7 Masalah Keuangan Rumah Tangga yang Bisa Memicu Perceraian

Masalah ekonomi alias keuangan rumah tangga menjadi masalah utama terbesar dan tertinggi yang memicu retaknya keluarga di Indonesia. Dan ternyata, angka ini semakin meninggi di saat pandemi.

Hmmm. Menarik ya?

Bukan, bukan maksudnya seneng karena angka perceraian tinggi. Tetapi, kenyataan bahwa masalah keuangan yang menjadi penyebab tertinggi perceraian ini menarik. Kenapa? Ya karena sahih lagi, bahwa uang itu memang akar dari banyak sekali (kalau nggak mau bilang, semua) masalah, tetapi sekaligus solusinya.

Menariknya lagi, masalah keuangan rumah tangga ini nggak hanya dialami oleh mereka yang berekonomi lemah saja, tetapi juga bagi yang berpenghasilan selangit pun tak lepas dari risiko ini hingga bikin runyam urusan rumah tangga.

Nah, kamu tahu enggak, kan yang namanya masalah keuangan itu macam-macam lagi. Lalu, masalah keuangan mana yang paling banyak dialami oleh keluarga sehingga memicu keretakan rumah tangga? Ada ternyata beberapa yang memang fatal banget, yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.

7 Hal yang Umumnya Menjadi Penyebab Terbanyak Masalah Keuangan Keluarga Hingga Memicu Keretakan

1. Main rahasia

Suami join klub olahraga tertentu, tiap bulan setor iuran yang nggak sedikit. Karena khawatir istri melarang, jadilah keanggotaan ini dirahasiakan. Istri belanja tas branded, sampai dibelain utang. Tentu saja, tidak sepengetahuan suami. Kekhawatirannya sama, takut dilarang.

Masalahnya, keduanya bayar pakai kartu kredit. Ketika tagihan datang ke rumah ... ouch! Jadi ketahuan kan? Sesuatu yang disembunyikan dari awal, lalu ketahuan, itu pasti endingnya rumit deh.

Masalah kayak gini sepertinya receh ya? Bahkan sering dijadikan bahan jokes di media-media sosial. Kapan hari juga viral di drama olshop, tentang bapak-bapak yang minta si pemilik online shop untuk memalsukan nota, demi “menyembunyikan” harga yang sebenarnya dari istri.

Ya, memang receh sih. Tapi jangan dianggap sepele. Jika yang seperti ini selalu terjadi, berarti ada sesuatu yang salah dalam hubungan suami istri. Lebih baik, duduk berdua dan segera berdiskusi tentang kondisi yang sebenarnya.

2.Ketika penghasilan istri lebih tinggi dari suami

Di sini biasanya, egolah yang berperan besar. Hal yang berlaku di Indonesia adalah suami sebagai kepala keluarga yang (seharusnya) bertanggung jawab penuh pada nafkah. 

Hal ini dipertegas dengan teori yang ada dalam buku Experience Human Development oleh Papalia dan Martorell, yang menyatakan bahwa di masyarakat kita--di seluruh dunia--ada perspektif yang disebut dengan gender roles pada kebanyakan budaya, yang membuat kita menjadi punya pandangan tertentu terhadap pembagian peran pasangan suami istri, yaitu perempuan itu tugasnya mengurus rumah tangga dan anak-anak, sedangkan suami mencari nafkah dan melindungi keluarga.

So, ketika istri punya karier yang lebih baik, bisa jadi suami merasa tersaingi. Egonya terluka. Apalagi kalau dirasa istri jadi tak punya waktu untuk mengurus rumah. Wah, biasanya sih ini jadi perkara yang sangat sensitif.

3. Suami dianggap tak mampu

Nah, poin kedua di atas ada kaitannya dengan penyebab masalah yang ketiga ini. Dan, lagi-lagi, kadang peer pressure-lah yang menyebabkan kondisi jadi lebih rumit.

