5 Sumber Passive Income yang Bisa Kamu Bangun Mulai Sekarang

Bebas finansial pastinya menjadi cita-cita sebagian besar orang, kalau enggak bisa bilang semua. Kebebasan untuk menentukan keputusan keuangan, tanpa dibayangi perasaan waswas kalau-kalau dana habis, atau terlintas pikiran bakalan kekurangan, itu sangat membuat nyaman. Tetapi, untuk bisa mencapai kebebasan ini, kamu butuh tambahan penghasilan lain, selain penghasilan yang kamu dapatkan dari bekerja. Yes, dari passive income.

Tapi sebelum membahas tentang passive income ini lebih jauh, kita perlu menyamakan persepsi dulu. Kebanyakan orang, ketika mendengar istilah ‘passive income’, berpikir bahwa pendapatan pasif ini adalah pendapatan yang datang dengan sendirinya, tanpa dibarengi usaha atau kerja sama sekali. Sambil rebahan, duit begitu saja datang menghampiri.

Nah, ini adalah mindset yang sangat salah. That’s not how it works.

Passive income bukan berarti kita punya pohon duit yang tinggal metikin aja. Well, nanem pohon juga butuh kerja keras kan. Butuh waktu dan proses. Begitu juga dengan passive income, juga butuh usaha dan tentu saja juga modal. Dalam prosesnya pun, kita juga perlu melakukan sesuatu. Nggak cuma rebahan doang.

Kalau kamu sering mendengar kata-kata motivator yang pengin mendorongmu untuk berinvestasi dengan kata-kata, “Uang bekerja bagi Anda, selagi Anda tidur!” atau yang semacamnya, well ... dengan berat hati diberitahukan, bahwa hal tersebut hiperbola semata. Untuk investasi saham pun, kita perlu usaha. Kita bahkan perlu untuk merasakan rugi juga, kita perlu belajar keras. Modalnya pun banyak.

Jadi, begitulah. Tak pernah ada makan siang gratis, termasuk passive income. Untuk membangun passive income, kamu tetap harus berusaha. Dan, berdoa.

Ada banyak cara untuk mendapatkan passive income. Yang berikut kita bahas mungkin hanya beberapa di antaranya saja. Tetapi, dari sini cukuplah buat kamu terinspirasi dan mulai bergerak serta berusaha.

5 Sumber Passive Income

1.Sewa properti

Sewa properti bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk mendapatkan passive income. Properti ini bisa berupa rumah, apartemen, rukan, ruko, bahkan sebidang tanah, terutama jika lokasinya sangat strategis--di pusat kota, dekat dengan pusat perbelanjaan, perkantoran, atau pusat bisnis.

Dengan menyewakan properti yang kamu punya, kamu bisa mendapatkan penghasilan secara teratur dan periodik, sesuai dengan kesepakatan, antara setiap bulan, setiap 6 bulan, sampai dalam hitungan tahun.

Fasilitas-fasilitas seperti ini selalu dibutuhkan, dan setiap tahunnya jumlah kebutuhan akan meningkat. Jika kamu memang memutuskan dan memilih sewa propert ini sebagai salah satu cara kamu untuk mendapatkan passive income, maka kamu perlu memperhatikan beberapa hal terlebih dahulu.

  • Dengan menyewakan properti, kamu akan mendapatkan uang sewa sebagai hasil keuntungannya, bisa setiap bulan, per 6 bulan, 1 tahun, 3 tahun, dan bisa lebih lama lagi, dengan jumlah yang disepakati.
  • Selama bangunan masih baik dan layak dihuni, penghasilan ini akan terus ada, karena itu, pemeliharaan menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan. Biaya pemeliharaan properti tidaklah sedikit. Hal ini juga berkaitan langsung dengan harga sewa yang bisa kamu tentukan nanti.
  • Untuk menyewakan properti, tentu saja kamu harus memilikinya lebih dulu. Untuk itu, kamu akan butuh modal yang juga tak kecil. Rencanakanlah hal ini secara matang, dan mulailah membangun aset ini lebih dini, mengingat waktu adalah satu-satunya “teman”.
  • Ingat juga akan adanya pajak, termasuk di dalamnya adalah pajak bumi dan bangunan serta pajak ekonomis, jika properti disewakan sebagai kos. 
  • Ada biaya utilitas juga, seperti air dan listrik, yang harus diperhitungkan. Masukkan biaya-biaya ini ke dalam perjanjian kontrak jika perlu, siapa yang akan menanggungnya. Jika kita sebagai pemilik properti yang bertanggung jawab, pastikan sudah termasuk dalam biaya sewa.
  • Karena sumber passive income kamu berasal dari penyewa, maka--mau nggak mau--kamu harus membuat para penyewa betah, dan memperpanjang kontrak mereka secara kontinu. Jika tidak, maka kamu juga harus siap ketika properti kamu berada dalam masa henti sewa, sehingga kamu pun harus punya dana darurat untuk menutup biaya-biaya pemeliharaan yang terjadi.

