Sektor Usaha Paling Parah Terkena Dampak Pandemi Corona Sejauh Ini

Berbagai sektor usaha terimbas dan mengalami masa sulit akhir-akhir ini. Pandemi virus corona ini memang mengubah segala-galanya dalam hidup kita, mulai dari cara bekerja, belajar, hingga bagaimana kita memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang sebelumnya bisa kita lakukan dengan bebas, lantas tidak boleh dilakukan. Yang sebelumnya tak pernah kita lakukan, jadi harus dilakukan.

Salah satu hal yang sekarang masih harus kita lakukan adalah membatasi aktivitas sehari-hari, yang kemudian dengan cepat berpengaruh pada aktivitas bisnis. Akhirnya, berbagai model bisnis dituntut harus berupaya agar survive dengan gebrakan-gebrakan terbaru di tengah ketidakstabilan ekonomi.

Walau berbagai sektor usaha mengalami kesulitan, nyatanya ada beberapa sektor yang lebih parah terkena dampak pandemi corona hingga mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifikan, bahkan mencapai 90%.

Value! menelusuri, dan inilah sektor usaha yang paling terdampak secara ekonomi pandemi sejauh ini.

1.   Pariwisata Adalah Sektor Usaha Paling Tertekan Saat Pandemi

Sektor pertama yang terkena dampak akibat Corona adalah pariwisata. Saat sebuah negara melakukan lockdown, maka orang-orang pun dibatasi untuk keluar masuk dari dan ke negara tersebut. Hal ini otomatis membuat turis dilarang datang. 

Apalagi jika jumlah kasus COVID-19 sangat tinggi, tak ada yang mau berkunjung sekalipun negara tersebut tidak ditutup.

Bukan hanya pada sektor pariwisata alam, akibat corona, beberapa tempat rekreasi, seperti wahana bermain, kolam renang, dan yang lainnya, harus ikut melakukan penutupan lokasi. Tak berhenti di situ, bahkan juga terjadi pembatalan konser, penundaan acara olahraga, serta berbagai event lain, yang berpotensi mendatangkan pendapatan. 

Bahkan, tempat rekreasi kelas dunia seperti Disneyland dan Universal Studios pun harus tutup lantaran pandemi corona. Bisa dibayangkan, berapa banyak orang harus kehilangan mata pencaharian.

2.   Sektor Transportasi Mendapat Imbas Kedua Setelah Pariwisata

Saat sektor pariwisata ditutup, umumnya beberapa sektor transportasi ikut kecipratan getahnya, khususnya pada maskapai penerbangan. Menurunnya para turis atau pengunjung domestik di masa corona membuat maskapai penerbangan merasakan imbas yang sangat signifikan.
Selain itu, sektor transportasi lainnya seperti ojek, taksi, hingga angkot banyak kehilangan penumpang karena mobilitas masyarakat harus dibatasi. Imbas ini juga terasa lantara penumpang takut untuk menggunakan sarana transportasi publik dan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Tak bisa dimungkiri juga bahwa penyebaran virus Corona di tempat umum seperti bandara, stasiun, dan sarana transportasi menjadi yang lebih berisiko dibandingkan tempat yang lainnya. Maka, masyarakat banyak yang memilih untuk menghindari transportasi publik.

3.   Manufaktur Berhenti Produksi di Masa Pandemi

Manufaktur menjadi salah satu sektor usaha yang juga paling terkena dampaknya di masa pandemi. Italia menjadi salah satu negara yang dikenal dengan berbagai macam produk-produk fashion mulai dari tas, sepatu, hingga pakaian. Namun, di masa pandemic beberapa produsen Italia harus mengalami kejatuhan akibat kebijakan lockdown dan virus corona.

Karantina diri yang dilakukan masyarakatnya membuat para penghasil tekstil dan pakaian di beberapa wilayah Italia tidak bisa melakukan produksi lagi. Salah satu label fashion terkemuka di Italia, Gucci dan Saint Laurent kini mengalami kendala karena pemasok bahan mereka tak beroperasi untuk sementara waktu.

Gucci menyatakan bahwa jumlah produksinya mengalami penurunan di masa pandemi. Biasanya Gucci bisa menghasilkan 1000 tas setiap bulannya, namun sejak pandemi Gucci hanya sanggup memproduksi sebanyak 450 tas saja. Setelah itu, tidak ada lagi permintaan produksi di bulan-bulan berikutnya.

