Resesi Ekonomi? Jangan Panik, Inilah 10 Tips untuk Menghadapinya!

Di masa pandemi begini, akhirnya seluruh negara di dunia harus mengalami resesi ekonomi, termasuk Indonesia. 

Apa itu resesi ekonomi? 

Resesi ekonomi sendiri berarti adalah penurunan produk domestik bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal secara berturut-turut YoY. Hal ini bisa terjadi karena adanya penurunan secara signifikan kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. 

Menurut para ahli, resesi terjadi saat suatu negara mengalami PDB negatif, penurunan penjualan di ritel, terjadinya kontraksi pendapatan manufaktur dalam periode waktu yang panjang, dan naiknya tingkat pengangguran. 

Resesi eknomi memang berada di luar kendali kita, tapi kita dapat merespons dan mempersiapkan diri untuk menghadapi resesi ini. Lakukanlah tindakan pencegahan untuk melindungi keuangan kamu selama resesi ekonomi terjadi. Pastikan kamu mengambil beberapa tindakan untuk menghadapi resesi ekonomi, terutama dengan mengatur keuangan. 

Sebab, sebagian besar pakar sepakat bahwa dunia saat ini sedang menuju titik resesi. Ada banyak orang yang sudah kehilangan pekerjaan, belum lagi tingkat pengangguran naik ke tingkat yang lenih tinggi. Hal ini membuat banyak orang dilanda ketidakpastian dalam situasi sulit seperti ini. 

Tip Menghadapi Resesi Ekonomi

Terjadi atau tidak terjadi, lebih baik persiapkan diri kamu sebaik-baiknya dengan tips menghadapi resesi ekonomi di bawah ini. 

1. Persiapkan Dana Darurat

Persiapan dana darurat sangat penting, tak peduli berapapun jumlahnya. Memang tidak ada yang berharap akan kehilangan pekerjaan atau mengalami beberapa kondisi darurat lainnya. Namun, kamu tetap harus mempersiapkannya. 

Saat situasi ekonomi sedang sulit, risiko terjadinya pemotongan jumlah karyawan di kantor akan semakin meningkat. Termasuk bagi beberapa orang yang mempunyai bisnis sendiri, tentu kebangkrutan dan penurunan pendapatan selalu mengintai kapan saja. 

DItambah, mencari pekerjaan baru dutengah resesi ekonomi akan sangat sulit, apalagi mendapatkan bayaran dengan pendapatan yang sama dengan sebelumnya. Oleh sebab itu, dana darurat akan berguna bagi kamu dalam mempersiapkan keadaan tidak terduga, termasuk resesi.
Dana darurat yang dikumpulkan, idealnya harus bisa mencukupi kebutuhan kamu selama 3-6 bulan. Jika dirasa jumlah tersebut terlalu besar, kamu bisa mencicilnya secara perlahan atau memangkas pengeluaran yang tidak diperlukan. 

2. Pantau Investasi

Melakukan peninjauan investasi untuk menghadapi resesi sangat penting dilakukan. Pantaulah bagaimana kondisinya. Yang pasti sih, enggak ada yang ingin merugi saat melakukan investasi, sebab membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali stabil dan harus memikirkan cara yang lain untuk investasi lainnya. Tetapi, jika memang kamu punya horizon waktu yang cukup panjang, misalnya lebih dari 5 tahun, kamu juga tak perlu panik untuk segera menjual semua saham yang sudah kamu koleksi.

Kamu bisa meminta bantuan pihak professional untuk memperhitungkannya jika kesulitan dilakukan sendiri. Perhitungkanlah resiko secara detail, perpajakan, pengeluaran, dan lain sebagainya. Manajemen risiko sangat penting dilakukan untuk menghadapi resesi nantinya. 

Intinya, perhitungan, perhitungan, perhitungan.

3. Mulai Pangkas Pengeluaran

Memangkas pengeluaran merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk melakukan penghematan. 

Kamu bisa mulai memilah mana pengeluaran yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan. Selain itu, sebaiknya kesampingkan terlebih dahulu anggaran yang sifatnya jangka pendek yang butuh dana besar, seperti mengganti mobil baru, atau mau smartphone seri terbaru yang kemarin barusan launching itu. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu memang benar-benar memerlukannya ataukah hidupmu akan baik-baik saja jika tanpa membelinya untuk sementara waktu?

Sampingkan terlebih dahulu kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak. Lebih baik, kamu manfaatkan untuk memperkuat dana darurat.

4. Tetap Lakukan Transaksi 

Walaupun melakukan penghematan, bukan berarti kamu lantas setop, tidak melakukan transaksi perbelanjaan sama sekali. 

