Islandia, dan Denmark, menjadi negara yang dinilai punya keberhasilan yang serupa.

Korea Selatan bisa berhasil mengatasi outbreak dari COVID-19 karena adanya program tes infeksi yang baik dengan jangkauan yang juga luas. Korea Selatan menjadi role model negara yang mampu mengatasi kondisi bencana ini dengan tingkat respons yang cepat dan penanganan secara serius. Pemerintah negara tersebut melakukan tes massal terhadap masyarakatnya yang punya potensi tertular dengan melakukan pelacakan jejak interaksi dengan tepat dan cepat, sehingga cukup memberikan data akurat tentang siapa saja yang perlu langsung dilakukan isolasi dan mana yang tidak.

Korea Selatan berhasil melakukannya bahkan tanpa ada kebijakan lockdown ataupun karantina secara nasional. Hal ini lantas memungkinkannya untuk tidak harus ada penutupan aktivitas perekonomian, atau economic shutting down.

Sedangkan di negara lain, seperti Singapura, memang memiliki jumlah penduduk yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Namun, pemerintahnya telah memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi sejak awal saat merespons kasus COVID-19-nya yang pertama. Mereka telah memiliki pengalaman yang pahit di masa lalu ketika terjadi wabah virus SARS tahun 2002-2003.

Namun, negara adi daya Amerika Serikat malah dinilai gagal mengatasi wabah. Hal ini dapat dilihat dari tingkat infeksi Corona yang sangat tinggi, bahkan sampai saat ini. Fareed Zakaria, seorang kolumnis The Washington Post, menilai bahwa hal ini terjadi bukan karena tidak adanya sumber manusia yang andal, dana, ataupun resources yang diperlukan lainnya, melainkan disebabkan oleh ketidakseriusan pemerintah yang malah menganggap penyakit ini bukanlah sesuatu yang berbahaya. Memang sih, malahan pemerintah setempat menuding Tiongkok melakukan konspirasi penyakit ini karena ada kepentingan politik. Hmmm.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Beberapa kali memang negara ini disorot. WHO juga sempat menilai, penanganan COVID-19 di Indonesia terhitung lambat. Namun, ada pula pihak-pihak yang mengacungkan jempol pada Indonesia lantaran, meski harus mengalami krisis, tetapi nyatanya resesi yang terjadi tidaklah sedalam yang dialami oleh negara lainnya.

Saat ini, ketika artikel ini ditulis, jumlah pasien COVID-19 juga sudah menurun drastis. Bahkan, di beberapa daerah, ada yang menyatakan sudah tidak ada kasus baru. 

Dan kini, Indonesia mulai bersiap untuk memulihkan perekonomian secepat mungkin.

Nah, sebenarnya, apa sih pemulihan ekonomi itu? Seperti apa? Hal-hal seperti apa yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memulihkan ekonomi negara ini?
Untuk menjawabnya, ada baiknya, kita lihat dulu beberapa pola pemulihan ekonomi yang pernah ada ini.

4 Pola Economic Recovery

Umumnya, ada empat pola pemulihan ekonomi yang disebabkan oleh krisis ekonomi di masa pandemi ini, yaitu:

  1. Bentuk V atau V Shape. Perekonomian yang disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya akibat adanya pandemic, mengalami keanjlokan yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun tajam hingga melonjaknya angka pengangguran. Namun, seperti halnya huruf V, dalam waktu singkat perekonomian bisa pulih kembali sebelum memasuki posisi krisis.
  2. Bentuk U. Perekonomian mengalami penurunan drastis hingga peningkatan pengangguran terjadi. Untuk pulih, biasanya dibutuhkan proses pertumbuhan dengan waktu yang cukup lama, sebab kesenjangan antara laju pertumbuhan ekonomi yang lama dan baru sangat besar. Hal ini juga menunjukkan adanya kerusakan dari sisi suplai ekonomi hingga harus membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk kembali pada kondisi sebelum terjadinya krisis.
  3. Bentuk W. Pola ini merupakan multiple atau perulangan dari pola V. Hal ini terjadi karena adanya outbreak gelombang kedua dan disusul dengan gelombang lainnya. Bentuk ini tergolong buruk dari proses pemulihan ekonomi di suatu negara.
  4. Bentuk L. Pola pemulihan ekonomi bentuk L terjadi lantaran pertumbuhan ekonomi dengan kondisi terburuk. Hal ini terjadi karena negara sebelumnya tidak pernah memulihkan output sebelumnya, sehingga tingkat pertumbuhannya semakin menurun. Hal ini lantas mengakibatkan terjadinya pelebaran jarak pertumbuhan antara grafik pertumbuhan yang lama dan yang baru. Keadaan ini telah memasuki krisis sehingga bisa menyebabkan kerusakan struktural secara permanen dari sisi suplai. Pola L ini merupakan bentuk paling rusak dari sebuah krisis ekonomi.

