Carut Marut Asuransi: Waspadai Tanda Perusahaan Asuransi Bermasalah!

Pasti sudah dengar atau baca mengenai kasus perusahaan asuransi Jiwasraya, bukan?

Kasus tersebut sempat ramai diperbincangkan. Diketahui, perusahaan asuransi plat merah ini pertama kali mengumumkan gagal bayar di bulan Oktober 2018, dengan nilai nominal mencapai Rp802 miliar, untuk produknya yang bernama JS Saving Plan.

Namun, alih-alih berhasil diatasi, perkara gagal bayar Jiwasraya semakin membesar. Polis yang jatuh tempo sampai dengan akhir tahun 2019 tidak dapat dibayarkan pada nasabah. Pihak manajemen Jiwasraya sudah berjanji untuk mengusahakan pembayarannya, tetapi hanya Tuhan yang tahu kapan hal ini akan terealisasi.

Semakin ditelusuri, ternyata kondisi keuangan salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia ini sudah tak sehat sejak tahun 2006. Tercatat, defisit pertama kali terjadi di tahun tersebut sebesar Rp3.29 triliun.

Kok bisa?

Konon, hal ini terjadi karena kesalahan manajemen sehingga mengakibatkan jumlah aset perusahaan jauh di bawah jumlah kewajiban. Tahun 2008, defisit membengkak hingga mencapai Rp5.7 triliun. Angka ini dihasilkan dari audit internal, dan kalau dibandingkan dengan hasil aktuaris independen berada jauh di bawahnya. Perkiraan defisit yang dikemukakan oleh aktuaris independen adalah Rp8 - 10 triliun di tahun 2008 tersebut.

Hingga kemudian, skandal Jiwasraya mengarah pada praktik korupsi, dan akhirnya bergulir ke persidangan.

Carut Marut Dunia Bisnis Asuransi

One leads to another, tak hanya Jiwasraya saja yang pernah bermasalah dengan dana nasabah. Belakangan ada beberapa kasus perusahaan asuransi gagal bayar juga terjadi.

Salah satunya yang terbaru adalah kasus Kresna Life, yang harus mengalami gagal bayar untuk 2 produk asuransinya. Singkatnya, kasus ini sudah ditangani oleh OJK, dan OJK sudah memberikan sanksi Pembatasan Kegiatan Usaha terhadap Kresna Life yang dinilai telah melakukan pelanggaran.

Sampai dengan saat ini, kasus ini masih dalam proses penyelesaian. OJK tetap meminta pertanggungjawaban pihak manajemen Kresna hingga tuntas atas nama perjanjian dengan nasabah.
Kasus gagal bayar juga pernah terjadi pada Bakrie Life--yang bahkan nasib korban masih belum jelas hingga 11 tahun proses perkara sedangkan izin operasional Bakrie Life sudah dicabut. Tak lupa juga ada kasus Bumi Asih Jaya, serta Bumiputera 1912, yang keduanya juga berakar dari masalah yang sama: gagal bayar.

Risiko gagal bayar memang nyata. Risiko ini bisa jadi merupakan risiko terbesar yang bisa terjadi di dunia keuangan, utamanya dunia bisnis asuransi.

So, jika kamu memang saat ini sedang mempertimbangkan untuk membeli polis asuransi--apa pun kebutuhanmu--maka kamu patut untuk berhati-hati. Adalah penting buatmu untuk memastikan bahwa perusahaan asuransinya memang benar-benar sehat sebelum akhirnya kamu menyetorkan uang sejumlah premi yang sudah disepakati.

Inilah Tanda-Tanda Perusahaan Asuransi Bermasalah, Hati-Hati!

Iming-iming Premi (Jauh) Lebih Murah

Sesuatu yang “terlalu bagus” itu wajib diwaspadai. Ya, bukannya terus mesti curigaan atau apriori terhadap orang lain juga, tetapi waspada itu perlu. Karena sebenarnya kita itu punya sistem alarm yang akan mengingatkan kita ketika ada sesuatu yang “tidak normal” atau tidak seperti biasanya.
Premi yang murah memang menggiurkan. Sama seperti ketika kita melihat barang yang didiskon 90% di department store. Duh, berasa urgent harus dibeli, karena kapan lagi bisa dapat harga murah? Insting seperti ini juga akan terjadi pada kita, ketika ada orang (baca: agen) menawari asuransi dengan harga premi murah.

Nah, sampai di sini, seharusnya kita berhenti dulu. Premi murah seharusnya punya trade off lain. Apa nih trade off-nya? Biasanya harga premi ini ada kaitannya dengan besaran uang pertanggungan yang akan diberikan. Jika semuanya terlalu bagus tetapi terlihat (atau terasa) tidak wajar, well, ada baiknya kamu pikir ulang untuk membeli polisnya. Karena ini mungkin trik saja, supaya bisa closing.

