Nilai Reksa Dana Turun? Segera Lakukan Hal Ini!

Nilai reksa dana turun tak jarang membuat panik para investornya. Belum lagi hantaman pandemi virus Corona saat ini semakin memperparah keadaan tersebut. Kinerja reksa dana saham pada Maret 2020 lalu, sudah mengalami minus sebesar 26,16% dalam satu bulan terakhir, berdasarkan Infovesta Equity Fund Index. 

Reksa dana saham dan campuran seluruhnya juga anjlok mengikuti penurunan tajam yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat isu wabah COVID-19. Berbagai jenis produk reksa dana saham dan campuran pun harus ikut merugi.

Padahal, rerata investor pemula sudah kadung mengandalkan reksa dana pasar uang sebagai salah satu jenis investasi yang memiliki risiko cukup rendah. Namun, walaupun risikonya rendah memang bukan berarti tanpa risiko. Nilai reksa dana turun adalah salah satu risiko yang memang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal. Reksa dana per unit penyertaannya ada kalanya mengalami penurunan atau anjlok, bahkan secara drastis.

Jika Maret sudah terjadi minus, pada Juni 2020 lalu indeks Reksa Dana mencatat adanya kinerja negatif, yaitu mengalami penurunan 0,009 persen. Memang tipis, tapi terlepas dari situasi pandemi ini, tak bisa dimungkiri juga bahwa turunnya reksa dana dapat terjadi kapan pun sewaktu-waktu.

Mengapa Nilai Reksa Dana Turun?

Berdasarkan kinerjanya, nilai reksa dana biasanya diukur dengan cara membandingkan harga atau NAB/UP pada akhir periode dengan awal periode. Jika angkanya naik, dapat disimpulkan bahwa reksa dana tersebut punya kinerja yang positif. Namun, jika turun, artinya kinerjanya negatif.

Pergerakan harga reksa dana terjadi akibat adanya perubahan nilai investasi aset-aset yang ada di dalam reksa dana yang kamu pilih. Misalnya, untuk reksa dana pasar uang, asetnya ada di deposito, obligasi, dan sejenisnya.

Walau demikian, bukan berarti kamu tidak bisa mengatasinya dan melakukan antisipasi jika reksa dana menurun, kamu bisa lakukan hal-hal berikut.

Lakukan Beberapa Hal Berikut Jika Nilai Reksa Dana Turun

1. Tinjau Tujuan Keuangan Saat Reksa Dana Turun

Melakukan peninjauan kembali tujuan keuangan dapat menentukan instrumen yang akan dipilih ke depannya, seperti reksa dana apa yang harus dibeli atau mana yang sebaiknya dilepas. Lakukan review juga mengenai seberapa tinggi tingkat risikonya.

Tujuan keuangan ini nantinya akan membantu kamu menetapkan jangka waktu investasi reksa dana yang akan dipilih. Bisa sebulan, 5 tahun, bahkan bisa juga di atas 20 tahunan. Misalnya, jika tujuan keuangan kamu untuk pendidikan anak kuliah yang diperlukan 10 tahun lagi, gejolak turunnya reksa dana ini bukan suatu hal yang seharusnya perlu dicemaskan lagi.

Biasanya, penurunan tersebut memang terjadi dalam rentang waktu 1-2 tahunan untuk pulih kembali. Bahkan nantinya, harganya bisa lebih tinggi dari sebelumnya. Namun jika tujuan yang ingin kamu lakukan untuk melakukan KPR atau DP rumah yang perlu dibayar sebulan lagi atau dalam waktu dekat, maka kamu harus mulai mempertimbangkan untuk memindahkannya ke instrumen dengan tingkat risiko lebih rendah. Misalnya, dari reksa dana saham menjadi ke pasar uang.

2. Lakukan Reposisi Reksa Dana

Saat terjadinya penurunan reksa dana, kamu bisa melakukan average down atau reposisi dengan cara membeli reksa dana saham baru yang lebih murah dengan cara mencicilnya di harga rendah secara bertahap. Tidak ada salahnya melakukan investasi di kala saham sedang murah, yang terpenting tujuan investasi kamu apa, dan fokuslah di situ.