4.   Sektor Pangan Mengalami Penurunan Tingkat Kunjungan Konsumen

Sejak pandemic corona meluas, sektor perdagangan pangan mulai mengalami penurunan yang sangat signifikan, apalagi dengan tingkat kunjungan konsumen yang anjlok dan terus melandai setiap bulannya.

Hal ini berdampak karena diberlakukannya lockdown atau pembatasan berskala. Negara Indonesia sendiri telah memberikan izin untuk buka dengan kapasitas 50%, namun sektor pangan tetap mengalami defisit lantaran kapasitas 50% pun tidak tercapai. Paling banyak hanya 30-40%.

Menurunnya pendapatan sektor pangan membuat beberapa perusahaan harus melakukan pemutusan hubungan kerja dan merumahkan msasal para pegawainya. Hal ini tentu saja akan menambah angka pengangguran akibat pandemi corona hingga menambah risiko terjadinya resesi ekonomi. 

5.   Industri Perfilman dan Bioskop Mati Suri

Sejak pandemi, beberapa film yang sebelumnya dijadwalkan akan tayang harus mengalami jadwal pengunduran atau penundaan hingga waktu yang cukup lama. Hal ini dilakukan karena jadwal syuting yang harus disesuaikan dengan keadaan darurat corona. Bahkan, beberapa industri perfilman di Korea pernah menjadi ruang lingkup penyebaran corona paling berisiko.

Banyaknya film yang menunda syuting dan jadwal penayangannya, sejalan dengan keadaan bioskop-bioskop yang mati suri karena tidak beroperasi sejak dinyatakannya penyebaran corona secara masif. Bioskop menjadi salah satu ruang publik yang banyak membuat orang-orang berkerumun, belum lagi kondisi ruangan serba tertutup dengan kondisi udara diatur dengan air conditioning. Hal ini dapat mempercepat penyebaran virus jika masih diizinkan beroperasi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Para pemilik label bioskop terkenal bahkan melakukan beberapa strategi agar bisa bertahan di tengah pandemi dengan mengurangi biaya sewa tempat usaha, hingga membuat kebijakan pada karyawannya secara bebas untuk melakukan pengunduran diri.

Beberapa rumah produksi bahkan memutuskan untuk mengalihkan penayangan film-film produksi mereka ke layanan streaming online. Meskipun pendapatan dari streaming tidak setinggi jika diedarkan melalui bioskop, tetapi langkah ini dirasa yang paling tepat untuk saat ini.

Layanan streaming online sendiri sebenarnya merupakan salah satu sektor yang justru mengalami peningkatan pendapatan di masa pandemi. Popularitas beberapa layanan streaming nonton ini naik, seiring kebiasaan masyarakat akan kebutuhan hiburan yang juga harus diubah akibat pandemi.

6. Sektor Ritel dan Pusat Perbelanjaan Turun Omzet Ratusan Triliun

Kebijakan lockdown dan pembatasan sosial diterapkan, sektor ritel dan pusat perbelanjaan harus kehilangan omzet ratusan triliun karena kapasitas yang diperbolehkan hanya sekitar 50% dari normalnya. Hal ini juga diperparah dengan larangan pengunjung untuk makan di tempat.

Jika biasanya para pengunjung datang ke pusat perbelanjaan untuk belanja dan mencari kuliner, sejak Maret 2020, ketika terjadi penutupan mal hingga dibuka kembali, otomatis jumlah para pengunjung mengalami penurunan yang sangat signifikan. Praktis, hanya gerai dan toko-toko yang menyediakan kebutuhan esensial saja yang diperbolehkan buka dan beroperasi, seperti apotek atau supermarket.

Hal inilah yang membuat kondisi kas sangat minim. Padahal sektor ritel dan pusat perbelanjaan pun punya kewajiban setoran pajak pada pemerintah dan tanggung jawab yang harus diberikan untuk para karyawannya.

Selain itu, sejak pandemi orang-orang memang banyak yang memilih untuk berdiam diri di rumah dan tidak mengunjungi pusat perbelanjaan. Bahkan kini kebiasaan pun berubah; orang banyak yang memilih untuk berbelanja kebutuhan secara online tanpa transaksi tatap muka langsung.

Itulah beberapa sektor usaha yang mengalami kondisi paling parah karena harus habis-habisan bertahan di masa pandemic Corona. Namun, untuk memperkecil imbas akibat terjadinya resesi ekonomi, berbagai transaksi harus terus berputar secara berimbang. Gunakan uang yang kamu punya saat ini untuk berbelanja pada sektor apa pun saat ini, tentunya, dengan bijak.