Pengantin Baru, Atur Keuangan Kalian dengan Trik Berikut!

Sebagai pengantin baru, kalian sekarang pasti lagi bahagia-bahagianya. Bayangannya pasti habis ini live happily ever after deh.

Well, bayangan itu nggak salah sama sekali, kalau kalian bisa segera bangun dari euforia pesta pernikahan dan segera menyusun langkah untuk hidup bersama ke depannya. Jangan terlalu lama honeymoon, sampai-sampai lupa ada banyak hal yang harus dicapai berdua, agar kualitas hidup meningkat seiring usia pernikahan yang juga bertambah nanti.

Duh, baru juga bahagia, udah disuruh mikir berat lagi.

Ya, nggak gitu juga sih. Tapi memang itulah yang akan dihadapi nantinya dalam rumah tangga. Masalah semakin kompleks, bahkan dengan hadirnya orang lain. Dengan memasuki dunia berumah tangga seperti ini, berarti kita sebenarnya naik level ke tingkat lanjut dalam hidup. Bakalan banyak ujian loh.

Jadi, apa yang harus dilakukan pertama kali? Banyak sih, tapi kamu bisa mulai dari menyamakan persepsi soal keuangan dulu. Karena duit adalah hal yang sensitif, dan kamu serta pasanganmu harus sepaham dulu soal keuangan ini. Kalau ada perbedaan persepsi atau mindset sih wajar, karena bagaimanapun kalian adalah dua pribadi yang berbeda. Tetapi, hal ini harus dikompromikan sejak awal, agar nantinya bisa saling memahami dan akhirnya bisa saling menempatkan diri demi kemaslahatan bersama.

Trik Mengatur Keuangan Pengantin Baru

1.Buka diskusi dan saling terbuka

Yuk, segera luangkan waktu di sela-sela honeymoon untuk diskusi soal keuangan keluarga ke depannya. Justru di tengah-tengah honeymoon dan status pengantin baru ini adalah waktu yang pas buat ngobrolin duit, karena masing-masing masih dipenuhi hormon kebahagiaan, jadi apa-apa yang diomongin bisa jadi topik yang asyik.

Seharusnya, masalah keuangan masing-masing pasangan pengantin baru ini justru sudah dibicarakan sejak pernikahan belum berlangsung. Kamu seharusnya sudah tahu kebiasaan keuangan pasanganmu, demikian pula sebaliknya. Kasarnya, kamu seharusnya sudah tahu sebelumnya kalau misalnya pasanganmu boros, atau hobi berutang. Kebiasaan buruk datang sepaket bersama orang yang kamu cintai. Jadi, mau nggak mau, “cintailah” juga kebiasaan buruknya.

Tetapi yang sering terjadi memang, setelah menikah, baru bener-bener kelihatan deh karakter aslinya. Nah, di saat inilah kalian harus mengobrol dan menyamakan persepsi serta mindset.

Tak pernah ada kata terlambat untu berdiskusi kok. Obrolkan saja apa yang ada di pikiran; ide-ide, masalah-masalah, dan beberapa opsi pilihan solusi.

2.Tentukan pola manajemen keuangan keluarga

Ada beberapa pola manajemen keuangan keluarga yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri:

  • Suami dan istri menggabungkan penghasilan, jika keduanya sama-sama bekerja, dan kemudian dikelola bersama untuk kebutuhan bersama.
  • Penghasilan suami 100% untuk kebutuhan keluarga, jika istri juga berpenghasilan, maka penghasilannya menjadi milik pribadi.
  • Suami dan istri berbagi tugas, misalnya suami bertugas membayar asuransi, cicilan besar, dan tagihan-tagihan, sedangkan istri bertugas pengadaan kebutuhan hidup rumah tangga sehari-hari.
  • Suami beri jatah uang belanja pada istri, sisanya dikelola untuk kebutuhan pribadi dan kebutuhan keluarga.

Itu adalah pola manajemen keuangan bagi suami dan istri yang sama-sama bekerja. Untuk pasangan suami istri yang salah satunya tidak bekerja, maka penghasilan akan berasal dari satu pintu. Kalau begini, tentu butuh kompromi yang sama mendalamnya agar rumah tangga terselenggara dengan baik, dan sang pencari nafkah juga bisa mendapatkan penghasilan dengan lancar.

Tidak ada yang salah dan benar dalam hal ini. Pun, satu keluarga bisa saja memiliki cara pengelolaan yang berbeda dengan keluarga yang lainnya. Semua sangat personal, dan tergantung kondisi masing-masing. Karenanya, tak perlu membandingkan kondisi keluarga sendiri dengan keluarga lain. Struggle-nya pasti berbeda, karena permasalahannya juga berbeda.

