Depresi Ekonomi: Apa yang Perlu Kamu Ketahui?

Dalam artikel yang lalu, kita sudah bahas mengenai resesi ekonomi, yang kini sedang dihadapi oleh Indonesia dan mungkin oleh seluruh dunia. Nah, selain resesi, kamu tentu pernah mendengar tentang depresi ekonomi. Makhluk apa pula itu?

Artikel kali ini memang membahas sesuatu yang besar. Resesi ekonomi kemarin mungkin sudah kurang related buat sebagian dari kamu, dan depresi ekonomi bisa jadi lebih nggak related lagi. Tapi, ada baiknya juga untuk kita tahu, agar setidaknya kita juga paham akan apa yang sebenarnya terjadi jika ada pembahasan mengenai hal ini.

Pengertian Depresi Ekonomi

Depresi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia--dalam pengertian ekonomi--berarti keadaan perniagaan yang sukar dan lesu, terjadi akibat penurunan aktivitas ekonomi dalam periode yang lebih panjang daripada resesi ekonomi.

Resesi ekonomi terjadi ketika ada penurunan pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut, sedangkan depresi bisa lebih panjang lagi--misalnya 3 tahun--dengan pertumbuhan PDB mencapai minus 10% atau lebih.

Efeknya lebih dahsyat ketimbang resesi ekonomi. Di antaranya:

  • Angka pengangguran membengkak secara sangat signifikan, bisa sampai dua digit persen.
  • Angka kemiskinan melonjak tajam
  • Kelaparan terjadi di mana-mana
  • Sangat banyak bisnis yang bangkrut

Menurut penelusuran Value!, depresi cukup jarang terjadi. Depresi ekonomi terparah terakhir terjadi tahun 1930 di Amerika Serikat, yang juga memengaruhi perekonomian dunia. Peristiwa yang efeknya dirasakan sampai 1 dekade ini membuat pengangguran meningkat 25%, dan upah buruh turun hingga 42%. Pemicunya adalah runtuhnya Wall Street di tahun 1929, dan dengan cepat krisis menyebar ke seluruh dunia.

Penyebab Depresi Ekonomi

Seperti halnya resesi, depresi juga dipicu oleh hal-hal yang memengaruhi kegiatan aktivitas ekonomi manusia dalam skala yang lebih besar. Seperti yang terjadi sekarang, ketika pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia. Orang-orang jadi berhenti bekerja, stock-piling hingga menyebabkan kelangkaan beberapa barang kebutuhan di pasaran, bisnis-bisnis tutup karena orang membatasi ruang gerak, dan seterusnya.

So, kamu seharusnya sekarang paham, apa alasan yang paling mungkin timbul terkait kesan bahwa pemerintah terlalu buru-buru menyatakan Indonesia masuk ke era new normal bahkan ketika virus corona belum tertangani secara tuntas.

Ada beberapa teori terkait penyebab terjadinya depresi ekonomi. Mari kita bahas dalam ‘bahasa manusia’.

1. Kelesuan permintaan barang di pasar

Terutama yang terkait dengan permintaan kebutuhan rumah tangga. Yes, ekonomi dalam skala bawah memang justru yang menjadi tulang punggung perekonomian suatu negara, yang kontribusinya sangat signifikan bagi pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB. 

Ketika kita-kita yang di bawah ini masih belanja kebutuhan sehari-hari, maka itu mengindikasikan ekonomi masih berjalan dan ada harapan untuk bertumbuh lebih baik.Tetapi, ketika kita berhenti belanja, lalu kegiatan ekonomi pun akan berhenti juga. Ini yang bisa menyebabkan terjadinya resesi, yang kalau berkepanjangan akhirnya berkembang menjadi depresi.

Dari sini, efek domino dan bola salju bisa terjadi. Karena permintaan kebutuhan anjlok, maka bisnis pun harus memangkas produksi, dan mengadakan efisiensi. Akibatnya, angka pengangguran naik. Pengangguran yang besar akan memengaruhi tingkat permintaan. Kita jadi punya lebih sedikit uang untuk dibelanjakan, dan hal ini berimbas pada kegiatan ekonomi yang semakin turun.
Begitu terus, hingga muncul sentimen negatif berkepanjangan yang saling memengaruhi.

2. Penyusutan jumlah uang yang beredar

Penyusutan jumlah uang yang beredar bisa terjadi juga akibat orang-orang yang membatasi kegiatan ekonominya. Hal ini kemudian menyebabkan suku bunga melonjak karena likuiditas menurun.

Dari sini, kembali efek domino dan bola salju terjadi.

