5 Prinsip Pengelolaan Keuangan Keluarga: Ternyata Simpel!

Dalam hidup, kita pastinya punya kebutuhan ini itu yang harus dipenuhi, dan tak memungkiri bahwa kita butuh uang untuk memenuhinya. Apalagi jika saat ini, kita sudah berkeluarga--punya anak (yang nggak cuma satu). Karenanya, keterampilan untuk mengelola keuangan itu memang penting banget untuk dimiliki. Nggak mudah loh, untuk bisa mengatur keuangan keluarga. Ada yang enggak setuju?

Ya, karena seiring waktu, kebutuhan semakin banyak plus inflasi yang membuat uang rasanya makin kecil saja nilainya dari hari ke hari. Tanpa pengelolaan keuangan keluarga yang bijak, rasanya pasti akan sulit untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Boro-boro bisa menabung atau investasi. 

Yang ada--kalau nggak punya keterampilan pengelolaan keuangan yang baik--bisa jadi hamba utang. Parahnya, gesek kartu kredit setiap kali belanja groceries, yang kemudian cuma mampu bayar minimum payment setiap bulannya lantaran memang nggak ada uang.

Duh, kebayang beratnya hidup.

Jadi gimana dong? Ya, belajarlah mengelola keuangan keluarga dengan bijak. Caranya gimana? Banyak! Bisa ikut kelas-kelas keuangan, nonton video, dengerin podcast, sampai baca-baca. Tapi, dari sekian banyak bahan belajar untuk mengelola keuangan keluarga, sebenarnya cukup 5 prinsip ini saja yang harus selalu kamu ingat.

5 Prinsip Pengelolaan Keuangan Keluarga

1.Catatan keuangan itu penting

Memiliki habit finansial yang baik itu bisa jadi fondasi pengelolaan keuangan keluarga yang baik. Lalu, bagaimana caranya memiliki habit finansial ini? Mulailah dengan memiliki catatan keuangan harian.
Apa saja yang perlu ada dalam catatan keuangan ini? Di antaranya:

  • Penghasilan yang diperoleh dalam satu bulan, baik dari suami maupun istri--entah bagaimanapun cara pembagian perannya--semua harus dicatat.
  • Belanja sehari-hari, untuk kebutuhan apa pun dalam keluarga.
  • Catatan pos tabungan dan investasi, serta aset lainnya.
  • Bujet atau anggaran belanja untuk sebulan ke depan.

Kamu boleh membuat catatan keuangan ini sesuai kondisi keluarga, karena pasti masing-masing akan berbeda kebutuhannya. Tak ada yang salah dan benar untuk membuat catatan keuangan ini. Kamu juga bebas memilih medianya, mau pakai aplikasi smartphone yang dengan mudah diunduh, atau mau pakai Excell dan program sejenisnya, atau mau cara old school: ditulis di buku tulis. Yang mana saja, asal nyaman dan memudahkan.

Mengapa sih kita perlu membuat catatan keuangan keluarga ini, bahkan setiap hari? Ada beberapa manfaat yang bisa kamu dapatkan dengan menulis catatan ini, di antaranya:

  • Agar kita dapat mengetahui pola arus kas keuangan keluarga. Dengan demikian, kita akan lebih mudah menentukan anggaran belanja kita per bulannya.
  • Lebih mudah dalam mengendalikan pengeluaran--yang kurang penting bisa digeser prioritasnya diganti yang lebih penting.
  • Tahu dengan pasti kondisi kesehatan keuangan keluarga sendiri, kalau misalnya ada yang boncos, kita jadi lebih cepat tahu dan segera mencari solusi untuk mengatasinya.
  • Lebih mudah untuk menyusun rencana dan tujuan keuangan, bahkan yang paling panjang sekalipun.

Apa lagi ya? Kamu bisa menambahkan manfaatnya lagi, jika ada yang belum disebutkan. Banyak, pokoknya. So, segeralah membuat catatan ini ya.

2.Belanja terencana

Belanja, tanpa rencana, akan membuatmu nggak fokus pada kebutuhanmu yang penting. Yang ada, bisa jadi, barang-barang yang kamu beli malahan adalah barang-barang yang bersifat less priority. Yang penting malah nggak jadi kebeli.

Itu adalah akibat paling umum yang terjadi ketika kita belanja tanpa rencana. Pengeluaran uang jadi mubazir. Saat hal atau barang yang sangat penting (yang ketika belanja, terlupakan) benar-benar mau dipakai, bingung deh, karena enggak ada uang lagi.