Bukan berarti kalau istri bekerja mencari nafkah itu berarti suami tak becus juga kan? Tetapi, mungkin sedari awal keduanya memang sudah bekerja, bahkan sejak sebelum menikah.

Tetapi ketika istri akhirnya punya karier yang lebih baik, biasanya akan muncul anggapan bahwa suami kurang usaha. Padahal sebenarnya nggak mesti seperti itu juga kan?

Anggapan ini kadang akhirnya memengaruhi si suami. Yang tadinya sudah sepakat dengan istri mengenai pembagian peran dan segala hal terkait keuangan, jadi beneran merasa disepelekan. Pengaruh ini juga kadang sampai juga ke istri. Akhirnya, yang tadinya dengan ikhlas mencari nafkah, jadi berpikir negatif juga.

Memang perkara seperti ini bekerja layaknya efek domino. Satu memengaruhi yang lain, semakin besar dari hari ke hari.

4. Masalah utang

Utang juga menjadi salah satu penyebab sensitif, yang bisa membahayakan hubungan suami istri. Apalagi jika utang ini dirahasiakan satu sama lain, yang keputusannya hanya diambil sepihak tanpa berdiskusi dengan pasangan.

Bahkan utang yang diambil bersama, tanpa disertai rencana dan pertimbangan yang matang saja bisa memicu kesulitan di kemudian hari.

5. Ketika persepsi tak sejalan

Namanya juga dua kepribadian, jadi wajar saja bagi suami istri untuk punya opini dan perasaan masing-masing. Tapi, ini seharusnya bukan alasan untuk tidak mau duduk untuk mengobrol bersama kan? Komunikasi memang seharusnya jadi yang utama sih. Kalau hal ini nggak jalan, ya pantas saja persepsi akan terus berbeda dan jadi susah untuk saling memahami.

Misalnya, salah satu pasangan membelanjakan sebagian uang untuk kebutuhan tertentu, sedangkan pasangannya berpikir, barang yang dibeli ini kurang penting dan nggak prioritas. Alhasil, pasangannya dianggap boros. Padahal mungkin saja ada alasan kuat di balik keputusan belanja tersebut.

Karena komunikasi enggak jalan, jadi deh, konflik meruncing.

6. Generasi roti isi

Generasi milenial dikatakan sebagai generasi roti isi, atau sandwich generation, yang membuat kita jadi harus menanggung biaya hidup keluarga besar, di samping keluarga kecil kita sendiri.

Hal ini tak jarang juga memicu konflik rumah tangga. Misalnya, si suami masih harus menanggung biaya hidup orang tuanya, plus membiayai kuliah adiknya. Karena sebagian nafkah diberikan pada keluarga besar, keluarga kecil harus dikorbankan kebutuhannya. Atau bisa juga sebaliknya, si istri yang harus menanggung biaya hidup keluarga besarnya. Efeknya sama saja.

7. Tak siap menghadapi masa sulit

Tak jarang, kerumitan terjadi karena masing-masing pasangan tak ada yang siap untuk menghadapi masa sulit. Alhasil, dana darurat keluarga tak ada, asuransi nggak punya, boro-boro tabungan dan investasi.

Bisa dibilang, kalau hal ini muncul berarti memang sudah ada yang salah sejak awal. Ya bisa saja literasi keuangan masing-masing masih kurang, sehingga kesadaran untuk memiliki pengelolaan keuangan keluarga juga belum maksimal.

Itu dia 7 masalah keuangan rumah tangga yang bisa berakhir pada keretakan. Mungkin masih ada masalah lain yang bisa menjadi penyebab juga, karena masalah keuangan ini memang cukup kompleks.

Tentu artikel ini tidak bermaksud untuk menjustifikasi siapa pun. Namun, jika kamu menemui masalah-masalah di atas di keluargamu saat ini, ada baiknya kamu jangan mengabaikannya. Segera cari solusi dan ajak pasanganmu untuk berdiskusi.

Lebih baik hadapi sekarang, ketimbang menunggu bom waktunya bereaksi dan membawa efek yang lebih berat kan?