Ketika Reksa Dana Dibubarkan atau Bangkrut, Kita Harus Bagaimana?

Sepanjang tahun 2019, ada 37 manajer investasi disuspensi. Masih jelas banget di ingatan, kehebohan beberapa manajer investasi yang terseret kasus Jiwasraya yang muncul ke permukaan di akhir 2019. Tak ketinggalan juga kasus Minna Padi, Narada, Sinarmas, hingga Kresna terkait beberapa produk reksa dana dibubarkan.

Hal ini lantas memunculkan asumsi negatif, bahwa investasi reksa dana ternyata tidak aman.
Benarkah demikian?

Investasi di Reksa Dana Tidak Aman?

Mari kita lihat dulu, tentang investasi itu sendiri.

Selalulah untuk ingat, bahwa akan ada risiko menyertai setiap instrumen investasi yang kita pilih. Meskipun dibilang pasti aman, paling aman, teraman, dijamin aman, dan seterusnya, namun selalu akan ada risiko di setiap investasi yang ada. Enggak ada investasi yang benar-benar 100% bebas risiko. Bahkan deposito di bank paling besar pun tetap memunculkan risiko.

Hal yang sangat prinsipil seperti ini harus benar-benar dipahami oleh investor atau pemodal, di mana pun mereka akan berinvestasi atau menanam modal--dan dalam bentuk apa pun.

Risikonya apa? Di antaranya, satu, karena reksa dana juga mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi dengan karakter masing-masing serta sangat tergantung pada situasi dan kondisi ekonomi negara, maka ketika secara umum ekonomi menurun, maka nilainya juga akan menyesuaikan.

Dua, karena dana dipegang oleh lembaga tertentu, maka kita juga tak bisa mengendalikan secara penuh performa si lembaga tersebut dalam mengelola dana investasi kita. Kita “hanya” bisa memilih siapa yang bisa kita percaya untuk mengelola dana kita. Mengenai performa, maka itu sangat di luar kontrol kita. Bisa saja, ketika kita lakukan riset sebelum mulai investasi, kita menemukan data bahwa performa lembaga tersebut oke. Setelah kita menaruh dana untuk dikembangkan untuk mereka kelola, ternyata ekspektasi kita meleset.

Hal-hal seperti itu bisa banget terjadi pada instrumen investasi mana pun, termasuk reksa dana.

Ketika Reksa Dana Dibubarkan, atau Bangkrut

Nah, pertanyaan yang merebak belakangan adalah, spakah manajer investasi yang menjadi perantara kita ketika berinvestasi reksa dana bisa bangkrut? Bisa. Manajer investasi bisa disuspensi oleh regulator, ketika regulator menemukan fakta-fakta bahwa ada hal atau masalah yang membahayakan dana nasabah/investor yang dikelola oleh MI tersebut. 

Apakah reksa dana bisa dibubarkan? Bisa.

Dalam peraturan yang diterbitkan oleh OJK--yang bisa kamu cek di website-nya langsung--telah dicantumkan mengenai hal-hal yang bisa menjadi alasan reksa dana dibubarkan atau dinyatakan bangkrut. Di antaranya:

  • Diperintahkan untuk dibubarkan oleh OJK, sesuai dengan peraturan perundang-undangan di sektor pasar modal.
  • Total Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana kurang dari Rp10 miliar selama 120 hari bursa berturut-turut

Nah, alasan pertama mungkin malah sudah jelas, karena jika sampai dibubarkan oleh OJK berdasarkan peraturan perundangan, berarti sangat besar kemungkinan ada pelanggaran yang dilakukan oleh manajer investasi terkait reksa dana yang dikelolanya.

Mari kita bahas alasan yang kedua.

NAB, atau Nilai Aktiva Bersih, bisa dibilang sebagai nilai investasi reksa dana yang riil. Taruhlah, di reksa dana saham. Jika harga saham terus merosot--seperti kondisi yang sedang dialami saat artikel ini ditulis--maka secara otomatis pula NAB reksa dana saham juga akan ikut turun. Jika penurunan nilai ini sampai melebihi ambang batas bawah, maka hal ini bisa berujung pada pembubaran reksa dana tersebut.

