Surat Waris dan Perencanaannya untuk Ahli Waris, Penting!

Surat waris dan perencanaannya secara dini menjadi salah satu hal yang penting untuk masa depan. Hal ini terkadang memang menjadi hal yang tabu untuk dilakukan, mengingat perencanaannya sering kali dilakukan ketika orang masih hidup meski sudah memasuki usia senjanya. 

Perencanaan warisan sendiri merupakan proses pemindahan kekayaan atau aset kekayaan kepada seorang pewaris. Perencanaan waris ini dapat kamu susun sebelum yang bersangkutan (atau mungkin dirimu sendiri) meninggal dunia. Idealnya, perencanaan warisan dilakukan pada usia produktif sekitar 40-45 tahun, atau usia ketika seeorang sudah memiliki kestabilan finansial.

Melakukan perencanaan warisan sedini mungkin dapat meminimalkan kemungkinan jatuhnya kekayaan atau aset ke orang yang tidak tepat atau tidak memiliki hak. Selain itu, hal ini dapat membantu mengindari konflik yang nantinya mungkin terjadi ketika seseorang sudah tiada. Konflik yang terjadi ini misalnya seperti bisnis keluarga, bisnis bersama, atau kekayaan lainnya. 

Maka, adanya perencanaan waris dapat membantu sebuah keluarga dalam pengelolaan bisnis dan mengurangi risiko perbedaan persepsi antara ahli waris yang satu dengan yang lainnya.

Perencanaan warisan juga bisa dijadikan sebagai pelindung atau kepemilikan aset di masa depan. 

Surat Waris atau Hibah

Perencanaan warisan bisa dilakukan melalui surat waris atau wasiat dan hibah. Hibah sendiri merupakan harta dengan nilai tertentu yang diberikan kepada pihak lain, bisa ahli waris ataupun bukan ahli waris. Surat waris atau wasiat ini berupa nota yang isinya pernyataan mengenai apa yang akan terjadi setelah seseorang yang mewariskan meninggal. 

Suat waris atau wasiat ini yang akan menjadi bukti tertulis dari pelimpahan kekayaan setelah pembuat warisan meninggal. Biasanya surat wasiat akan ditulis di hadapan notaris dan saksi mata yang dipilih oleh pewaris. Saksi yang dipilih harus dikenal oleh seluruh keluarga agar menghindari konflik persoalan nantinya. Sebab itulah, sebaiknya mulailah merencanakan surat wasiat sedini mungkin, apalagi jika ada perubahan yang cukup besar dalam keluarga, seperti kematian atau kelahiran anggota baru di keluarga. 

Idealnya, mengecek surat wasiat kembali itu harus dilakukan 2 - 5 tahun sekali. Setelah ditulis, segera berikan informasi tersebut pada keluarga dan beri tahukan pula mengenai notaris yang menyimpan surat tersebut dan saksi yang tercantum di dalamnya. 

Sedangkan untuk surat hibah, harta yang kamu berikan sifatnya tidak dapat ditarik kembali dan bisa dijalankan saat orang yang memberikannya masih hidup dengan surat perjanjian secara resmi. 

Syarat dan Ketentuan Membuat Surat Waris

Surat waris atau wasiat tidak dapat dibuat sembarangan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Dibuat oleh orang dewasa laki-laki ataupun perempuan dengan batas minimal usia 21 tahun.
  • Pewasiat harus berakal sehat atau tidak berada di bawah pengaruh obat-obatan, di bawah tekanan, keraguan, pemaksaan, dan khilafan. 
  • Objek dijelaskan dengan tegas di surat wasiat, ditulis secara rinci dan detail dimulai dari deskripsi harta benda hingga hukum yang terkait dengan harta tersebut.
  • Pewasiat harus mengerti siapa saja pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembuatan surat wasiat, seperti notaris dan saksi-saksi hingga surat yang di tanda tangani. 
  • Pewasiat harus memahami hukum dan undang-undang, surat wasuat ditulis berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia atau menurut hukum agama. 
  • Surat wasiat yang dibuat tidak boleh memberatkan pewasiat maupun ahli waris. Pembagian harta yang dilakukan juga tidak boleh dibuat terlalu condong pada satu pihak, melainkan harus dibuat secara adil sesuai hukum yang berlaku.
  • Pencabutan wasiat dilakukan saat pewasiat masih hidup dengan surat pencabutan wasiat yang terbaca dengan jelas.