Sebab, jika pasar sudah kembali normal, akan ada potensi keuntungan yang lebih besar dari instrumen keuangan lainnya. Hal ini sangat cocok dilakukan bagi kamu yang cukup sabar menunggu lama dan memiliki modal tambahan alias amunisi.

Yes, patience is virtue!

3. Lakukan Penambahan Investasi

Jika kamu memiliki tujuan investasi di atas lima tahun, tingkatkan jumlah reksa dana yang kamu beli setiap bulannya, dan lebih baik jangan dilepas sebelum tujuan tercapai. Sebab, dalam jangka panjang, saham akan punya kecenderungan yang meningkat.

Biasanya, para investor akan cepat-cepat menjual instrumen yang dimilikinya dan lebih suka memiliki dana simpanan dalam bentuk fresh money di kala krisis, padahal kebutuhan dananya masih lama. Hal ini terjadi karena didasari rasa takut dan panik. 

Saat reksa dana turun, lalu kamu melepasnya tanpa pertimbangan matang--hanya karena panik--maka sudah bisa dipastikan, kamu kehilangan kesempatan untuk menikmati kenaikan harga saham.

Enggak salah kok melepas saham, tapi jangan karena alasan ikutan panik.

4. Atur Pengeluaran dan Berhemat

Pada kondisi penurunan ekonomi, melakukan pengaturan keuangan merupakan langkah efektif yang bisa dilakukan. Sebab, tak jarang juga dana tertanam di instrumen yang nilainya sedang turun, tapi dananya sulit dicairkan karena kurang likuid ataupun nilai investasinya menjadi rendah.

ika tidak dapat dicairkan tapi ada kebutuhan mendesak seperti biaya pendidikan dan keperluan lain yang tidak bisa ditunda, maka melakukan penghematan menjadi salah satu langkah yang paling bisa kamu lakukan sekarang ini demi survive.

Sambil menunggu, nilai investasimu naik lagi.

5. Jangan Cairkan Dana Terburu-Buru

Penurunan investasi memang tidak disukai oleh siapa pun, namun bukan berarti kamu harus langsung mengambil tindakan dengan cara mencairkan dana. Sebab, penurunan reksa dana bisa hanya terjadi dalam waktu singkat dan kemungkinannya akan naik kembali seperti pengalaman yang sudah terjadi sebelumnya.

Jika tujuan investasimu jangka panjang, itu artinya kamu sebenarnya masih bisa mengharapkan ada potensi kenaikan nilai investasi di masa depan. Kalau kamu terburu-buru mencairkan reksa dana turun, yang ada malah semakin minus dan malah mengalami kerugian yang nilainya bisa menguras habis investasi kamu.

Ingat, investasi belumlah rugi jika kamu belum memegang hasil pencairannya di tanganmu.

Pentingnya Melakukan Antisipasi Reksa Dana 

Sebenarnya, kamu bisa memilih instrumen investasi di luar reksa dana, seperti deposito, emas, obligasi, atau saham. Namun, untuk satu dan lain hal, instrumen reksa dana memang memiliki keunggulan dibanding instrumen lain. Tentu saja, ini juga tergantung pada preferensi dan profil risiko.

Selain itu, naik turunnya investasi reksa dana sebenarnya bukan hal baru lagi di Indonesia, apalagi Indonesia pernah mengalami beberapa kali krisis dan terbukti bisa melewatinya dengan baik. Contohnya seperti krisis 1998 lalu, kemudian juga di tahun 2008 akibat krisis keuangan Amerika.

Kuncinya memang tak perlu panik dan khawatir berlebihan, apalagi jika kamu memang sudah punya tujuan. Fokus saja pada tujuanmu itu, rileks dan tetap memperhatikan laju pergerakan reksa dana kamu secara rutin. Jika dibutuhkan, lakukan review dan analisis demi mencari langkah yang tepat sebelum ambil keputusan atau bertindak sesuai saran di atas. 

Sedangkan jika reksa dana yang kamu miliki belum terjadi penurunan, pastikan kamu sudah melakukan beberapa antisipasi lebih awal.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi nilai reksa dana turun. Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat membantu kamu.