Keuangan Setelah Bercerai: Langkah untuk Penyehatan

Sepertinya nggak ada orang normal yang berniat untuk bercerai sejak awal ia menikah. Namun, kadang masalah memang tak bisa dihindari, pun tak bisa juga untuk dicari titik temunya. Di situlah biasanya keputusan untuk bercerai muncul. Mau nggak mau, ya harus dijalani. Meski melelahkan baik dari segi fisik maupun emosi, termasuk juga soal keuangan setelah bercerai harus segera dicari solusinya.

Seperti juga ketika menikah, setiap pasangan pengantin baru harus segera duduk berdua untuk menyatukan persepsi dan mencapai kompromi, setiap (mantan) pasangan juga harus segera berdamai dengan situasi, kembali menyatukan persepsi dan mencapai kompromi soal keuangan pasca perceraian. 

Seberapa pun mapannya pasangan sebelumnya, setelah bercerai, harta dan keuangan akan selalu menjadi topik yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Apalagi kalau salah satunya tidak bekerja, wah, harus segera dicari solusi terbaiknya. Terutama kalau sudah ada anak yang menjadi tambahan tanggungan. Pasti nggak mau kan, anak jadi terabaikan kebutuhannya, lantaran orang tua sibuk berseteru terus bahkan setelah ketok palu cerai?

Berikut beberapa dampak keuangan yang bisa dan umum terjadi setelah bercerai.

1.Hilangnya Pencari Nafkah

Ini terutama bagi istri yang tidak bekerja selama membina rumah tangga. Meskipun memang ada istri yang ikut mencari nafkah bagi keluarga, tetapi pada dasarnya--yang berlaku di negara kita ini--mencari nafkah adalah tugas utama suami sebagai kepala keluarga.

Setelah bercerai, suami pun tidak lagi wajib untuk memberikan nafkah bagi istri. Meski kadang ada kesepakatan untuk memberikan tunjangan hidup, tetapi biasanya tunjangan tersebut hanya diperuntukkan bagi kebutuhan hidup anak saja.

2.Hilangnya aset bersama

Saat sepasang laki-laki dan perempuan menikah, maka saat itu pula, harta atau aset yang didapatkan setelah pernikahan akan menjadi miliki berdua--kecuali ada perjanjian pranikah yang dibuat untuk mengatur hal tersebut sesuai kesepakatan.

Setelah bercerai, maka aset bersama itu harus dibagi, juga berdasarkan kesepakatan. Ini berarti aset tidak akan utuh kembali dimiliki oleh masing-masing pihak.

Tak jarang, hal ini menambah ruwet benang yang sudah kusut. Alhasil, seakan masalah jadi nggak pernah terselesaikan dengan baik.

3.Biaya masa depan anak jadi tak jelas

Terdengar klise, tetapi memang dalam setiap perceraian, anaklah yang menjadi korban yang paling dirugikan. Hilangnya kasih sayang salah satu orang tua sudah akan memberikan dampak psikologis yang besar, belum lagi jika ditambah ketidakjelasan masa depannya.

Jika selama masih dalam ikatan pernikahan, pasangan sudah membuat rencana pendidikan anak sedemikian rupa, bisa jadi setelah bercerai, tak ada satu pun yang mau mengambil alih kendali dana pendidikan ini karena sibuk saling menuding siapa yang lebih bertanggung jawab.

Itu baru 3 masalah yang muncul akibat perceraian. Karena setiap kondisi keluarga berbeda--yang berarti bisa memunculkan masalah yang berbeda pula--daftar dampak keuangan ini bisa saja bertambah panjang.

Kalau tidak segera dicari solusi dan titik temunya, bakalan nggak pernah selesai. So, ini dia beberapa hal yang bisa dilakukan oleh (mantan) pasangan suami istri demi memecahkan masalah keuangan setelah bercerai.

Langkah Penyehatan Keuangan Setelah Bercerai

1.Duduk bersama dan lupakan ego sejenak

Ketika pasangan suami istri dipersatukan dalam ikatan pernikahan, mereka harus mau duduk dan berdiskusi bersama untuk menyatukan persepsi akan masa depan yang akan dijalani bersama. Ketika akhirnya pasangan ini memutuskan bercerai, mereka juga harus mau untuk duduk bersama, berdiskusi dengan kepala dingin, mencapai kompromi untuk masa depan juga.

Hal ini bukan hal yang mudah, karena ego pasti akan sangat memuncak pada proses perceraian dibandingkan ketika baru saja menikah.

So, ini hanya tergantung pada pribadi masing-masing, tetapi coba lupakanlah ego yang membesar. Pikirkan kebutuhan anak, ini biasanya bisa jadi motivasi terbaik untuk bisa mencapai kesepakatan bersama.

2.Perhitungkan biaya perceraian

Proses untuk bercerai butuh waktu hingga berbulan-bulan, dan tidaklah murah. Apalagi kalau sampai butuh pengacara untuk membantu proses perceraian. Masih ditambah dengan biaya pengadilan, biaya ini itu, bisa jadi butuh berjuta-juta pengeluaran dalam beberapa bulan.

Perhitungkan semuanya dengan baik. Kalau tidak, keuangan bisa kacau. Tak hanya saat sedang dalam proses perceraian yang harus dipikirkan, masa depan pun harus tetap jadi pertimbangan loh.

3.Lakukan perhitungan aset bersama

Setelah menikah, harta atau aset yang dimiliki memang akan menjadi milik bersama, kecuali ada perjanjian pranikah yang mengatur. Karenanya, ini adalah perkara pertama yang harus diselesaikan lebih dulu, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Harta yang tidak termasuk dalam harta gana-gini adalah harta yang sudah dimiliki sebelum menikah, dan harta yang merupakan warisan atau hibah. Harta ini menjadi sepenuhnya hak milik masing-masing.

Di luar itu, harus didiskusikan bagaimana membagi seadil-adilnya. Paling mudah, jika asetnya berbentuk barang, baik berwujud maupun tak berwujud, maka segeralah cairkan dalam bentuk uang, yang akan mempermudah pembagiannya. Jika punya rekening bersama, segera tutup dan bagi juga sesuai porsinya.

Begitu juga dengan masalah utang. Cek posisi utang yang sekarang masih ada, dan putuskan pembagian tanggung jawab atas kewajiban pelunasannya.

4.Segera buat rencana untuk masa depan

Ini salah satu langkah yang harus segera dilakukan terutama oleh pihak perempuan--yang biasanya tidak bekerja ketika harus menikah.

Hilangnya nafkah dari (mantan) suami setelah bercerai biasanya akan menjadi masalah tersendiri. Setelah beberapa tahun tak bekerja, untuk kembali mencari uang tentu bukan hal yang mudah. Di sinilah tekanan muncul, dan bisa menjadi awal depresi bagi seorang perempuan pasca perceraian.

Yah, duduklah sejenak, dan buat rencana ke depan. Apa yang harus dilakukan? Apakah masih mungkin untuk melamar pekerjaan lagi? Atau, sebaiknya mulai mencari peluang bisnis sendiri saja? Ada banyak alternatif, memang, dan semua bisa diputuskan sesuai kondisi masing-masing.

Sesuaikan gaya hidup yang akan dijalani setiap hari. Turunkan standar, kalau perlu, demi penghematan dan pengendalian pengeluaran. Tenang, jika nanti ujian sudah terlewati dengan baik, semuanya bisa diraih kembali kok.

Memang bukan hal yang mudah. Tetapi, siapa pun harus segera bangkit. Karena hidup setelah bercerai akan lebih panjang dan lebih penting untuk dipikirkan. Betul?

Semangat ya.