FYI, kegiatan belanja dapat mendorong ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Tetaplah belanja kebutuhan primer, terutama pada warung-warung kecil atau tetangga di sekitar rumah kamu agar roda perekonomian selalu berputar dan semua orang tidak menimbun uang mereka. 

5. Atur atau Ubah Gaya Hidup

Jika sebelumnya kamu selalu belanja barang-barang bermerek mulai dari tas, sepatu, baju, dan yang lainnya, untuk menghadapi resesi ekonomi sebaiknya hindari terlebih dahulu kebiasaan seperti itu. 

Sifat-sifat konsumtif tersebut perlu dihindari agar pengeluaran bulanan kamu tidak membengkak. Usahakan membeli tas ataupun sepatu jika keadaannya memang sudah tidak layak pakai, sebab kebutuhan seperti ini bukan menjadi hal yang bersifat primer. Jika kamu mulai mengubah gaya hidup menjadi lebih minimalis, akan ada banyak uang yang disisihkan untuk tabungan nanti. 

6. Lunasi Utang 

Utang dapat menimbulkan kekhawatiran jika kondisi ekonomi tiba-tiba berubah menjadi lebih buruk, sebab tak bisa dipungkiri lagi jika resesi dapat membuat perekonomian menjadi serba tidak pasti. 

Saat ini Indonesia memang belum resmi memasuki masa resesi, meski sudah secara resmi diprediksi oleh Sri Mulyani. Tetapi pengumuman resminya masih nanti akan diumumkan di bulan November oleh BPS.

So, sebaiknya kamu cepat-cepat membuat skema pembayaran utang, jika keuangan kamu saat ini masih cukup baik. Sebab, membayar utang saat ini dapat membebaskan kamu dari risiko dan tekanan di masa depan. 

7. Upgrade Skill 

Saat resesi terjadi, angka pengangguran tentunya akan meningkat secara tajam. Hal ini juga akan berdampak pada ketatnya persaingan saat akan melamar pekerjaan. PHK menjadi sebuah momok yang sangat rentan terjadi di masa ini. 

Sebab itu, lakukanlah investasi pada diri sendiri dengan meningkatkan skill atau keterampilan dan perkaya basis pengetahuan kamu. Kamu bisa mulai mengikuti webinar, kursus keterampilan yang kamu miliki, dan yang lainnya untuk memperkaya CV. Cara ini bisa membantu kamu untuk lebih unggul dari pesaing lain nantinya di masa depan. 

8. Persiapkan Asuransi

Asuransi punya peran penting untuk melindungi anggota keluarga. Asuransi bisa menjadi bekal bagi keluarga jika terjadi sesuatu yang tidak diingkan padamu atau keluargamu. 

Selain itu asuransi merupakan cara untuk memastikan keamanan finansial dan kesehatan di keluarga kamu tetap stabil. Sebab, memiliki danan darurat saja tidak cukup, sebab uang bisa habis dengan cepat tanpa disadari. 

9. Cari Pendapatan Sampingan 

Mencari pendapatan sampingan bisa membantu kamu mengamankan kemampuan finansial keluarga. Adanya pemasukan baru dapat membuat keuangan kamu bertahan lebih lama jika harus berkurang di masa resesi. 

Kamu bisa mulai dengan bekerja part time, membuka bisnis kecil-kecilan, punya pendapatan pasif, dan hal yang lainnya. Cara ini sangat membantu untuk membangun benteng keuangan keluarga dan lebih bersiap dalam menghadapi perubahan ekonomi yang terjadi secara tiba-tiba. 

10. Tetap Tenang dan Berpikir Positif

Tak bisa dimungkiri bahwa resesi ekonomi sangat memicu kekhawatiran pada setiap orang. Namun, bukan berarti kamu harus stres dan berlarut-larut dalam ketakutan. Jangan panik dan hadapi dengan tenang. Berpikiran positif juga dapat membantu kamu memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. 

Ingat, resesi ekonomi tidak akan terjadi selamanya, tetapi hanya sementara waktu. Tapi kesehatan mental dan fisik kamu menjadi nomor satu yang harus dijaga sampai kapan pun. Percayalah, di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu pasti bisa menghadapi dan melewati masa resesi ekonomi yang mungkin akan terjadi. 

Itulah beberapa tip untuk menghadapi resesi ekonomi. Tetap kencangkan ikat pinggang, berkarya untuk mendapatkan penghasilan, dan tetap lakukan transaksi perbelanjaan kebutuhan primer untuk mendorong roda perekonomian bagi lapisan bawah. 

Semoga informasi di atas bermanfaat.