Ketika Bisnis Bangkrut, Apa yang Harus Dilakukan?

Kok bisa bisnis bangkrut? Ya, bisa saja. Rugi dan bangkrut adalah dua risiko yang mengintai setiap bisnis yang ada, meski nggak ada seorang pun yang mau bisnisnya merugi dan akhirnya bangkrut.

Apa Artinya Bangkrut?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bangkrut artinya:

menderita kerugian besar hingga jatuh (tentang perusahaan, toko, dan sebagainya); gulung tikar.
Nah, terus pasti sering juga mendengar kata ‘pailit’, ya kan? Apakah bangkrut sama artinya dengan pailit? Ternyata enggak loh! Pailit dan bangkrut itu dua hal yang berbeda.

Menurut UU No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang, bisnis dinyatakan pailit ketika debitur memiliki 2 kreditur atau lebih tetapi tidak dapat membayar utang hingga lunas pada waktunya dan masuk ke dalam tagihannya. Status pailit tidak serta merta bisa didapatkan begitu saja, tetapi harus ada pernyataan resmi oleh pengadilan niaga.

Jadi, mungkin bisa dibilang, pailit belum tentu bangkrut, tetapi bangkrut besar kemungkinan akan mengalami pailit juga. Bangkrut terjadi karena kondisi keuangan bisnis tak sehat, tetapi pailit bisa saja dialami oleh perusahaan dengan keuangan yang baik-baik saja.

Penyebab Bisnis Bangkrut

Bagaimana bisa sebuah bisnis bangkrut?

Jawabannya bisa bermacam-macam, tetapi umumnya bisnis bisa bangkrut dikarenakan oleh beberapa hal berikut.

Kesalahan Manajemen Keuangan

Hal paling fatal yang bisa terjadi adalah ketika pendapatan perusahaan jauh lebih kecil ketimbang pengeluarannya. Dengan kondisi arus kas yang negatif seperti ini, siapa saja pasti akan mengalami kebangkrutan.

Tapi, kesalahan manajemen ini justru yang paling banyak terjadi sih di sekitar kita. Karenanya, adalah penting bagi pemilik bisnis untuk lebih dulu punya laporan keuangan yang rapi, dan strategi bisnis yang jelas.

Indikasi kesalahan manajemen keuangan yang lain yang bisa terjadi dalam bisnis adalah banyaknya utang dan liabilitas yang harus dipenuhi, padahal pendapatan tidak seimbang. Kurangnya kapitalisasi dana juga bisa menjadi penyebab bisnis bangkrut. Operasional bisnis jelas tidak akan bisa dijalankan tanpa adanya modal yang memadai.

Kurang Adaptif

Yang terjadi akhir-akhir ini, banyak bisnis bangkrut lantaran tidak bisa beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat, akibat pandemi COVID-19 yang mendadak menyerang. Mereka yang bisa dengan segera mengubah strategi menyesuaikan kondisi pastinya akan survive. Namun, enggak semua bisnis bisa diubah strategi dan modelnya dengan cepat. Ada beberapa sektor yang nggak bisa dikonversi menjadi daring, ya kan?

Sementara butuh waktu untuk berproses, kerugian sudah terlanjur dirasakan. Semakin hari, akan semakin berat. Bisa jadi, sebelum bisnis benar-benar bisa dikonversi, sudah bangkrut duluan.

Manajemen Operasional yang Kurang Baik

Dalam bisnis, adalah penting bagi pemilik untuk menyerahkan operasionalnya pada orang-orang yang tepat serta dapat dipercaya. Namun, yang sering terjadi di lapangan, orang-orang berdedikasi ini cukup langka bisa ditemukan. Alhasil, kalau sampai operasional bisnis dipegang oleh orang yang salah atau kurang berkompeten, maka kelangsungan bisnis akan dipertaruhkan.

Kelangkaan bahan baku juga bisa menjadi salah satu penyebab bangkrutnya sebuah bisnis. Ketika pertama bisnis dijalankan, mungkin bahan baku ini belum jadi masalah besar. Namun, karena kurangnya manajemen pengelolaan dan pembaruan sumber bahan baku, maka seiring waktu bahan baku pun habis dan tidak dapat diganti dengan material lain.