Mengapa harus Rp10 miliar?

Adanya batasan ini memberikan jaminan pada investor agar mereka masih bisa mendapatkan kembali setidaknya sebagian nilai investasinya. Jika tanpa batasan ini, maka yang bisa terjadi, reksa dana masih akan terus beroperasi sampai titik nol. Ketika pada titik ini baru dibubarkan, maka sudah pasti enggak ada aset yang bisa dibagikan pada para investor.

Lebih parah lagi kan?

Ketika reksa dana dibubarkan, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh manajer investasi terkait dana investor yang dikelolanya, yaitu:

  • Menyampaikan laporan kondisi yang dialami kepada OJK.
  • Mengumumkan rencana pembubaran reksa dana kepada para investor melalui media nasional, paling lambat 2 hari bursa sejak berakhirnya jangka waktu.
  • Meminta bank kustodian untuk mencairkan dana hasil likuidasi pada investor sesuai kepemilikan masing-masing paling lambat 2 hari bursa.

Nah, sampai di sini, sebenarnya kamu bisa sudah paham, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan dana investasimu yang dikelola oleh manajer investasi. Just in case, reksa dana di mana kamu berinvestasi dibubarkan, dana investasimu kan ditampung oleh bank kustodian. Manajer investasi dan bank kustodian bekerja sama dalam kontrak investasi kolektif, yang diatur dengan peraturan OJK. Jika ada hal-hal yang bisa memengaruhi posisi dana investasimu, sebenarnya tetap ada aturan yang akan melindungi investor seperti kamu.

Pada dasarnya, manajer investasi “hanya” dapat memberikan instruksi pada bank kustodian untuk membeli instrumen sesuai yang diminta. Bank kustodianlah yang bertugas untuk melakukan pembelian ataupun menampung hasil penjualan. Dengan kata lain, sebenarnya manajer investasi tidak ada akses langsung aset reksa dana kamu.

Jadi, seandainya manajer investasi disuspensi, bangkrut, atau reksa dana dibubarkan, NAB reksa dana akan dijual, dan hasil penjualan akan dibagikan sesuai proporsi unit penyertaan yang dimiliki oleh masing-masing investor, yang kemudian ditampung oleh bank kustodian. Dengan demikian, dana investasimu nggak hilang, dan bisa dicairkan melalui bank kustodian.

Kamu bisa memilih manajer investasi lain, pastikan kali ini yang lebih baik.

Jika dalam proses reksa dana dibubarkan ternyata ada biaya beban pembubaran dan likuidasi gimana? Siapa yang menanggung? Tentu saja manajer investasi.

Lalu, bagaimana kalau posisinya saat ini manajer investasi disuspensi? Ya, sama saja. Tetap aman. Kamu bisa melakukan penjualan sendiri reksa dananya, tetapi di masa suspensi kamu enggak bisa membeli lagi produk yang sama.

The bottom line is ....

Jadi, reksa dana tetap aman dong ya? Ya, aman, tapi kamu tetap harus waspada akan risiko yang tak akan bisa hilang, menyertai setiap instrumen investasi yang ada. Investasi reksa dana memang merely bergantung pada performa si manajer investasi. 

So, kalau kamu memang pengin berinvestasi pada produk reksa dana, ada baiknya melakukan PR kamu untuk meriset berbagai manajer investasi yang bisa jadi opsi. Pilih manajer investasi yang memang sudah bereputasi baik, sudah lama beroperasi, dan punya dana kelolaan yang besar. Tiga hal itu sudah bisa jadi sinyal paling jelas dari manajer investasi yang terpercaya. Selanjutnya, ya, pelajari prospektus dan fund fact sheet mereka, sebelum benar-benar memutuskan.

Ingat, hanya beli produk yang benar-benar kamu kenal dan pahami cara kerjanya ya.