Suku bunga melonjak membuat pinjaman ke lembaga keuangan menjadi lebih mahal. Akibatnya bisa diprediksi kemudian, bahwa permintaan pasar akan menurun dan meningkatkan risiko gagal bayar pada bisnis yang ada.

Risiko gagal bayar yang meningkat akan membuat lembaga keuangan semakin berhati-hati dalam mengucurkan dana pinjaman. Hasilnya, kredit menurun, dan bisnis kesulitan mendapatkan pinjaman baru. Bahkan pinjaman lama pun sulit untuk dikelola, akibatnya banyak yang berhenti berinvestasi.

Jika berlangsung lama, hal ini akan memengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

3. Kejatuhan pasar real estate

Jatuhnya pasar real estate menjadi penyebab terjadinya resesi tahun 2008 - 2009, meski tak sampai terjadi depresi. Namun, hal ini juga cukup menarik untuk diamati.

Aktivitas spekulatif meningkatkan harga pasar real estate, sehingga menyebabkan aktivitas konstruksi meningkat. Hal ini lantas juga mendorong biaya konstruksi menggelembung. Euforia pun terjadi pada investor. Hingga sampai pada titik tertentu, harga menjadi jauh di atas nilai wajar, sehingga mengakibatkan stuck-nya harga karena sudah demikian tak masuk akal. Permintaan pun menurun.

Gelembung pecah, mengakibatkan harga jatuh luar biasa cepat. Hal ini memengaruhi arus kas para pelaku bisnis real estate. Mereka harus menanggung kerugian yang terjadi, dan akibatnya risiko gagal bayar meningkat tajam.

Investor juga terkena imbasnya akibat peningkatan risiko gagal bayar pelaku bisnis real estate ini. Mereka yang biasanya mengajukan pinjaman untuk membeli real estate, masih mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan cicilan pinjaman. Tetapi ketika penjualan terhenti, maka mereka pun harus menanggung pinjaman (berikut bunganya) yang besar. Gagal bayar pun terjadi.

4. Jatuhnya pasar saham

Inilah yang terjadi di tahun 1930, ketika Wall Street runtuh.

Spekulasi dan euforia berlebihan pada transaksi saham terjadi. Lalu tiba-tiba harga jatuh, sehingga membuat panik para investor. Karena sebagian besar uang berada di pasar saham, ketika saham jatuh, maka orang menjadi tak punya tabungan lagi untuk berbelanja barang dan jasa sehari-hari. Akibatnya, permintaan menurun.

Bisnis pun melakukan efisiensi semaksimal mungkin, salah satunya dengan pengetatan sumber daya manusia. Pengangguran melonjak tajam, dan efeknya sudah bisa ditebak lagi ke arah mana.

Dampak Depresi Ekonomi

Sebenarnya dampaknya sudah bisa kita lihat dari penjelasan di atas. Tapi, mari kita rinci lagi agar lebih mudah dipahami.

Dampak terbesar yang paling akan mungkin terjadi adalah:

  • Aktivitas ekonomi menyusut tajam. PDB riil dapat turun sampai lebih dari dua digit, dan dalam jangka waktu yang lebih panjang, setidaknya 3 tahun.
  • Produktivitas menurun, yang diakibatkan oleh lesunya permintaan pasar sehingga memaksa bisnis untuk mengurangi aktivitasnya juga.
  • Pengangguran melonjak drastis, sebagai akibat dari produktivitas bisnis yang menurun dan harus melakukan efisiensi.
  • Upah turun, karena bisnis harus menekan biaya operasionalnya sehingga tak dapat mempertahankan upah normal.
  • Konsumsi rumah tangga menurun tajam, sebagai akibat berkurangnya pemasukan masyarakat karena kehilangan pekerjaan.
  • Permintaan pasokan barang semakin menurun, sebagai akibat dari berkurangnya konsumsi rumah tangga.

Dan akhirnya hal ini berdampak semakin buruk dan semakin buruk jika tak segera diambil tindakan yang tepat oleh pemerintah negara dan pemangku kebijakan setempat. Dalam skala besar dan lama, negara yang mengalami depresi ekonomi akan terpuruk dalam kemiskinan; kelaparan ada di mana-mana.

Yah, itulah yang terjadi jika sampai depresi ekonomi datang. Mengerikan? Ya memang. Karena itu, ayo, segera bantu pemerintah agar cukuplah sampai ke jurang resesi, tak perlu meneruskan langkah ke depresi.

Bisa? Pasti bisa, dengan mulai dari hal-hal kecil seputar diri sendiri: nggak panik, tetap belanja (tapi jauhi konsumerisme), dan tetap berinvestasi dalam bentuk apa pun.

Stay safe and stay sane, everyone!