Manfaat yang Muluk-Muluk

Seperti pada kasus Kresna Life, manfaat yang ditawarkan pada nasabahnya di tahun 2019 termasuk tinggi, jauh di atas rata-rata suku bunga deposito yang sering menjadi acuan rate. Seperti yang dirilis oleh CNBC Indonesia, Kresna Life menawarkan imbal hasil rata-rata 7.75% untuk tenor 3 bulan, dan 9% untuk tenor 24 bulan, dengan kelas premi Rp50 - 500 juta. Fixed rate. 

Untuk kelas premi Rp500 juta hingga Rp1 miliar, imbal hasil yang ditawarkan adlaah 8% untuk jangka waktu pembayaran 3 bulan, dan 9.25% untuk tenor 24 bulannya. Yang paling fantastis adalah untuk kelas premi di atas Rp2.5 miliar. Imbal hasilnya diperkirakan 9.75% untuk jangka waktu pembayaran premi 24 bulan.

Padahal suku bunga deposito di akhir tahun 2019 yang tertinggi yang ditawarkan oleh lembaga perbankan “hanyalah” 6.25%. Padahal untuk bisa meraih keuntungan yang cukup untuk melanjutkan bisnisnya, perusahaan asuransi harus bisa mendapatkan imbal lebih dari janji imbal yang dijanjikannya pada nasabah. Ini berarti perusahaan asuransi harus bisa mendapatkan hasil investasi lebih besar dari 9.75%, misalnya, agar bisa mendapatkan untung.

Nah, di sini kita mesti ingat, bahwa ada hukum high risk high return. Ketika hasil investasinya tak sesuai harapan, maka pihak asuransi harus tetap membayarkan imbal sebesar 9.75% dan menanggung kerugian yang diakibatkannya. Kinerja pengembangan hasil investasi yang tak sesuai harapan inilah yang kemudian mengakibatkan gagal bayar.

Identitas yang Tak Jelas

Setiap perusahaan asuransi yang terpercaya pasti memiliki identitas perusahaan yang jelas. Mulai dari punya website yang bekerja dengan normal, punya akun-akun media sosial yang aktif (dengan admin yang helpful), sampai punya alamat kantor yang jelas, juga dengan berbagai kontak yang bisa dimanfaatkan oleh nasabah untuk berkomunikasi dengan mereka.

Salah satu kedok paling umum terjadi pada penipuan adalah ketika para penipu itu menyamarkan alamat agar tidak didatangi oleh calon nasabah.

Adalah penting juga buat kamu untuk memastikan perusahan asuransi tersebut memiliki cabang yang luas, apalagi jika kamu memang sering bepergian keluar kota. Klaim yang diajukan di daerah di mana asuransi tersebut nggak punya cabang, maka biasanya juga sulit untuk dicairkan.

Klaim (diper)Sulit

Salah satu ciri yang juga mudah dilihat apakah perusahaan asuransi tersebut bermasalah atau tidak adalah mudah tidaknya proses pengajuan klaimnya.

Kamu bisa mencari informasi mengenai hal ini, dari berita-berita online, postingan-postingan di media sosial, atau dari mana pun kamu bisa mendapatkannya. Mungkin kamu punya kenalan yang sudah menjadi nasabah perusahaan asuransi terkait? Nah, bisa jadi sumber informasi tuh.

Jika sering ada kasus sulitnya klaim dicairkan, meskipun syarat-syarat sudah dipenuhi, maka saat itulah kamu sudah waspada. Bisa jadi, saat itu perusahaan tersebut sudah mengalami kesulitan keuangan, sehingga proses pencairan klaim dipersulit. Uang nasabah bisa jadi sudah habis untuk operasional. Akibatnya, perusahaan tidak bisa mengembalikan uang nasabah.

Berita-berita Miring dan Komentar-komentar Negatif

Komen mahabenar netijen kadang ada gunanya juga. Sering kali hal ini justru menolong kita terhindar dari jebakan atau kesulitan.

Coba perhatikan berita-berita yang beredar ataupun postingan-postingan di media sosial. Adakah yang bernada ‘miring’ ataupun komentar negatif terhadap produk asuransi terkait? Jika ada, coba telusuri beritanya. Dari situ, kamu akan bisa menyimpulkan, apakah perusahaan asuransi tersebut layak untuk membantumu mengelola risiko keuangan yang akan terjadi ke depannya.

Cek di website OJK, apakah perusahaan asuransi tersebut terdaftar? Jika seandainya ada masalah nantinya, setidaknya OJK akan dapat membantu untuk menyelesaikan, jika perusahaan asuransi tersebut sudah terdaftar di sana.

Yah, dunia finansial memang penuh dengan risiko. Pasalnya, yang namanya duit itu memang sensitif banget. So, semua kembali pada kita. Tetap waspada, keep informed dengan segala perkembangan yang terjadi.