2.Investasi surat berharga

Investasi surat berharga juga bisa menjadi salah satu sumber passive income yang cukup efektif, jika kamu bisa mengoleksi beberapa jenis dan instrumen sekaligus. Banyak pilihannya, mulai dari obligasi, reksa dana, saham, dan sebagainya.

Dengan mengoleksi berbagai instrumen surat berharga ini, kamu berkesempatan untuk mendapatkan imbal setiap tahun, dengan angka di kisaran 6% hingga 12%.

Ada beberapa hal yang juga harus kamu pertimbangkan, jika kamu memilih surat berharga menjadi salah satu cara mendapatkan passive income.

  • Pahami risikonya. Masing-masing jenis surat berharga memiliki tingkat risiko sendiri-sendiri, yang harus kamu sesuaikan dengan profil risikomu sendiri. Beberapa instrumen risikonya memang sangat tinggi, sehingga kamu perlu punya strategi khusus untuk mengelolanya. Misalnya kalau kamu tertarik untuk punya saham atau mau investasi derivatif. Pantau terus portofoliomu, update terus kondisi pasar.
  • Pahami cara kerjanya, bagaimana memanfaatkannya semaksimal mungkin.
  • Tentukan porsinya. Kamu bisa saja memiliki semua instrumen surat berharga yang ada, tetapi kamu bisa memaksimalkan manfaatnya jika porsinya bisa tepat sesuai dengan rencana dan tujuan keuanganmu.
  • Dengan memiliki surat berharga, kamu berkesempatan untuk mendapatkan imbal yang lumayan setiap tahunnya, yang berasal dari capital gain, kupon/bunga, sampai dividen yang dibagikan oleh perusahaan yang sahamnya kamu miliki.
  • Perhatikan rasio likuiditasnya, apalagi jika kamu berniat untuk menikmati hasilnya setiap tahun. Perhitungkan agar kamu nggak sampai menggerogoti modalnya.
  • Surat berharga juga bisa menjadi harta waris, yang kemudian bisa kamu atur agar dikelola oleh keluargamu kelak.
  • Untuk instrumen tertentu--misalnya seperti reksa dana--kamu enggak butuh modal banyak untuk mulai, dengan Rp100.000 saja kamu sudah bisa jalan. Untuk instrumen yang lain--misalnya obligasi atau saham--mungkin kamu akan butuh modal sedikit lebih banyak, tergantung pada ketentuan obligasi atau harga saham perusahaan per lembarnya. Kamu bisa memanfaatkan instrumen satu dengan yang lainnya, untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

3.Bunga deposito

Bunga deposito juga menjadi salah satu sumber passive income yang menjanjikan sekaligus risikonya cukup minim. Hal ini dikarenakan deposito merupakan produk perbankan, sehingga akan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sampai dengan nominal Rp2 miliar.

Mari kita lihat apa saja yang perlu dipersiapkan.

  • Setiap bank memiliki kebijakan berbeda mengenai produk deposito yang dimilikinya. So, carilah informasi yang lengkap dulu mengenai produk ini sebelum akhirnya memilih deposito mana yang akan kamu manfaatkan.
  • Ada beberapa jenis deposito yang dapat dipilih, berikut tenor dan bunga yang beragam. Kamu bisa membandingkan satu dengan yang lainnya dulu sebelum memutuskan. Pastikan saja bunganya harus lebih besar daripada inflasi.
  • Kamu bisa mulai dengan modal yang tak terlalu besar di deposito. Tapi ya lebih besar dari Rp100.000 yang ditetapkan oleh reksa dana pada umumnya sih.
  • Ada bunga 20% untuk deposito dengan nominal di atas Rp7.5 juta, jadi perhitungkan hal ini jika kamu memang ingin memanfaatkannya sebagai passive income.
  • Dana deposito tidak bisa kamu cairkan jika belum sampai di jatuh temponya. Pastikan bunga deposito ditransfer setiap bulannya ke rekening kamu sehingga kamu pun memiliki pemasukan yang pasti. Selain itu, pastikan dana tetap aman di tempatnya sampai jatuh tempo tiba, karena kalau dicairkan sebelum jatuh tempo, kamu bisa kena penalti.

