Tip Memilih KPR yang Sesuai dengan Kemampuan dan Kebutuhan Kita

KPR--atau Kredit Pemilikan Rumah--adalah salah satu solusi pembiayaan membeli rumah yang banyak dipilih oleh masyarakat agar dapat mewujudkan mimpi mereka untuk memiliki rumah idaman. Bisa jadi, ini adalah hal perutangan yang paling rumit dan merupakan transaksi terbesar yang pernah kita lakukan sepanjang hidup, ya kan? Karenanya, kamu akan butuh beberapa tip memilih KPR yang paling pas dengan kebutuhanmu, mengingat pilihannya ada banyak banget.

Tahukah kamu, bahwa hampir 70% transaksi properti--utamanya rumah--di Indonesia ini dilakukan secara kredit? Yes, karenanya produk perbankan ini cukup laris. Dan, sesuai hukum supply dan demand yang berlaku dalam perekonomian, pihak bank pun “menjawab” kebutuhan masyarakat ini dengan mengeluarkan berbagai program kredit dengan fasilitas berbeda dan semua menawarkan banyak hal yang menguntungkan.

Sebagai “customer”, alias nasabah, kita memang bebas memilih produk mana yang hendak kita manfaatkan. Tetapi, karena saking banyaknya, kadang ya malah jadi bingung. Gimana ya caranya mengevaluasi semua penawaran yang ada dan akhirnya bisa memilih yang paling pas?

Memilih rumahnya saja sudah merupakan kepelikan tersendiri, masih ditambah memilih KPRnya. Yah, begitulah. Memang kalau maunya yang terbaik, maka harus siap dengan effort yang lebih ekstra. No pain, no gain.

Nah, coba deh, simak artikel ini sampai selesai. Semoga bisa membantumu untuk menentukan pilihan.

Tip Memilih KPR yang Paling Pas dengan Kebutuhan kita

Bandingkan Produk

Pertama, do your homework untuk mengumpulkan informasi selengkap-lengkapnya mengenai KPR, dan bank mana saja yang punya produknya. Bisa berupa brosur, atau informasi digital.

Cek dari masing-masing produk KPR yang ditawarkan, berapa besarnya angsuran atau cicilan. Lihat, mana yang cicilannya ditawarkan paling rendah. Biasanya masing-masing bank sudah menyediakan simulasi berupa tabel atau kalkulator, jika kamu mencari informasi digitalnya. Cek dengan jumlah pinjaman yang sama, tenor yang kurang lebih sama, berapa jumlah cicilan yang harus dibayarkan setiap bulannya.

Cek Semua Syarat dan Ketentuan

Sama seperti pengajuan produk keuangan yang lain, pihak penyedia KPR biasanya juga meminta syarat-syarat tertentu dan juga ada ketentuan yang harus kita ikuti.

Penuhi semua syaratnya hingga lengkap. Terkadang, penolakan bisa terjadi ketika kita mengajukan KPR, dan setelah dilihat lagi ternyata ada syarat-syarat yang terlewatkan atau tidak bisa kita penuhi. Padahal, bank tidak punya kewajiban untuk menjelaskan, mengapa pengajuan KPR kita ditolak. Jadi bingung kan?

Makanya, cermati dan pelajari semua syarat dan ketentuannya, lalu lengkapi. Salah satu ketentuan yang harus diperhatikan adalah waktu pelunasan. Setiap bank atau penyedia KPR punya kebijakan khusus soal pelunasan KPR yang lebih cepat. Coba cek, berapa besar penalti yang dibebankan, jika kita hendak melunasinya lebih cepat dari waktu yang disepakati.

Siapa tahu, ada rezeki nomplok ya kan? Jadi, bisa lunas lebih cepat.

Cek juga biaya-biaya yang menyertai, misalnya biaya administrasi, biaya notaris dan penilai, akta-akta, premi asuransi (jika ada), dan lain sebagainya. Biaya-biaya ini kalau diakumulasikan nggak sedikit loh. Jadi, pertimbangkan juga sesuai keuanganmu. Biasanya, pihak bank akan minta semua biaya ini dilunasi dulu sebelum akad kredit disepakati.

Awas Jebakan Suku Bunga

Jangan membandingkan produk dari suku bunganya. Banyak penyedia KPR yang akan menawarkan bunga rendah, tetapi coba dicek lagi, pasti cicilannya nggak murah. Dengan demikian, kalau dihitung-hitung, jatuhnya kredit jadi jauh lebih besar.

Jadi, kamu harus cermat di bagian ini.

