Kredit Macet: Apa dan Bagaimana Cara Mencegah serta Mengatasinya

Kamu pasti sering mendengar istilah kredit macet, ya kan? Memang cukup familier sih, istilah ini. Apalagi sempat beberapa kali ada kasus kredit macet besar, melibatkan orang-orang penting dan kaya di negeri ini. Pasti makin sering deh dengar istilah ini ya kan?

Tapi, kamu tahu enggak sih, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kredit macet?

Kabar baiknya (atau kabar buruk ya?), kredit macet ternyata bukan hanya “milik” orang penting, kaya, ataupun pemilik bisnis saja. Kita-kita, rakyat jelata ini, juga bisa terlibat kasus kredit macet. 

Apa Itu Kredit Macet?

Kredit macet adalah kondisi ketika debitur--baik institusi, perusahaan, ataupun individu--tidak dapat membayar kembali pinjaman dananya secara tepat waktu. Kredit di sini bisa kredit apa pun, termasuk utang dengan kartu kredit.

Utang kartu kredit disebut sebagai kredit macet ketika pemegang kartu tidak membayar tagihan sejumlah minimal pembayaran yang ditentukan dalam jangka waktu 3 bulan.

Di bank sendiri, kredit macet ini disebut dengan Non-Performing Loan, ya kalau diterjemahkan secara harfiah sih berarti utang yang enggak perform, alias macet. NPL, atau Non-Performing Loan ini, menjadi salah satu indikator kesehatan bank loh. Kalau NPL-nya tinggi, maka bank tersebut bisa dinilai bermasalah. Makanya, bank sangat concern terhadap NPL ini; mereka selalu berusaha agar angka NPL bisa serendah mungkin.

Bank Indonesia sendiri memilik peraturan ketat demi mengelola risiko akibat kredit macet dari utang kartu kredit ini, yaitu di Peraturan Bank Indonesia No. 14/2/PBI/2012, yang menyebutkan bahwa:

  • Pemegang kartu kredit minimal harus berusia 21 tahun atau telah kawin, dan minimal sudah berusia 17 tahun atau telah kawin untuk kartu tambahan.
  • Pemegang kartu minimal berpenghasilan Rp3 juta per bulan.
  • Maksimal plafon kredit 3 kali penghasilan per bulan.
  • Berlaku pembatasan plafon dan jumlah kartu yang boleh dimiliki oleh calon pemegang kartu kredit dengan penghasilan kurang dari Rp10 juta per bulan.
  • Bunga kartu kredit maksimal 3% per bulan.

Efek Kredit Macet untuk Kita

Tak hanya bank yang akan bermasalah jika sampai terjadi kredit macet. Kita, sebagai debitur yang melakukan kredit macet juga akan tambah bermasalah lagi. Ketika kita terlibat dalam suatu kasus kredit macet, dan bank menemui kesulitan penagihan pada kita, maka bisa jadi nama kita akan dimasukkan ke dalam BI checking, yang berisi riwayat kredit kita yang bermasalah. 

Ketika kita hendak mengajukan kredit ke bank, secara otomatis pihak bank akan mengecek apakah ada nama kita dalam BI checking. Jika tidak ada, berarti kita sudah lolos proses shortlist kredit dari bank tahap pertama. Kalau nama kita ditemukan dalam sistem BI checking tersebut, maka besar kemungkinan pengajuan kredit kita akan ditolak--apa pun bentuk kreditnya.

Pihak bank tentu tak akan ambil risiko untuk memberikan pinjaman berisiko tinggi pada orang yang sudah pernah bermasalah dengan utang atau kredit sebelumnya. Logikanya sesederhana itu saja.
Dari pihak bank di mana kita meminjam dana juga pasti akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan kembali pembayaran pinjamannya dari kita. Bisa jadi, mereka akan mengirimkan debt collector agar dapat melakukan penagihan, jika memang debitur bandel.

Jadi, bagaimana caranya agar kita tak terlibat kredit macet?

Mari kita lanjut ke poin berikutnya.

Menghindari Kredit Macet

1.Ajukan kredit sesuai kemampuan

Kita mengajukan kredit atau utang karena kita tidak memiliki dana besar untuk tujuan tertentu. Karenanya, kita meminjam dari pihak lain, dalam hal ini bank.

Itu betul.

Namun, bukan berarti jumlahnya lantas semau-mau kita. Ingat, pada akhirnya nanti, kita wajib untuk mengembalikan dana yang dipinjam, sekaligus bunga, dan juga biaya-biaya yang dikeluarkan loh! Karena itu, perhitungkan juga dengan kebutuhan lain--yang tak kalah banyaknya itu. Mampu nggak kita nanti mencicil kembali pinjaman dananya, plus bunganya, plus juga biaya ini itunya, di samping harus memenuhi kebutuhan hidup yang lain?

Jika tidak sanggup, misalnya cicilan akan lebih besar daripada penghasilan, nah ... itu berarti kita sednag berusaha mengajukan kredit di luar kemampuan kita. Kalau hal ini nekat dilakukan, bisa akan jadi masalah besar di kemudian hari.

Pastikan cicilan kredit secara total tidak melebihi 30% dari penghasilan kita setiap bulannya.

2.Hindari utang konsumtif

Berutang memang merupakan hak setiap orang. Kebutuhannya pun berbeda-beda. Utang juga nggak melulu ‘jahat’. Ada banyak hal yang akhirnya bisa kita capai dengan jalan berutang.

Karena itu, pastikan tujuan berutang memang ada faedahnya. Berutanglah untuk barang-barang atau keperluan yang memang sangat penting, bukan sekadar buat gaya hidup apalagi cuma buat gengsi dan aktualisasi diri. Biar eksis, kita bisa melakukannya tanpa utang.

Utang konsumtif hanya akan membuatmu terlilit, tidak memberikan nilai tambah kembali pada dirimu sendiri, bahkan jadi masalah besar pada akhirnya.

3.Disiplin

Jika memang sudah berutang, maka pengembalian pinjaman menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya. Tanpa disiplin dan komitmen, rasanya sulit untuk bisa memenuhi tanggung jawab sebesar ini, bukan?

Cuma ya, namanya manusia. Kadang godaannya memang banyak. Berawal dari keengganan untuk membayar sekali saja, bisa jadi berulang dilakukan hingga kemudian kita jadi terlibat kesulitan karena tidak mengembalikan pinjaman.

Akibatnya, bunga menggembung, plus kita harus membayar denda yang juga tak sedikit, akhirnya membuat total penagihan jadi semakin melonjak. Kalau sudah membengkak, ya semakin sulitlah bagi kita untuk bisa membayar. Kemampuan cicilan kita semakin kecil, hingga akhirnya menjadi kredit macet.

Nah, sudah kebayang ya, bagaimana kredit macet ini dapat menyulitkan banyak pihak. Tak hanya bagi pihak pemberi pinjaman, tetapi juga kita sebagai peminjam dana. Maunya lari, tapi justru kesulitan yang lebih besarlah yang akan dihadapi.

Jangan tunggu sampai macet. Berani utang, berani bayar, disiplinlah membayar cicilan.