Pola Economic Recovery Mana yang Paling Baik?

Kalau ditanya, ya tentu saja pola V adalah yang paling baik. Bisa dibilang, hampir semua negara mengharapkan pola V terjadi dalam pemulihan ekonominya. 

Namun, untuk mendapatkan bentuk V ini, semuanya tergantung dari manajemen atau cara sebuah negara menangani penyebab krisis masing-masing. Kalau dalam kasus pandemi COVID-19 ini ya tergantung bagaimana kesigapan sebuah negara mengatasi dampak-dampak pandemi yang ada, sehingga terjadinya pelandaian kurva eksponensial dari Corona bisa cepat tercapai.

Jika hal ini telah dilakukan dengan baik, maka gelombang kedua bisa dicegah datang, dan juga gelombang susulan berikutnya. 

Dalam kasus pandemi di tahun 2020 ini, negara-negara yang bisa menciptakan pola bentuk V dalam pemulihan ekonominya adalah negara yang berhasil mengatasi krisis ekonomi dengan baik dari dampak COVID-19.

Untuk mendapatkan pola pemulihan bentuk V secara nasional, kuncinya adalah disiplin untuk menghindari kerumunan dan melakukan physical distancing sebelum ditemukannya vaksin atau obat penawar virus Corona. Sebab, bagaimanapun fokus untuk menghentikan penyebaran Corona harus menjadi yang utama.

Mengapa harus jadi prioritas? Karena besaran dan lama krisis ekonomi yang terjadi ini sangat tergantung dari kemampuan sebuah negara melandaikan kurva eksponensial dari penyebaran COVID-19 untuk mencegah terjadinya gelombang kedua dan gelombang seterusnya.

Maka, perlu adanya penerapan menjaga jarak aman pada tempat-tempat yang ramai seperti pasar, terminal, bandara, dan tempat-tempat publik lainnya agar adanya batas dengan protokol kesehatan yang ketat.

Negara Indonesia sendiri memang telah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun beberapa daerah belum bisa menerapkannya dengan baik, sehingga berpotensi untuk memunculkan gelombang baru dari serangan wabah virus Corona. Jika hal ini terjadi, tentu saja dapat menyebabkan krisis ekonomi dan sulit mengalami pola pemulihan ekonomi yang diharapkan, yaitu pola berbentuk V. Bahkan bisa jadi pola W-lah yang terjadi. Tentunya hal ini sangat tak diinginkan oleh siapa pun. Betul?

Namun, sebetulnya sih kurang tepat juga jika hanya menyerahkan usaha pemulihan ekonomi ini hanya di pundak pemerintah saja. Logikanya, usaha pemerintah akan sia-sia, jika rakyatnya tidak memberikan dukungan. Betul? Sia-sia saja kan, kalau pemerintah menganjurkan social distancing, melakukan protokol kesehatan, kalau kita masih saja bandel berkerumun untuk hal yang tidak penting?

Yes, jadi soal pemulihan ekonomi yang menjadi program pemerintah sekarang itu, seharusnya juga kita anggap sebagai program kita bersama. Bantuan yang diberikan juga enggak harus yang muluk-muluk kok. Cukup disiplin patuhi protokol kesehatan dan tetaplah berbelanja di warung-warung kanan-kiri serta mendukung bisnis lokal yang ada.

Bersama, pasti kita bisa melakukan pemulihan ekonomi ini dengan sukses.

Itulah uraian mengenai pola-pola pemulihan ekonomi dalam empat pola, serta mengetahui bagaimana sebuah negara bisa mendapatkan pola pemulihan ekonomi yang baik.