Beberapa Kasus Bisnis Bangkrut yang Sempat Menjadi Buah Bibir

Pasti ingat ketika bisnis convenience store yang sudah beroperasi sejak 2009, 7-Eleven, harus bangkrut dan menutup 187 gerainya di Indonesia di tahun 2017. Padahal, 7-Eleven merupakan bisnis franchise convenience store pertama di Indonesia sebelum kemudian muncul franchise yang lain, yang sampai sekarang masih bertahan.

Ketidaksiapan 7-Eleven menghadapi serbuan kompetitor yang lebih agresif diduga menjadi salah satu penyebab kebangkrutan mereka. Selain itu, biaya operasional perusahaan yang terhitung sangat tinggi dan daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi beberapa penyebab lainnya.

Kodak juga merupakan salah satu contoh bisnis bangkrut yang cukup menyedihkan, setelah mereka berhasil menjadi nomor satu dalam penjualan brand kamera analog dan sempat memonopoli pasar. Terlambatnya inovasi diduga menjadi penyebab kebangkrutan merek alat fotografi dari Jepang ini. Mereka memilih bertahan pada strategi bisnis lama dan berharap bisa mempertahankan eksklusivitas kualitas produk klasik yang mereka jual. Namun, teknologi merangsek masuk. Orang tak mau lagi bersusah payah memasang negatif film dan mengoperasikan kamera analog, kecuali yang memang punya passion besar di bidang fotografi.

Dibangun di tahun 1892, Kodak harus mengakhiri bisnisnya di tahun 2012. Sungguh miris.

Beberapa Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Kebangkrutan Bisnis

Cari bantuan

Pemilik bisnis bisa jadi akan butuh bantuan untuk dapat menyelamatkan bisnisnya. Pilih mentor atau konsultan yang memiliki keahlian dan kompetensi yang sesuai, agar mampu memberikan saran-saran terbaik untuk mengatasi kebangkrutan.

Pilih mentor atau profesional yang memang berkompeten dalam melakukan restrukturisasi perusahaan dan meminimalkan risiko bangkrutnya bisnis serta meningkatkan kinerja operasional bisnis.

Kelola Utang

Jika utang adalah masalah terbesar penyebab bisnis bangkrut, maka segera buat rencana realistis untuk segera melunasinya.

Lakukan pengecekan menyeluruh terhadap aset yang dimiliki, dan pilih aset yang bisa dijual. Hasil penjualan aset dapat dimanfaatkan untuk membayar utang, menambah kas bisnis, ataupun dibelikan alat baru yang lebih bermanfaat untuk inovasi selanjutnya. 

Pemilik bisnis juga dapat meminta kreditur untuk memberikan restrukturisasi utang, jika memang kesulitan untuk membayarnya. Dengan sikap yang terbuka, tawarkan sikap berkompromi dan terimalah masukan-masukan dari mereka. Selanjutnya, ya berkomitmen untuk membayar utang dan kewajiban lain sampai benar-benar tuntas.

Pangkas Pengeluaran

Tinjau lagi manajemen keuangan bisnis yang sudah dilakukan. Cek di mana letak kesalahannya, dan coba susun langkah untuk mengendalikan pengeluaran bisnis secara lebih efektif lagi.

Pergunakan sumber daya yang masih tersisa semaksimal mungkin, untuk bertahan dalam operasional bisnis harian.

Cek juga aset yang masih tersisa. Rawatlah dengan baik, agar tetap bisa dipakai untuk operasional sehari-hari. Jika memang akhirnya bisnis harus ditutup, aset tersebut--terutama yang berupa mesin-mesin produksi--bisa disewakan pada orang lain sehingga bisa menghasilkan return. Siapa tahu kan, bisa dipakai lagi untuk modal membangun kembali bisnis yang sudah sempat sekarat.

Untuk aset nonbarang--seperti klien, vendor, karyawan, dan sumber daya lainnya--harus tetap di-maintain juga, agar tak sampai terputus komunikasinya. Siapa tahu, suatu saat nanti kita akan butuh mereka, ya kan? 

Enggak ada orang yang mau bisnisnya bangkrut. Tetapi, jika hal ini memang harus terjadi, ya enggak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain berupaya untuk bertahan dan kemudian mencoba lagi. Akan selalu ada jalan, di mana ada niat. Betul?

Kamu nggak sendirian. Ada banyak orang yang struggling hal yang sama saat ini, di situasi seperti ini. Yang penting, mari berusaha, agar efeknya tak terlalu parah menghantam kehidupan sehari-hari kita.