Itu baru satu hal yang bisa terjadi. Banyak hal lain yang bisa terjadi, ketika kita belanja tanpa terencana. Dan, sebaiknya hal ini dihindari jika kamu pengin keuangan keluarga aman.

Karena itu, buatlah anggaran belanja--buatlah rencana pengeluaran uang dalam beberapa waktu ke depan. Misalnya, sebulan ke depan, atau mungkin seminggu ke depan. Dengan adanya anggaran, kita jadi punya pengendali akan pembelanjaan kita. Jadi ingat terus, bahwa banyak hal atau barang yang lebih penting yang harus dibeli. Uang pun bisa dipakai secara efektif dan efisien.

3.Kewajiban dan investasi di depan

Pada dasarnya, uang itu tidak akan pernah bersisa. Jadi, agar kamu tetap bisa menabung dan berinvestasi, lakukanlah di depan. Buatlah pos khusus pengeluaran untuk investasi di awal bulan, atau ketika keluargaamu baru saja menerima penghasilan.

Begitu juga dengan asuransi. Jika sudah dipotong langsung oleh kantor tempat kamu bekerja, ya itu akan lebih bagus. Jika tidak, ya jangan sampai lupa membayar iurannya agar kamu dan keluargamu tak sampai putus memperoleh manfaatnya.

Kewajiban lain juga harus kamu prioritasnya, misalnya membayar pajak-pajak, tagihan-tagihan, dan iuran-iuran penting lainnya.

4.Keinginan vs kebutuhan

Satu prinsip terpenting yang harus selalu diingat dalam hal pengelolaan keuangan--termasuk keuangan keluarga--adalah kebijakanmu dalam memilah mana yang merupakan keinginan dan mana yang termasuk kebutuhan (yang diprioritaskan).

Tanpa adanya kemampuan untuk memilah, mustahil rasanya kamu bisa mengelola keuangan keluarga dengan baik. Karena yang namanya keinginan ini, bisa banget “menyamar” menjadi kebutuhan, dan bisa terlihat seolah-olah penting banget, urgent banget, mumpung, dan berbagai jenis “keterdesakan” lainnya.

Padahal ya kalau dipikir-pikir, hal-hal yang selintas terdesak itu juga nggak penting-penting amat; bisa digantikan oleh hal lain yang kualitasnya sama dan bisa kita lakukan tanpa harus mengeluarkan uang ekstra, misalnya.

Yes, butuh kesadaran dan kebijakan memang, untuk bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan ini.

5.Dana darurat

Dana darurat akan menjadi hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Jangan sampai enggak punya dana darurat, yang akan menjadi jaring pengamanmu ketika berada dalam kondisi darurat atau terdesak.

Misalnya seperti apa? Genteng bocor, mesin cuci rusak, butuh ganti kulkas, ban mobil pecah di jalan, dan berbagai hal tak terencana, yang harus segera diatasi dan butuh uang untuk mengatasinya. Percayalah, kebutuhan mendesak seperti ini akan selalu ada dalam kehidupan keluarga.

Buatlah rekening khusus untuk dana darurat, yang terpisah dari rekening operasional harian. Misalnya, kamu buat di tabungan khusus, Reksa Dana Pasar Uang, atau bahkan bisa juga dalam bentuk emas. Tapi, perhatikan likuiditasnya ya. Karena sifatnya untuk darurat, maka pastikan kamu bisa mencairkannya menjadi uang tunai dengan cepat.

Berapa jumlah ideal dana darurat untuk keuangan keluarga? Tergantung jumlah anggota keluarga, dan juga kondisinya. Sebagai acuan, kamu bisa memakai proporsi standar setiap orang butuh 3 bulan pengeluaran rutin sebagai dana daruratnya. Jadi, misalnya kamu dan pasangan kamu belum punya anak, maka dana darurat paling ideal adalah 6 kali pengeluaran rutin. Dengan anak satu, berarti minimal 9 bulan pengeluaran rutin. Dengan anak dua, paling tidak ada 12 bulan pengeluaran rutin sebagai dana darurat.

Sekali lagi, sesuaikan dengan kondisimu ya. Setiap orang bisa saja berbeda dalam alokasinya, dan nggak ada yang salah dan benar dalam hal pengelolaan keuangan ini. Hanya efektif dan kurang efektif.

Nah, sebenarnya memang simpel kan prinsip pengelolaan keuangan keluarga ini? Hampir sama dengan mengelola keuangan saat kita masih lajang. Kalau memang sebelumnya sudah memiliki habit finansial yang baik, tentunya enggak akan berat sih kalau lantas harus mengurus keuangan keluarga.