3.Rumuskan tujuan keuangan keluarga

Sesegera mungkin menentukan tujuan keuangan keluarga. Ada beberapa tujuan yang harus segera dirumuskan sejak awal masa pernikahan dijalani, di antaranya:

  • Dana darurat, yaitu dana yang akan menjadi jaring pengaman ketika berada dalam kondisi darurat. Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa hidup akan baik-baik saja, lempeng-lempeng terus ke depannya. Akan ada saatnya, kita harus mengeluarkan uang lebih ekstra demi survive. Hal-hal kecil di luar rencana yang tiba-tiba terjadi juga bisa berarti kondisi darurat; ban mobil meletus, genteng bocor, kulkas rusak, dan sebagainya, bisa terjadi dalam satu hari. Bagi pengantin baru, belum punya anak, besarnya 6 bulan pengeluaran rutin. Ditambah satu anak, besarnya ditambah per 3 bulan pengeluaran rutin setiap anaknya. Iya, memang besar, tetapi dana darurat ini tak harus kamu penuhi secara langsung juga. Buat sistem menabung, dengan mengambil proporsi sesuai jatah investasi.
  • Rumah atau tempat tinggal lainnya, jika sekarang kamu belum ada. Setelah berkeluarga sendiri, pastinya kamu juga harus mandiri. Salah satu caranya adalah dengan hidup terpisah dari orangtua/mertua. Pastinya akan lebih leluasa untuk kamu, apalagi jika nanti sudah ditambah dengan hadirnya anak-anak. Dengan demikian, dana rumah pertama seharusnya juga menjadi prioritas tujuan keuanganmu. Diskusikan dengan pasangan soal pembiayaannya. Ada banyak opsi yang bisa dipilih, mulai dari cash keras, pinjaman lunak (ke kantor, misalnya, jika ada fasilitas dari kantor), hingga KPR.
  • Sebagian besar pengantin baru akan langsung memprogramkan untuk memiliki momongan. Karenanya, biaya hidup anak, termasuk pendidikannya, harus menjadi tujuan finansial berikutnya yang harus direncanakan. Dana pendidikan juga salah satu masalah keuangan yang terbesar dan akan harus kita lalui hampir selama hidup. So, semakin cepat dibuat rencananya, akan semakin baik, beban investasi juga akan semakin ringan.
  • Dana Pensiun, karena kalian pasti maunya growing old together, ya kan? Mau menua seperti apa dan di mana, nah, itu dia masalahnya. Jangan menua tanpa rencana, jangan juga menggantungkan diri pada “belas kasihan” anak-anak kalian kelak. Jadilah pensiunan mandiri, yang mampu menjalani masa pensiun berdua yang indah. Tanpa rencana keuangan yang realistis dan komprehensif, sepertinya hal ini mustahil dilakukan.

4.Segera buat anggaran dan rencana step by step yang realistis

Duh, baru juga nikah, PR sudah bejibun.

Ya, lebih baik PR sudah mulai direncanakan sekarang ketimbang terlambat--meskipun, terlambat juga lebih baik daripada enggak sama sekali. Nggak perlu bingung karena baru juga bahagia sebagai pengantin baru, sudah disuruh mikir berat. Justru dengan dipikirkan sekarang, ke depannya akan lebih ringan bagimu dan pasanganmu untuk menjalani.

So, buat anggaran yuk! Kamu bisa mulai dari membuat anggaran untuk hidup sehari-hari dulu bulan depan dan lakukan berdua. Setelah itu, buat anggaran untuk masing-masing tujuan keuangan besar yang sudah kamu rumuskan seperti pada poin 3 di atas.

Tak harus selesai dan terpecahkan solusinya sekaligus dalam satu waktu kok. Kamu boleh menyusun bertahap. Yang penting, harus nyaman dijalani berdua.

5.Tetap terbuka dan evaluasi terus

Seiring berjalannya waktu, sudah pasti akan ada halangan di sana-sini. Yang penting, tetap jalin komunikasi berdua dan selalu terbuka. Sekali saja ada main rahasia, tujuan dan rencana pasti akan terganggu.

Evaluasi di setiap tahapan yang berhasil dilalui. Catat apa yang perlu diperbaiki, dan lanjutkan yang sudah baik. Akan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menemukan ritme yang pas. Bahkan pola manajemen yang sudah dibahas seperti di poin no. 1 di atas pun bisa juga berubah karena menyesuaikan kondisi. Adaptiflah terhadap perubahan, yang penting baik dan nyaman dilakukan.

Nah, selamat menempuh hidup baru ya! Pernikahan bukan sebuah ending, seperti di dongeng-dongeng, justru merupakan awal akan perjalanan yang sangat berbeda. Lancar atau tidak, mulus atau tidak, hanya kita juga yang menentukan. 

Bon voyage!