4.Royalti akan penjualan hak kekayaan intelektual

Jika kamu memang memiliki talenta khusus di bidang tertentu sehingga dapat menghasilkan karya tertentu, maka kamu bisa menjual hak guna kekayaan ini dan mendapatkan royalti.

Beberapa karya yang bisa kamu hasilkan untuk mendapatkan royalti ini misalnya:

  • Buku, baik buku fisik maupun ebook
  • Lagu
  • Foto, yang dijual di situs stok foto
  • Aplikasi, yang bisa didownload secara berbayar di smartphone
  • Desain; desain website, misalnya. Yang kalau butuh, orang akan mau beli.

Tahukah kamu, Taylor Swift bisa mengumpulkan royalti lagunya hanya dari Spotify sejumlah yang setara dengan Rp3 triliun setiap bulannya?

Yes. Wow!

Tapi, tentu saja, kamu tidak harus seperti Taytay kok. Mendapatkan passive income seper sejutanya saja setiap bulan juga sudah lumayan banget. Lalu, apa yang harus dipersiapkan?

  • Tentu saja, karyanya. Akan butuh ekstra kerja keras untuk bisa menghasilkan buku, lagu, foto, aplikasi, juga desain yang dibutuhkan dan kemudian bisa dipergunakan oleh orang lain. Karena itu, take your time untuk membuatnya. Memang butuh keahlian, tetapi jika memang kamu memilikinya, segera saja manfaatkan.
  • Bekerja samalah dengan pihak yang tepat. Untuk buku fisik, barangkali kamu akan butuh bekerja sama dengan penerbit. Untuk ebook, juga sama, setidaknya jika kamu pengin bukumu bisa nongol di Google Play Book, misalnya. Untuk lagu, kamu mungkin butuh aplikasi seperti Spotify untuk menjadi medianya. Demikian pula dengan foto; situs-situs penyedia stok foto seperti Shutterstock atau Getty Images bisa jadi pilihan. Desain--misalnya desain website--juga sama, kamu butuh situs-situs seperti Themeforest, Dribbble, dan sejenisnya untuk bisa dimanfaatkan.
  • Tak berhenti bekerja sama dengan pihak yang tepat, kamu sendiri juga mesti gencar jualan supaya ada yang mau membelinya. Juga mengupdatenya sesuai perkembangan zaman, terutama untuk aplikasi dan desain website.
  • Rajin-rajinlah juga membuat karya baru, sesuai permintaan dan tren.

5.Menjadi mitra bisnis pasif

Menjadi mitra bisnis pasif juga bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan passive income. Kamu bisa menawarkan diri untuk menjadi pemodal alias investor pada bisnis-bisnis prospektif yang sesuai dengan minatmu. Tentu saja, calon partner bisnis kamu ini harus menyiapkan proposal yang lengkap agar kamu bisa mempertimbangkannya dengan saksama.

Apa yang harus disiapkan?

  • Modal, tentu saja. Besarnya relatif, tergantung bisnis apa yang hendak kamu sasar. Kalau bisnis kecil dan rumahan, bisa saja tak terlalu besar. Tapi akan butuh modal yang cukup besar jika memang skala bisnisnya juga besar.
  • Pastikan kamu memang benar-benar percaya pada (calon) partner bisnis aktif ini. Risikonya akan sangat tinggi, jika kamu tidak benar-benar memercayainya, apalagi tidak kenal secara langsung ataupun dekat.
  • Passive income yang kamu dapatkan adalah dari keuntungan atau laba bisnis yang didapatkan. So, pastikan hal ini jelas sejak diskusi awal dan ditulis juga secara jelas dalam perjanjian penanaman modal.
  • Hukum akan selalu diperlukan, seberapa pun dekatnya kamu dengan (calon) partner bisnis kamu. So, pastikan kamu punya kekuatan dan bekal hukum, just in case ada masalah nantinya. Setidaknya, kamu punya seseorang yang mengerti hukum untuk membantu.
  • Tetap awasi jalannya bisnis, meski statusmu adalah partner bisnis pasif yang tidak terlibat langsung dalam operasionalnya. Hal ini penting agar kamu bisa melihat perkembangannya. Jika memang tidak sesuai dengan harapan, kamu pun segera tahu harus bagaimana.

Nah, sekiranya sudah cukup lengkap nih ulasan mengenai passive income kali ini. Bagaimana? Kamu sudah memutuskan? See? Nggak ada hasil yang didapat dari sekadar rebahan atau tidur kan? Kamu harus bekerja keras juga untuk mendapatkan passive income. Tapi yakin deh, hasilnya akan sangat sepadan, jika memang sudah sukses kamu bangun nantinya.

Selamat bekerja!