Pelajari dan pahami cara kerja bunga KPR. Ada 2 jenis bunga yang diterapkan dalam kredit ini:

  • Bunga tetap (fixed), yaitu suku bunga yang nilainya tetap pada nominal tertentu selama berjalannya tenor.
  • Bunga mengambang (floating), yaitu suku bunga yang nilainya berubah mengikuti acuan suku bunga Bank Indonesia.

Perlu kamu perhatikan, bahwa kredit dengan bunga fixed yang kecil dan tenor pendek, bukan berarti cicilannya akan murah. Kadang bunga memang ditawarkan rendah dan fixed di awal, sehingga menarik calon nasabah. Setelah beberapa waktu berjalan, bunga akan berubah menjadi floating, mengikuti acuan suku bunga BI.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah memilih KPR yang menawarkan bunga fixed di awal periode yang lebih panjang, sehingga kamu akan dapat “menikmati” bunga rendah yang lebih lama. Tapi, cermati juga apa yang menjadi trading off-nya. Mungkin cicilannya akan lebih besar sedikit.

Pertimbangkan setiap plus dan minus dengan saksama, sehingga kamu bisa memilih yang terbaik.

Tak selamanya, bunga floating itu memberatkan juga. Saat suku bunga acuan BI turun, maka bunga yang dibebankan KPR juga turun. Hanya saja, memang bisa ada kebijakan berbeda dari setiap penyedia KPR. Kadang, kalau suku bunga BI turun, maka yang bisa menikmati penurunan suku bunga ini adalah nasabah baru. Nasabah lama tetap dikenakan suku bunga lama.

Karenanya, penting untukmu mencermati perjanjian kredit dengan teliti. Lihat berbagai ketentuan terkait suku bunga ini. Biasanya, memang di bagian inilah yang paling rumit dan “menjebak”.
Salah satu cara untuk mengatasi perubahan suku bunga fixed ke floating ini adalah dengan mengajukan take over kredit ke bank lain, yang memberikan bunga fixed untuk sekian tahun awal. Pertimbangkan cara ini, jika memang floating rate cicilan membuat kamu berat dalam membayar cicilan.

Alternatif lain untuk mengatasi perubahan suku bunga ini adalah dengan mengambil KPR Syariah. KPR Syariah menerapkan sistem bagi hasil, bukan bunga, sehingga bunga yang dibebankan akan bersifat tetap atau fixed.

Lakukan Simulasi Cicilan

Simulasi cicilan ini penting untuk dilakukan, agar kita bisa tahu secara riil kemampuan finansial kita untuk membayar cicilan KPR sampai lunas.

Ingat, besaran kredit harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan keuangan kita. Ketika kita sudah melakukan simulasi, maka akan ketemu angka nominal yang akan kita bayarkan setiap bulan untuk membayar cicilan. Apakah nominal tersebut masih dalam angka aman rasio utang pribadi kita?

Rasio utang pribadi yang ideal adalah 30% dari penghasilan rutin bulanan. Cek dulu, apakah saat ini kamu punya beban cicilan utang yang lain? Utang kartu kredit, utang KTA, pinjaman online, utang apa pun? Jika ya, akumulasikan semuanya, dan kemudian cek, apakah masih dalam batas aman 30%?
Kalau belum ditambah dengan KPR saja sudah sama dengan atau melebihi 30%, hmmm ... ada baiknya kamu ulik ulang keuanganmu deh. Sebelum ambil KPR, barangkali ada yang bisa dilunasi dulu. Tekan rasio utang ini semaksimal mungkin sebelum akhirnya memilih KPR.

Jangan sampai KPR menambah beban keuanganmu sehari-hari.

Cek pengembang rumah

Ada baiknya, ketika memilih KPR, kamu memilih bank yang sudah berekenan dengan pihak pengembang rumahmu. Ini bisa dilakukan kalau kamu membeli rumah di area perumahan atau permukiman yang dikembangkan oleh perusahaan properti tertentu.

Kalau pihak developer atau pengembang ini sudah punya rekanan bank, biasanya pengajuan KPR akan lebih mudah.

Cek kredibilitas pengembang. Ini penting untuk memastikan rumah yang kamu incar memang aman, secara struktur ataupun dari masalah sengketa. 

Demikianlah sedikit tip memilih KPR yang sesuai dengan keuangan dan kebutuhan kita. Semoga dengan mengevaluasi poin-poin di atas, memilih KPR bukan lagi hal yag terlalu rumit, dan kamu bisa segera mewujudkan impianmu untuk punya rumah sendiri.