Tip Membuat Surat Waris 

Ada beberapa tip saat akan surat waris atau wasiat yang harus kamu perhatikan. Simak ya.

  • Pahami terlebih dahulu seluruh informasi kekayaan yang kamu miliki mulai dari aset, harta, nilai kekayaan, hingga pajak dari kekayaan tersebut. Pastikan kamu memiliki detail informasi tersebut, misalnya jika tanah atau properti kamu harus mengetahui spesifikasi, izin, alamat, dan batas-batas dari harta tersebut.
  • Jika ingin memberikan harta dalam bentuk saham atau obligasi, perhatikan detailnya mulai dari jumlah saham, tanggal transaksi, hingga nilai tingkat dividennya. Selain itu, kamu juga harus mengetahui informasi mengenai utang lainnya yang masih tertunggak. Sebab, utang juga menjadi salah satu yang bisa diwariskan. 
  • Perhatikan polis asuransi yang kamu miliki, mulai dari perusahaan, agen, alamat, tipe asuransi, hingga nilai pertanggungan. Informasi ini penting kamu ketahui untuk mencari tahu nilai tanggungan asuransi jiwa dalam melindungi kematian. 
  • Ketahui informasi calon ahli waris dengan jelas mulai dari data diri yang lengkap, nomor KTP, kewarganegaraan, hingga pekerjaannya.
  • Hitung jumlah biaya yang harus dikeluarkan saat mewariskan kekayaan tersebut kepada ahli waris, Untuk mengetahuinya, kamu bisa meminta jasa konsultan keuangan, notaris atau pengacara untuk mencari informasi mengenai hukum hingga surat wasiat yang sudah disusun sesuai dengan undang-undang yang berlaku. 

Tata Cara Menulis dan Membuat Surat Waris

Setelah surat wasiat ditulis oleh pewaris sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, maka pewaris harus menyerahkan surat wasiat dan membawa saksi ke notaris. Hal ini dilakukan agar surat tersebut terjaga keamanannya di bawah hukum yang berlaku di Indonesia. 

Jika surat wasiat bersifat rahasia, pewaris tidak perlu menunjukkan isi yang dibahas dalam surat pada notaris. Kamu hanya perlu menceritakan beberapa keterangan untuk membuat proses pembuatan akta penyimpanan saja. 

Perhatikan format dalam membuat surat wasiat yang baik dan benar. Perhatikan cara penulisannya. Apabila kamu tidak mengetahuinya, kamu bisa meminta bantuan notaris untuk melihat contoh atau format surat wasiat. 

Berdasarkan KUH Perdata, ada tiga jenis surat wasiat yaitu wasiat olografis, wasiat umum, dan wasiat rahasia. Wasiat olografis merupakan surat wasiat yang langsung ditulis dan ditandatangani oleh pemberi warisan yang diserahkan pada notaris. Wasiat umum merupakan tipe surat wasiat yang proses pembuatannya ditulis oleh seorang notaris. Sedangkan wasiat rahasia ditulis oleh pihak pemberi waris ataupun orang lain, surat ini harus disertai tanda tangan pemberi waris dengan cara penyerahan yang dilakukan dalam kondisi tertutup dan tersegel. 

Saksi Surat Waris

Saksi surat waris merupakan hal penting dalam legalnya surat yang dibuat pewaris. Saksi dibutuhkan untuk setiap jenis surat wasiat. Surat wasiat olografis dan umum memerlukan 2 orang saksi, sedangkan surat wasiat rahasia perlu 4 orang saksi. 

Selain itu, persetujuan pasangan menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan saat pembagian harta warisan. Apalagi jika harta yang dibagi terdapat harta bersama antara pihak suami dan istri. Selain itu, titipkan surat wasiat yang legal dan sah kepada notaris. 

Itu dia cara menyusun surat waris atau wasiat yang sah dan legal menurut aturan hukum di Indonesia. Perencanaan warisan sangat diperlukan untuk membuat kerukunan kerluarga dan menghindari salah paham yang dapat menyebabkan kerusuhan dan konflik setelah pewaris meninggal dunia.